Riwayat Perkedel

Perkedèl asalnya dari Prancis. Mereka menyebutnya fricandeau. Zaman Napolèon, fricandeau masuk ke Belanda. Orang Belanda menyebutnya fricadel. Orang Belanda memang dikenal miskin seni kuliner dibanding Prancis.
Nah oleh Belanda fricadel dibawa ke Nusantara.
Di Eropa fricandeau atau fricadel ini terbuat dari kentang yang dihaluskan. Dicampur gilingan daging sapi, babi atau ikan.
Mungkin karena daging barang mewah, orang pribumi Nusantara tak punya uang buat beli daging. Cukup hanya kentang saja yang diaduk dengan telor tambah merica. Lidah urang Sunda mengucap fricadel jadi perkedèl. Orang Jawa nyebutnya bergedèl. Tahun 1920-an muncul perkedèl tempe, tahu dan jagung.(silakan baca buku Rijstaffel karya Fadly Rahman)
Eh..tempe dan tahu itu dari Cina ya.. Jadi perkedel tempe dan tahu itu simbol bhineka tunggal rasa. Bandung adalah salah satu kota bersejarah tempat bercampurnya seni kuliner dunia. Eh di Bandung ada juga perkedèl bondon. Ada warung nasi 24 jam. Para bondon (julukan PSK malam-malam makan di situ. Yang paling disukai ya perkedèl. Makanya dijuluki perkedèl bondon). [Budhiana Kartawijaya]

Advertisements

Ayo ke Sekolah!

Anak-anak dengan gembira pergi ke sekolah. Tapi, masih banyak anak-anak kita yang tak mampu sekolah, sekalipun sekolah itu gratis. Tapi jarak tempuh dan ongkosnya mereka tak punya. Jadi apakah mereka tak punya masa depan? Sekali lagi, keterbelakangan, kemiskinan bukan soal tak bisa makan, tapi soal kesempatan dan akses. [Budhiana Kartawijaya]

Algoritma Digital

Di dunia internet ini, kalau kita suka jengkol maka algoritma digital akan memberikan informasi dan link-link enaknya jengkol. Di messenger akan ada grup-grup pencinta jengkol. Follower jengkol lovers akan terus bertambah dan bertambah, dan memberikan info kesakralan jengkol.
Kalau kita benci jengkol, maka algoritma digital akan memberikan informasi dan link-link tentang jahatnya jengkol. Di messenger akan ada grup-grup pembenci jengkol. Followers jengkol haters akan bertambah dan bertambah dan memberikan info kebahayaan jengkol.
Ini perangkap digital algorhitm.
Ini era post truth…
Ini era pembenaran,…

[Budhiana Kartawijaya]