What we learned from 5 million books

Ladies and gentlemen, a picture is not worth a thousand words. We found some pictures that are worth 500 billion words.” (Erez Lieberman Aiden)

Erez Lieberman Aiden: Semua orang tahu sebuah gambar mengandung seribu kata. Tapi kami di Harvard ingin tahu apakah itu memang benar. (Suara tawa) Jadi kami mengumpulkan tim ahli, mulai dari Harvard, MIT, The American Heritage Dictionary, The Encyclopedia Britannica hingga sponsor kami, Google. Kami memikirkan hal ini selama empat tahun. Kami sampai pada kesimpulan yang mengejutkan. Hadirin yang terhormat, sebuah gambar tidak mengandung seribu kata. Bahkan, kami menemukan beberapa gambar yang mengandung 500 miliar kata.

Jean-Baptiste Michel: Bagaimana kami bisa sampai pada kesimpulan ini? Saya dan Erez berpikir tentang cara mendapatkan gambaran besar budaya manusia dan sejarah manusia: berubah seiring waktu. Ada banyak buku yang telah ditulis selama bertahun-tahun ini. Jadi kami berpikir, cara terbaik untuk belajar adalah dengan membaca semua jutaan buku ini. Tentu saja, kalau ada ukuran seberapa keren hal ini, rankingnya pasti sangat tinggi. Masalahnya ada sumbu-X untuk itu, yaitu sumbu kepraktisan, yang sangat-sangat rendah.

Orang-orang cenderung menggunakan pendekatan alternatif, mengambil beberapa buku dan membacanya dengan teliti. Ini sangat praktis tapi tidak keren. Yang ingin kita lakukan adalah masuk ke sisi yang keren tapi juga praktis. Ternyata ada sebuah perusahaan di seberang sungai yang bernama Google yang memulai proyek digitalisasinya beberapa tahun lalu yang mungkin bisa mewujudkan pendekatan ini. Mereka mendigitalkan jutaan buku. Jadi artinya, seseorang bisa menggunakan metode komputasional untuk membaca semua buku dengan satu klik. Itu sangat praktis dan mengagumkan.

ELA: Mari kita bahas sedikit dari mana asal buku-buku itu. Sejak dulu, selalu ada yang namanya penulis. Penulis-penulis ini berjuang menulis buku. Ini menjadi jauh lebih mudah ketika mesin cetak muncul beberapa abad yang lalu. Sejak itu, penulis telah melalui dalam 129 juta kesempatan berbeda untuk menerbitkan buku. Kalau buku-buku itu tidak hilang ditelan waktu, kemungkinan mereka ada di perpustakaan, dan ada banyak buku itu yang diambil dari perpustakaan dan didigitalkan oleh Google, yang telah memindai 15 juta buku sampai hari ini.

Saat Google mendigitalkan buku, mereka memasukkannya ke dalam format yang rapi. Kita sekarang punya data dan juga metadatanya. Kita punya informasi seperti di mana buku itu diterbitkan, siapa penulisnya, kapan diterbitkan. Yang kita lakukan adalah menelusuri catatan-catatan itu dan mengecualikan semua yang kualitas datanya tidak baik. Akhirnya yang tersisa adalah sekumpulan buku sebanyak lima juta, 500 miliar kata, serangkaian karakter yang seribu kali lebih panjang daripada genom manusia — teks yang jika dituliskan panjangnya adalah jarak dari sini ke Bulan dan kembali 10 kali — potongan penting genom budaya kita. Tentu saja itu yang kami lakukan ketika dihadapkan dengan hiperbola semacam itu … (Suara tawa) sama seperti yang akan dilakukan oleh peneliti sejati mana pun. Kami ambil satu halaman dari XKCD, dan berkata, “Minggir. Kami akan menggunakan ilmu pengetahuan.”

JM: Tentu saja, kami berpikir, mari pertama-tama kita gelar data ini di luar sana agar orang-orang bisa menerapkan ilmu pengetahuan sendiri. Kami berpikir, apakah data ini boleh kami buka? Tentu saja kita ingin mengambil semua buku itu dan membuka seluruh teks dari lima juta buku ini. Google, dan terutama Jon Orwant, memberi tahu kami hitungan yang harus kami ketahui. Jadi ada lima juta buku, itu artinya lima juta penulis dan lima juta pengacara dengan setumpuk tuntutan. Jadi meskipun itu akan sangat keren, kembali, itu sangat tidak praktis. (Suara tawa)

Sekali lagi, kami terjebak, dan kami mengambil pendekatan yang sangat praktis, yang kurang keren. Kami berkata, ketimbang membuka seluruh teks, kami akan membuka statistik tentang buku-buku itu saja. Jadi misalnya “A gleam of happiness.” Terdiri dari empat kata; kita menyebutnya empat-gram. Kami akan memberitahu berapa kali empat-gram tertentu muncul dalam buku di tahun 1801, 1802, 1803, sampai 2008. Itu akan menghasilkan rangkaian waktu seberapa sering frasa tertentu ini digunakan dalam periode tertentu. Kami melakukan itu pada semua kata dan frasa yang muncul dalam buku-buku itu, dan itu menghasilkan segepok dua miliar baris yang menunjukkan bagaimana budaya berubah.

ELA: Jadi dua miliar baris itu, kami menyebutkan dua miliar n-gram. Apa yang ditunjukkan? Masing-masing n-gram menunjukkan perkembangan tren budaya. Mari saya perlihatkan contohnya. Misalkan kata “thriving” dalam Bahasa Inggris kalau saya ingin menggunakan bentuk lampau kata itu. Saya mungkin menggunakan, “throve.” Selain itu saya juga bisa menggunakan, “thrived.” Mana yang harus saya gunakan? Bagaimana kita bisa tahu?

Sekitar enam bulan lalu, cara terbaik dalam bidang ini yang bisa kita lakukan, misalnya, mengunjungi psikolog dengan rambut indah ini, dan berkata, “Steve, Anda ahli dalam kata kerja tidak beraturan. Apa yang harus saya gunakan?” Dia akan menjawab, “Kebanyakan orang menggunakan “thrived”, tapi ada beberapa yang mengatakan “throve.” Kurang lebih Anda pasti tahu kalau kita kembali ke masa 200 tahun lalu dan bertanya ke pejabat yang juga punya rambut indah ini, (Suara tawa) “Tom, apa yang harus saya gunakan?” Dia akan menjawab, “Yang saya tahu, kebanyakan orang menggunakan ‘throve’, tapi ada beberapa yang mengatakan ‘thrived”. Yang akan saya tunjukkan hanyalah data mentah. Dua baris dari tabel berisi dua miliar catatan ini. Yang Anda lihat adalah frekuensi tahun demi tahun kata “thrived” dan “throve”. Ini baru dua dari dua miliar baris. Jadi keseluruhan data yang ada miliaran kali lebih keren dari ini.

JM: Ada banyak gambar yang bernilai lebih dari 500 miliar kata. Yang ini misalnya. Kalau kita gunakan kata “influenza”, bisa kita lihat puncaknya di saat epidemi flu membunuh orang-orang dunia.

ELA: Kalau Anda belum yakin bahwa tingkat permukaan laut meningkat, begitu juga dengan CO2 di atmosfer dan suhu global.

JM: Anda mungkin juga ingin melihat n-gram yang ini, dan ini untuk memberitahu Nietzsche bahwa Tuhan belum mati, meski Anda mungkin setuju yang dia butuhkan sebenarnya penerbit yang lebih baik.

ELA: Anda bisa mendapatkan konsep yang sangat abstrak dengan ini. Misalnya, mari saya ceritakan sejarah dari tahun 1950. Seperti kebanyakan periode dalam sejarah, tidak ada yang peduli dengan tahun 1950. Di tahun 1700, 1800, 1900, tidak ada yang peduli. Sepanjang tahun 30-an dan 40-an, tidak ada yang peduli. Tiba-tiba, di pertengahan tahun 40-an, mulai ramai. Orang-orang sadar bahwa tahun 1950 akan segera tiba, dan bisa jadi sesuatu yang besar. (Suara tawa) Tapi puncak ketertarikan orang-orang akan tahun 1950 adalah di tahun 1950. (Suara tawa) Orang-orang semua terobsesi. Mereka tidak bisa berhenti bicara tentang hal-hal yang mereka lakukan di tahun 1950, semua yang akan mereka lakukan di tahun 1950, semua mimpi yang ingin mereka capai di tahun 1950. Bahkan, tahun 1950 begitu menariknya hingga beberapa tahun kemudian, orang-orang masih terus berbicara tentang hal-hal yang terjadi, di tahun 1951, 1952, 1953. Akhirnya di tahun 1954, seseorang bangun dan menyadari bahwa tahun 1950 sudah lewat. (Suara tawa) Seperti itu saja, gelembungnya pun meledak.

Cerita tentang tahun 1950 adalah cerita tahunan yang kita catat, dengan sedikit variasi karena sekarang kita punya grafik yang keren ini. Karena kita punya grafik keren ini, kita bisa mengukur. Kita bisa berkata, “Seberapa cepat gelembung ini meledak?” Ternyata kita bisa mengukurnya dengan sangat tepat. Menghasilkan persamaan, menciptakan grafik, dan hasil bersihnya adalah kita menemukan gelembung ini meledak semakin cepat setiap tahunnya. Kita kehilangan minat terhadap masa lalu dengan lebih cepat.

JM: Sedikit nasihat karir. Bagi Anda yang ingin menjadi terkenal, kita bisa belajar dari 25 tokoh politik yang paling terkenal, penulis, aktor, dan sebagainya. Kalau Anda ingin cepat terkenal, Anda harus menjadi aktor, karena ketenaran mulai naik di akhir usia 20-an — Anda masih muda, benar-benar bagus. Kalau Anda mau menunggu, Anda harus menjadi penulis, karena Anda bisa naik sangat tinggi, seperti Mark Twain, misalnya: sangat terkenal. Tapi kalau Anda ingin mencapai puncak, Anda harus mau menunggu lebih lama dan, tentu saja, menjadi politikus. Di sini Anda akan menjadi terkenal di akhir usia 50-an, dan menjadi sangat terkenal sesudahnya. Ilmuwan juga cenderung menjadi terkenal di usia tua. Misalnya, ahli biologi dan fisika cenderung hampir sama terkenalnya dengan aktor. Yang tidak boleh Anda lakukan adalah menjadi ahli matematika. (Suara tawa) Kalau Anda melakukan itu, Anda mungkin berpikir, “Baiklah. Saya akan menghasilkan karya terbaik di usia 20-an.” Tapi coba tebak, tidak ada yang peduli.

ELA: Ada catatan yang lebih serius tentang n-gram. Misalnya, inilah lintasan Marc Chagall, seniman yang lahir di tahun 1887. Ini tampak seperti lintasan normal orang terkenal. Dia menjadi semakin terkenal, kecuali kalau Anda melihat dalam data bahasa Jerman. Dalam bahasa Jerman, ada sesuatu yang sangat aneh, sesuatu yang jarang Anda lihat, dia menjadi sangat terkenal dan tiba-tiba anjlok, mencapai titik dasar antara 1933 dan 1945, sebelum naik lagi setelahnya. Tentu saja, yang kita lihat adalah kenyataan bahwa Marc Chagall adalah artis Yahudi di negara Nazi Jerman.

Sinyal ini sangat kuat kita tidak perlu tahu bahwa seseorang disensor. Kita bisa melihatnya menggunakan pengolahan sinyal yang paling dasar. Inilah cara sederhana untuk melakukannya. Harapan yang masuk akal seseorang terkenal dalam periode waktu tertentu seharusnya kurang lebih sama dengan ketenaran mereka sebelum dan sesudahnya. Jadi itulah yang kita harapkan. Kita membandingkan itu dengan ketenaran yang kita amati. Kita cukup membagi satu hal dengan yang lainnya untuk mendapatkan apa yang kita sebut indeks tekanan. Kalau indeks tekanan sangat kecil, kemungkinan Anda sedang ditekan. Kalau sangat besar, mungkin Anda diuntungkan oleh propaganda.

JM: Anda bisa melihat distribusi indeks tekanan di seluruh populasi. Misalnya, di sini — indeks tekanan untuk 5000 orang dipilih dalam buku bahasa Inggris yang diketahui tidak ada tekanan — akan seperti ini, intinya berpusat pada satu titik. Yang Anda harapkan adalah yang Anda lihat. Ini distribusi seperti yang tampak di Jerman — sangat berbeda, bergeser ke kiri. Orang-orang membicarakannya dua kali lebih sedikit dari yang seharusnya. Tapi yang jauh lebih penting, distribusinya sangat lebar. Ada banyak orang yang akhirnya ada di pojok kiri distribusi ini yang berbicara sekitar 10 kali lebih sedikit dari yang seharusnya. Tapi ada banyak juga orang di pojok kanan yang diuntungkan oleh propaganda ini. Gambar ini adalah rekaman penyensoran dalam sejarah buku.

ELA: Jadi kulturomika itulah sebutan untuk metode ini. Seperti genomika. Hanya saja genomika menggunakan kacamata biologi melalui jendela rangkaian basa dalam genom manusia. Kulturomika hampir mirip. Ini adalah aplikasi analisis pengumpulan data skala besar untuk penelitian budaya manusia. Di sini, alih-alih melalui kacamata genom, kami melalui kacamata potongan digital catatan sejarah. Yang menarik tentang kulturomika ini semua orang bisa melakukannya. Mengapa semua orang bisa melakukannya? Semua orang bisa melakukannya berkat tiga orang ini, Jon Orwant, Matt Gray, dan Will Brockman di Google, melihat prototip Ngram Viewer, dan berkata, “Ini asyik. Kita harus membuatnya untuk umum.” Jadi tepat dalam dua minggu – sebelum makalah kami terbit — mereka membuat versi Ngram Viewer untuk khalayak umum. Jadi Anda bisa mengetikkan kata atau frasa yang menarik minat Anda dan langsung melihat n-gramnya — juga menelusuri contoh-contoh berbagai buku yang memuat n-gram Anda tadi.

JM: Perangkat ini digunakan lebih dari satu juta kali dalam hari pertama, dan ini yang terbaik dari semua permintaan yang ada. orang-orang selalu ingin melakukan yang terbaik. Tapi ternyata di abad ke-18, orang-orang tidak peduli dengan hal itu. Mereka tidak ingin melakukan yang terbaik, “best”, tapi “beft”. Tentu saja, ini hanya kesalahan. Bukan orang-orang saat itu ingin menjadi biasa saja, tapi karena saat itu huruf S ditulis berbeda, seperti huruf F. Google tidak mengetahui ini saat itu, jadi kami melaporkan ini dalam artikel ilmiah yang kami tulis. Tapi ini ternyata menjadi sebuah peringatan bahwa meskipun menyenangkan, saat menginterpretasikan grafik ini, Anda harus hati-hati, dan Anda harus mengadopsi standar dasar dalam ilmu pengetahuan.

ELA: Orang-orang menggunakannya untuk bermain-main. (Suara tawa) Sebenarnya, kami bahkan tidak perlu bicara, hanya perlu menunjukkan semua slide yang ada dan diam. Orang ini tertarik pada sejarah frustrasi. Ada banyak jenis frustrasi. Kalau Anda tersandung, itu “argh” dengan satu A. Kalau planet Bumi dimusnahkan oleh Vogon yang datang melalui jalan pintas antargalaksi, itu “aaaaaaaargh” dengan delapan A. Orang ini menyelidiki semua “argh,” mulai dari satu sampai delapan A. Ternyata semakin sedikit “argh” tentu saja menyatakan hal-hal yang lebih membuat frustrasi — kecuali, anehnya, di awal tahun 80-an. Kami pikir ini berhubungan dengan Reagan.

JM: Ada banyak kegunaan data ini, tapi pada dasarnya catatan sejarah sedang didigitalkan. Google sudah mulai mendigitalkan 15 juta buku. Itu 12 persen dari semua buku yang pernah diterbitkan. Itu bagian yang cukup besar dari budaya manusia. Ada banyak budaya: naskah, koran, ada yang bukan berupa teks, seperti seni dan lukisan. Semua ini ada dalam komputer kita, komputer di seluruh dunia. Dan ketika itu terjadi, itu akan mengubah cara kita memahami masa lalu, masa kini, dan budaya manusia.

Terima kasih banyak.

Advertisements

Diana Laufenberg: How to learn? From mistakes

We deal right now in the educational landscape with an infatuation with the culture of one right answer that can be properly bubbled on the average multiple choice test. I am here to share with you, it is not learning.” (Diana Laufenberg)

Saya sudah lama mengajar, dan dalam melakukannya mendapatkan pengetahuan mengenai anak-anak dan proses belajar yang saya harapkan akan semakin banyak orang mengerti mengenai potensi murid-murid. Di tahun 1931, nenek saya — di sebelah kiri bawah foto — lulus dari kelas 8. Beliau pergi ke sekolah untuk mendapatkan informasi karena disanalah informasi berada. Informasi ada di dalam buku, di dalam kepala guru, dan beliau butuh pergi ke sana untuk mendapatkan informasi, karena begitulah cara anda belajar. Percepat sebuah generasi: ini adalah rumah-sekolah satu ruangan, Oak Grove, di mana ayah saya pergi ke rumah-sekolah dengan satu ruangan. Lagi, beliau harus pergi ke sekolah untuk mendapatkan informasi dari guru, menyimpannya di satu-satunya tempat memori yg bisa dibawa, yaitu kepalanya, dan dibawa bersamanya, karena inilah cara bagaimana informasi berpindah dari guru ke murid kemudian digunakan di dunia. Ketika saya kecil, kami memiliki satu set ensiklopedia di rumah. Ensiklopedia itu dibeli di tahun kelahiran saya, dan itu luar biasa, karena saya tidak harus menunggu untuk pergi ke perpustakaan untuk mendapat informasi; informasi ada di dalam rumah saya dan hal tersebut sangat menyenangkan. Hal ini berbeda dibandingkan apa yang generasi lain telah alami, dan itu telah merubah cara saya berinteraksi dengan informasi bahkan di ukuran yang kecil. Informasinya lebih dekat dengan saya. Saya bisa mendapatkan akses terhadap informasi.

Seiring waktu berjalan antara masa remaja saya di SMA dan ketika saya mulai mengajar, kita melihat manfaat dari internet. Di saat internet mulai berfungsi sebagai alat edukasi, saya meninggalkan Wisconsin dan pindah ke Kansas, kota kecil Kansas, dimana saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar di kota kecil indah sekolah wilayah daerah pedesaan Kansas, dimana saya mengajar pelajaran favorit saya, Pemerintahan Amerika. Tahun pertama saya — sangat bersemangat akan mengajar pemerintahan Amerika, cinta sistem politik. Anak-anak di kelas 12: tidak begitu tertarik mengenai sistem pemerintahan Amerika. Tahun kedua: belajar sedikit hal — harus mengubah strategi saya. Dan saya memberikan mereka sebuah pengalaman autentik yang memungkinkan mereka untuk belajar sendiri. Saya tidak menjelaskan apa yg harus mereka lakukan atau bagaimana melakukannya. Saya berikan sebuah masalah kepada mereka, yaitu untuk mengadakan sebuah forum pemilihan bagi komunitas mereka sendiri.

mereka membuat selebaran, menelpon kantor-kantor, menyusun jadwal, rapat dengan sekretaris, membuat sebuah buku forum pemilihan bagi semua kota untuk mempelajari lebih lanjut mengenai kandidat mereka. Mereka mengundang semua orang ke sekolah untuk sebuah malam diskusi mengenai pemerintahan dan politik dan membahas mengenai apakah jalan sudah dikerjakan dengan baik atau tidak, dan benar-benar memiliki pengalaman belajar yang hebat ini. Guru yang lebih tua — lebih berpengalaman — melihat saya dan berkata, “Oh, itu dia. Manis sekali. Dia mencoba menyelesaikan hal itu.” (tertawa) “Dia tidak tahu apa yang dia apa yg dia lakukan.” Tetapi saya tahu anak-anak akan datang. Dan saya percaya. Dan saya katakan kepada mereka setiap minggu tentang harapan saya terhadap mereka. Malam itu, semua 90 anak — berpakaian sopan, melakukan tugas mereka. Saya hanya perlu duduk dan menonton. Itu adalah acara mereka, penuh pengalaman, dan autentik. Acara itu berarti sesuatu bagi mereka. Dan mereka akan melangkah maju.

Dari Kansas, saya pindah menuju ke Arizona yang indah, dimana saya mengajar di Flagstaff selama beberapa tahun, kali ini dengan murid-murid SMP. Beruntung saya tidak perlu mengajar mereka pemerintahan Amerika. Saya bisa mengajar mereka topik yang lebih menarik dari geografi. Sekali lagi, bersemangat untuk belajar. Tetapi yang menarik dari posisi yang saya temukan di Arizona, adalah saya memiliki kelompok anak-anak yg luar biasa untuk diajak bekerjasama di sebuah sekolah umum. Dan kami harus memiliki waktu ini dimana kami akan mendapatkan kesempatan. Dan sebuah kesempatan adalah kami harus pergi dan menemui Paul Rusesabagina, yaitu seorang tokoh yang diceritakan di film “Hotel Rwanda”. Beliau akan berbicara di SMA sebelah sekolah kami. Kami bisa jalan ke sana; tanpa harus membayar bus. Tidak ada biaya pengeluaran. Perjalanan yang sempurna.

Masalahnya adalah bagaimana anda membawa murid kelas 7 dan 8 untuk membahas genosida dan menghubungkannya dengan pelajaran dalam cara yang bertanggung jawab dan penuh hormat dan mereka tahu bagaimana harus menyikapinya. Jadi kami memilih Paul Rusesabagina sebagai contoh seorang lelaki terhormat yang menggunakan hidupnya sendiri untuk melakukan hal positif. Saya kemudian menantang anak-anak untuk menemukan seseorang di hidup mereka, atau di cerita mereka, atau di dunia mereka sendiri, yang menurut mereka telah melakukan hal yang mirip. Saya meminta mereka untuk membuat sebuah film pendek mengenai hal itu. Hal itu merupakan pengalaman pertama kami. Tidak ada yg benar-benar tahu cara membuat film pendek lewat komputer. Tapi mereka tertarik. Dan saya minta mereka untuk mengisi suara mereka sendiri di film itu. Momen pengungkapan yang paling menakjubkan disaat anda meminta anak-anak untuk menggunakan suara mereka dan meminta mereka untuk berbicara terhadap diri mereka sendiri, mengenai apa yang ingin mereka bagi. Pertanyaan terakhir dari tugas adalah: bagaimana anda merencanakan menggunakan hidup anda untuk mempengaruhi orang lain secara positif? Jawaban yang anak-anak akan katakan ketika anda menanyakan mereka dan mengambil waktu untuk mendengar adalah luar biasa.

Maju ke Pennsylvania, dimana saya berada sekarang. Saya mengajar di Science Leadership Academy, yaitu sebuah sekolah kerjasama antara Franklin Institute dan sekolah wilayah Philadelphia. yg merupakan sekolah umum tingkat 9 sampai 12 biasa akan tetapi sistem belajar-mengajar kami agak berbeda. Saya pindah kesana sebagian besar untuk menjadi bagian dari sebuah lingkungan belajar yang membenarkan cara yang saya tahu anak-anak pelajari, dan sangat ingin untuk meninvestigasi apa yang mungkin di saat kau ingin melepaskan beberapa paradigma masa lalu, mengenai sedikitnya informasi di saat nenek saya bersekolah dan saat ayah saya bersekolah dan bahkan ketika saya bersekolah, dan di momen ketika kita mengalami surplus informasi. Jadi apa yang anda lakukan di saat informasi ada di sekitar anda? Kenapa anak-anak harus ke sekolah jika mereka tidak perlu datang kesana untuk mendapatkan informasi?

Di Philadelphia, kami memiliki program one-on-one laptop, sehingga anak-anak membawa laptop setiap hari, dibawa pulang, mendapatkan akses ke informasi. Dan inilah hal yang anda butuh biasakan disaat anda telah memberikan alat untuk memberikan informasi kepada murid, adalah anda harus terbiasa dengan pemikiran dalam membiarkan anak-anak untuk gagal sebagai bagian dari proses belajar. Kita sekarang berhadapan dengan kehidupan pendidikan dengan sebuah kegilaan terhadap budaya satu jawaban benar yang bisa dijawantahkan dalam test jawaban pilihan ganda, dan saya di sini untuk berbagi kepada anda, bahwa hal seperti itu bukan pembelajaran. Adalah hal yang sangat salah untuk meminta, untuk menyuruh anak-anak untuk tidak pernah salah. Meminta mereka untuk selalu mempunyai jawaban yang benar tidak membiarkan mereka untuk belajar. Jadi kami melakukan proyek ini, dan ini salah satu karya dari proyek tersebut. Saya hampir tidak pernah mempertontonkan karya-karya ini dikarenakan isu dari ide mengenai kegagalan.

Murid-murid saya membuat info-grafis ini sebagai hasil dari sebuah unit yang kita putuskan untuk lakukan di akhir tahun terkait dengan tumpahan minyak. Saya meminta mereka untuk mengambil contoh yang kami lihat mengenai info-grafis yang ada di banyak media massa, dan melihat terhadap komponen apa yang menarik dari hal itu, dan membuat satu untuk mereka sendiri dari sebuah bencana buatan manusia yg berbeda di sejarah Amerika. Mereka memiliki beberapa kriteria untuk melakukannya. Mereka agak tidak nyaman dengan hal itu, karena kami belum pernah melakukan ini sebelumnya, dan mereka tidak tahu pasti bagaimana melakukannya. Mereka bisa berbicara — mereka sangat halus — dan mereka bisa menulis dengan sangat baik, tetapi meminta mereka untuk mengkomunikasikan ide dengan cara yang berbeda sedikit tidak nyaman bagi mereka. Tetapi saya memberikan mereka ruangan khusus untuk membuatnya. Ayo buat. Ayo temukan. Mari kita lihat apa yang bisa kita lakukan. Dan murid yang paling berusaha menjadi produk visual yang terbaik tidak mengecewakan. Ini diselesaikan dalam 2 atau 3 hari. Dan ini adalah karya dari murid yang konsisten mengerjakannya.

Ketika saya menyuruh mereka duduk, saya tanya, “Siapa yang karyanya terbaik?” Lalu mereka langsung menunjuk, “Yang itu.” Tanpa perlu membaca. “Yang itu.” Saya tanya, “Apa yang membuat itu bagus?” Mereka bilang, “Design-nya bagus, dan warnanya bagus. Dan ada beberapa … ” Dan mereka terus membahas apa yang kita lakukan secara lantang. Dan saya katakan, “Coba baca.” Mereka bilang, “Yang itu tidak terlalu bagus.” Lalu berpindah ke karya lain — karya itu tidak begitu indah, tetapi memiliki informasi yang hebat — menghabiskan satu jam mendiskusikan mengenai proses pembelajaran, karena ini bukan mengenai sempurna atau tidaknya, atau mengenai apa yang bisa saya buat atau tidak, hal ini meminta mereka membuat untuk mereka sendiri dan itu memungkinkan mereka untuk gagal, berproses, dan belajar darinya. Di saat kami melakukan lagi hal seperti ini di kelas saya tahun ini, mereka akan melakukannya lebih baik. Karena belajar harus memasukkan sebuah jumlah kegagalan, karena kegagalan adalah instruksi dalam sebuah proses.

Ada jutaan foto yang saya bisa klik di sini, dan harus dipilih hati-hati — yang ini favorit saya — mengenai pembelajaran murid, mengenai bagaimana pembelajaran bisa terlihat di sebuah area di mana kita membiarkan ide bahwa anak-anak harus pergi ke sekolah untuk mendapatkan informasi, akan tetapi, tanya mereka apa yang dapat mereka lakukan dengan itu. Tanyakan mereka pertanyaan yang benar-benar menarik. Mereka tidak akan mengecewakan. Suruh mereka untuk pergi ke tempat-tempat, untuk melihat segala sesuatu dengan sendirinya, untuk benar-benar mengalami belajar, untuk bermain, untuk mencari tahu. Ini adalah salah satu foto favorit saya, karena ini difoto di hari Selasa, ketika saya minta murid-murid untuk pergi ke TPS. Ini Robbie, dan ini hari pertamanya memilih, dan dia ingin berbagi mengenai itu dengan semua orang dan melakukannya. Ini juga belajar, karena kita mengajak mereka untuk pergi keluar ke tempat nyata.

Poin utama adalah, apabila kita terus melihat pendidikan sebagai datang ke sekolah untuk mendapatkan informasi dan bukan mengenai belajar dari pengalaman, mendorong suara murid dan menerima kegagalan, kita kehilangan tujuan. Dan semua hal yang semua orang bicarakan hari ini tidak mungkin terjadi jika kita tetap menggunakan sistem pendidikan yang tidak memuat kualitas-kualitas ini, karena kita tidak akan sampai ke sana dengan tes berstandar, dan kita tidak akan sampai ke sana dengan budaya satu jawaban benar. Kita tahu bagaimana melakukan ini dengan lebih baik, dan ini saatnya untuk melakukannya.

Stanley McChrystal: Listen, learn … then lead

Leaders can let you fail and yet not let you be a failure.” (Stanley McChrystal)

10 tahun yang lalu, pada Selasa pagi, Saya melakukan lompat parasut di Fort Bragg, North Carolina. Itu adalah pelatihan melompat yang rutin seperti banyak lagi yang saya lakukan sejak saya menjadi seorang penerjun payung. 27 tahun sebelumnya. Kami pergi ke lapangan udara pagi-pagi karena Angkatan Darat selalu pergi pagi-pagi. Anda melakukan beberapa latihan penyegaran rutin, lalu Anda pergi untuk memakai parasut Anda dan seorang teman membantu Anda. Dan Anda memakai parasut T10. Dan Anda sangat hati-hati dalam menempatkan tali, khususnya tali kaki karena diletakkan di antara kaki Anda. Lalu Anda memakai parasut cadangan Anda, lalu memakai ransel berat Anda. Lalu seorang instruktur datang, dan dia seorang bintara berpengalaman dalam operasi parasut. Dia memeriksa Anda, menyesuaikan tali Anda, dan mengencangkan segalanya sehingga dada Anda rapat, bahu Anda ditekan ke bawah, dan, tentu saja, dia mengencangkan suara Anda naik beberapa oktaf. Lalu Anda duduk, dan Anda menunggu sebentar, karena ini adalah Angkatan Darat. Lalu Anda naik pesawat terbang, lalu Anda berdiri dan masuk, dan Anda berbaris dan Anda duduk di kursi kanvas di kedua sisi pesawat. Dan Anda menunggu sedikit lebih lama, karena ini caranya Angkatan Udara mengajari Angkatan Darat bagaimana menunggu.

Lalu Anda lepas landas. Dan itu cukup menyakitkan sekarang — dan saya pikir ini memang dirancang seperti itu — cukup menyakitkan sehingga Anda ingin melompat. Anda tidak sungguh-sungguh ingin melompat, tetapi Anda melompat. Jadi Anda ada di pesawat, Anda terbang, dan setelah 20 menit, instruktur mulai memberi Anda perintah. Mereka memberikan 20 menit — itu peringatan waktu. Anda duduk di sana, oke. Lalu mereka memberi Anda 10 menit. Dan tentu saja, Anda menanggapinya. Dan itu untuk meningkatkan kepercayaan diri setiap orang, untuk menunjukkan bahwa Anda tidak takut. Lalu, mereka memberi aba-aba, “siap!” Lalu, “Prajurit luar, berdiri!” Jika Anda seorang prajurit luar, sekarang Anda berdiri. Jika Anda seorang prajurit dalam, berdiri. Lalu Anda mengaitkan barisan statis Anda. Dan pada titik itu, Anda berpikir, “Coba tebak? Saya mungkin akan melompat. Tidak ada cara untuk keluar pada saat ini.” Anda melalui beberapa pemeriksaan tambahan, lalu mereka membuka pintu.

Hari itu Selasa pagi di bulan September, cuaca di luar cukup bagus. Jadi udara yang bagus mengalir masuk. Instruktur mulai memeriksa pintu. Lalu saatnya pergi, lampu hijau menyala, dan instruktur memberi aba-aba, “Lompat!” Orang pertama melompat, dan Anda di belakangnya, dan Anda berjalan dengan susah payah ke pintu. Melompat adalah istilah yang tidak cocok, Anda jatuh. Anda jatuh keluar pintu, Anda terperangkap dalam aliran angin dari mesin jet. Hal pertama yang Anda lakukan adalah mengunci pada posisi tubuh dengan ketat — tundukkan kepala ke dada Anda, lengan Anda diluruskan, pegang parasut cadangan Anda. Anda melakukannya karena, 27 tahun yang lalu, seorang sersan udara telah mengajarkan saya hal itu. Saya tidak tahu apakah hal itu membuat perbedaan, tapi dia tampaknya masuk akal, dan saya tidak akan menguji hipotesis bahwa ia salah. Lalu Anda menunggu kejutan pembukaan saat parasut Anda terbuka. Jika Anda tidak mendapatkan kejutan pembukaan, Anda tidak dapat parasut — Anda mendapatkan sejumlah masalah. Tapi biasanya Anda dapat, biasanya parasut terbuka. Dan tentu saja, jika tali kaki Anda tidak diatur dengan tepat, pada saat itu Anda mendapat sedikit kesenangan lainnya. Boom.

Anda lihat sekeliling, akademi Anda berkata, “Ini bagus.” Sekarang Anda mempersiapkan diri untuk yang tidak terelakkan. Anda akan membentur tanah. Anda tidak dapat menundanya lama-lama. Dan Anda benar-benar tidak bisa memutuskan di mana Anda akan mendarat, karena mereka berpura-pura Anda bisa mengarahkan, tapi Anda sedang diantar. Jadi Anda melihat sekeliling, di mana Anda akan mendarat, Anda mempersiapkan diri Anda. Saat Anda sudah dekat, Anda menurunkan ransel Anda, jadi ransel itu tidak bersama Anda saat Anda mendarat, dan Anda bersiap untuk jatuh dengan parasut. Angkatan Darat mengajari Anda untuk melakukan 5 poin performa pendaratan — jari kaki Anda, betis Anda, paha Anda, pantat Anda, dan otot-otot Anda. Cara yang elegan: mendarat, berputar dan jungkir balik. Dan hal itu tidak akan menyakiti Anda. Dalam 30an tahun melompat, saya tidak pernah melakukannya. (Tertawa) Saya selalu mendarat seperti semangka jatuh dari jendela lantai tiga.

Dan sesegera saya membentur tanah, hal pertama yang saya lakukan adalah melihat apakah saya merusakkan sesuatu yang saya butuhkan. Saya menggelengkan kepala, dan bertanya pada diri sendiri: “Mengapa saya tidak pergi ke perbankan?” (Tertawa) Dan saya melihat ke sekeliling, lalu saya lihat penerjun payung lainnya, laki-laki atau perempuan muda, dan mereka telah menarik karbin M-4 mereka dan mereka mengambil peralatan mereka. Mereka akan melakukan segala sesuatu yang telah kita ajarkan kepada mereka. Dan saya menyadari bahwa, jika mereka harus pergi ke dalam pertempuran, mereka akan melakukan apa yang telah kita ajarkan dan mereka akan mengikuti pimpinan. Dan saya menyadari bahwa, jika mereka keluar dari pertempuran, itu karena kita memimpin mereka dengan baik. Dan saya dikaitkan lagi dengan pentingnya apa yang saya lakukan.

Jadi sekarang saya melakukan lompatan Selasa pagi itu, tapi bukan lompatan apapun — itu 11 September 2001. Ketika kami berangkat dari lapangan udara, Amerika sedang damai. Ketika kita mendarat di zona pendaratan, semuanya telah berubah. Dan apa yang kami pikir tentang kemungkinan tentara-tentara muda pergi ke pertempuran sebagai sesuatu yang teoritis sekarang menjadi sangat sangat nyata — dan kepemimpinan tampak penting. Tapi banyak hal berubah — saat itu saya brigadir jenderal berusia 46 tahun. Saya sudah berhasil, tapi banyak hal berubah bahwa saya harus membuat beberapa perubahan signifikan — dan pada pagi itu, saya tidak tahu.

Saya dibesarkan dengan cerita tradisional tentang kepemimpinan: Robert E. Lee, John Buford di Gettysburg. Dan saya juga dibesarkan dengan contoh pribadi kepemimpinan. Ini adalah ayah saya di Vietnam. Saya dibesarkan untuk percaya bahwa tentara itu kuat, bijaksana, berani dan setia — mereka tidak berbohong, menipu, mencuri, atau meninggalkan rekan-rekan mereka. Dan saya masih percaya para pemimpin sejati adalah seperti itu. Tapi dalam 25 tahun pertama karir saya, saya memiliki banyak pengalaman berbeda.

Salah satu komandan batalyon pertama saya, saya bekerja di batalyonnya selama 18 bulan dan satu-satunya percakapan yang pernah dimiliki dengan Lt. McChrystal ada di mil 18 dari 25 mil pawai jalan, dan Dan saya tidak yakin hal itu adalah interaksi nyata. Tapi beberapa tahun kemudian, ketika saya menjadi komandan kompi, saya pergi ke pusat pelatihan nasional. Dan kami melakukan operasi, dan kompi saya melakukan serangan fajar — Anda tahu, serangan fajar yang klasik: Anda mempersiapkannya sepanjang malam, pergi ke garis keberangkatan. Dan saya punya pasukan bersenjata saat itu. Kami bergerak maju, kami dikalahkan — Maksud saya, dikalahkan dengan segera. Musuh tidak berkeringat melakukannya. Dan setelah pertempuran, mereka melakukan apa yang disebut dengan “tinjauan pasca aksi” untuk mengajari Anda apa yang lakukan dengan salah. Semacam kepemimpinan dengan penghinaan. Mereka menempatkan layar besar dan membawa Anda melalui segala sesuatu. “… Lalu Anda tidak melakukan ini, dan Anda tidak melakukan ini, dst.” Saya berjalan keluar merasa rendah seperti perut ular dalam bekas roda. Dan saya mengunjungi komandan batalyon saya, karena saya membuatnya sedih. Dan saya pergi meminta maaf kepadanya, dan dia berkata, “Stanley, saya pikir kamu hebat.” Dan dalam satu kalimat, dia mengangkat saya, menempatkan saya kembali di kaki saya, dan mengajari saya bahwa pemimpin dapat membiarkan Anda gagal namun tidak membiarkan Anda menjadi kegagalan.

Ketika 9/11 datang, Brigjen McChrystal yang berusia 46 tahun melihat sebuah dunia baru. Pertama, hal-hal yang jelas, yang Anda sudah terbiasa: lingkungan berubah — kecepatan, pengawasan, sensitivitas dan segala sesuatu saat ini begitu cepat, kadang-kadang berevolusi lebih cepat dari waktu yang dimiliki orang-orang untuk merefleksikannya. Tetapi segala sesuatu yang kita lakukan ada di dalam konteks yang berbeda. Lebih penting lagi, pasukan yang saya pimpin tersebar di lebih dari 20 negara. Dan bukannya bisa menjangkau semua pimpinan kunci untuk mengambil keputusan bersama di dalam ruangan dan menatap mata mereka dan membangun kepercayaan diri dan mendapatkan kepercayaan dari mereka, sekarang saya memimpin sebuah kekuatan yang tersebar, dan saya harus menggunakan teknik lain. Saya harus menggunakan telekonferensi video, saya harus chat, saya harus menggunakan email, panggilan telefon — saya harus menggunakan semua yang saya bisa, tidak hanya untuk komunikasi, tetapi untuk kepemimpinan. Seseorang berusia 22 tahun beroperasi sendiri ribuan mil jauhnya dari saya harus berkomunikasi dengan saya dengan percaya diri. Saya harus percaya pada mereka dan sebaliknya. Dan saya juga harus membangun iman mereka. Dan itulah jenis kepemimpinan yang baru bagi saya.

Kami memiliki satu operasi di mana kami harus berkoordinasi dari berbagai lokasi. Sebuah kesempatan datang — tidak punya waktu untuk membuat semua orang bersama. Jadi kami harus mendapatkan kecerdasaran yang rumit bersama, kami harus menata kemampuan untuk bertindak. Hal itu sensitif, kami harus naik ke rantai komando, meyakinkan mereka bahwa ini adalah hal yang benar untuk dilakukan, dan melakukan ini semua pada media elektronik. Kami gagal. Misi tidak berhasil. Dan sekarang apa yang harus kami lakukan, saya harus menjangkau mencoba membangun kembali kepercayaan dari kekuatan itu, membangun kembali kepercayaan diri mereka — saya dan mereka, mereka dan saya, serta senior kami dan kami sebagai suatu kekuatan — semua tanpa kemampuan untuk meletakkan tangan di bahu. Sepenuhnya persyaratan baru.

Juga, orang-orang telah berubah. Anda mungkin berpikira bahwa kekuatan yang saya pimpin adalah semua komando bermata baja dengan tinju besar membawa senjata yang eksotis. Pada kenyataannya, kebanyakan kekuatan yang saya pimpin terlihat persis seperti Anda. Pria, wanita, muda, tua — tidak hanya dari militer; dari berbagai organisasi, kebanyakan dari mereka memberikan detail kepada kami hanya dari jabat tangan. Dan bukannya memberi perintah, Anda sekarang membangun konsensus dan Anda sedang membangun rasa tujuan bersama. Mungkin perubahan terbesar adalah memahami bahwa perbedaan generasi, usia, telah banyak berubah. Saya pergi bersama satu peleton Ranger dalam operasi di Afghanistan, dan pada operasi itu, seorang sersan di peleton telah kehilangan setengah lengannya melempar granat Taliban kembali ke musuh setelah granat itu mendarat di timnya. Kita berbicara tentang operasi, lalu akhirnya saya melakukan apa yang sering saya lakukan dengan kekuatan seperti itu. Saya bertanya, “Di manakah Anda saat 9/11?” Dan seorang Ranger muda di belakang — rambutnya acak-acakan dan wajahnya merah dan tertiup angin dari pertempuran di Afghanistan yang berangin dingin — dia berkata, “Pak, saya ada di kelas enam.” Dan itu mengingatkan saya bahwa kami sedang mengoperasikan kekuatan yang harus memiliki tujuan yang terbagi dan kesadaran yang terbagi, namun ia memiliki pengalaman yang berbeda, dalam banyak hal kosakata yang berbeda, kemampuan yang sama sekali berbeda dalam hal media digital daripada saya dan banyak pemimpin senior lainnya. Namun, kita perlu memiliki rasa berbagi itu.

Hal itu juga menghasilkan sesuatu yang saya sebut sebagai inversi keahlian, karena kami memiliki banyak perubahan di tingkat yang lebih rendah dalam teknologi dan taktik dan banyak lagi, yang tiba-tiba hal-hal yang kita lakukan bukan apa yang dilakukan lagi oleh pasukan. Jadi bagaimana seorang pemimpin tetap kredibel dan sah ketika mereka tidak melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang Anda pimpin? Dan itu tantangan kepemimpinan yang baru. Dan itu memaksa saya untuk menjadi jauh lebih transparan, lebih banyak bersedia untuk mendengarkan, lebih banyak bersedia untuk belajar dari yang lebih bawah. Namun, sekali lagi, Anda tidak berada di satu ruangan. Lalu hal lainnya. Ada pengaruh pada Anda dan pada pemimpin Anda. Ada dampak yang kumulatif. Anda tidak me-reset, atau mengisi ulang baterai Anda setiap saat.

Saya berdiri di depan layar suatu malam di Irak dengan salah satu pejabat senior saya dan kami menonton tembak-tembakan dari salah satu pasukan kami. Dan saya teringat anaknya ada di pasukan kami. Dan saya berkata, “John, di mana anakmu? Dan bagaimana kabarnya?” Dan dia berkata, “Pak, dia baik-baik saja. Terima kasih telah menanyakannya.” Saya berkata, “Di mana dia sekarang?” Dan dia menunjuk pada layar, dia berkata, “Dia ada di pertempuran itu.” Pikirkanlah tentang menonton saudaramu, ayahmu, putrimu, putramu, istrimu dalam sebuah pertempuran dan Anda tidak bisa berbuat apa-apa. Pikirkanlah tentang mengetahu hal itu dari waktu ke waktu. Dan itu tekanan kumulatif yang baru pada pemimpin.

Dan Anda harus menonton dan menjaga satu sama lain. Saya mungkin mempelajari tentang hubungan. Saya belajar bahwa mereka berjuang bersama. Saya bertumbuh dengan sebagian besar karir saya di resimen Ranger. Dan setiap pagi di resimen Ranger, setiap Ranger — dan ada lebih dari 2000 orang — mengucapkan kredo enam bait Ranger. Anda mungkin tahu satu barisnya, berbunyi, “Saya tidak akan pernah meninggalkan kawan jatuh ke tangan musuh.” Dan itu bukanlah mantra yang tidak dipikirkan, dan itu bukanlah puisi. Itu adalah janji. Setiap Ranger berjanji kepada Ranger lainnya apapun yang terjadi, tidak peduli apa yang harus dilakukan, jika Anda butuh saya, saya akan datang. Dan setiap Ranger mendapatkan janji yang sama dari Ranger lainnya. Pikirkanlah tentang hal ini. Ini sangat kuat. Mungkin lebih kuat dari sumpah pernikahan. Dan mereka sudah hidup sampai itu, yang memberinya kekuatan khusus. Dan hubungan organisasi yang mengikat mereka begitu menakjubkan.

Dan saya belajar hubungan pribadi lebih penting daripada sebelumnya. Kami dalam operasi yang sulit di Afghanistan pada tahun 2007, dan seorang teman lama saya, yang bersamanya telah saya habiskan bertahun-tahun karier saya — ayah yang hebat dari anak-anak mereka — dia mengirimi saya catatan, hanya dalam amplop, yang memiliki kutipan dari Sherman untuk Grant yang mengatakan, “Saya tahu kalau saya pernah punya tempat yang sulit, yang engkau akan datang, jika hidup.” Dan memiliki hubungan seperti itu, bagi saya, ternyata menjadi penting pada beberapa poin dalam karir saya.

Dan saya belajar bahwa Anda harus m pada lingkungan ini, karena itu sulit. Itulah perjalanan saya. Saya harap belum berakhir. Saya datang untuk percaya bahwa seorang pemimpin tidaklah bagus karena mereka benar; mereka bagus karena mereka mau belajar dan percaya. Ini bukanlah hal yang mudah. Ini tidak seperti mesin elektronik pembentuk perut yang mana, 15 menit tiap bulannya, Anda mendapatkan perut yang berbentuk.  Dan ini tidaklah selalu adil. Anda bisa terjatuh, dan itu menyakitkan dan meninggalkan bekas luka. Tapi jika Anda seorang pemimpin, orang-orang yang Anda andalkan akan mengangkat Anda. Dan jika Anda seorang pemimpin, orang-orang yang mengandalkan Anda membutuhkan Anda.

Terima kasih.

Sharmeen Obaid-Chinoy: Inside a school for suicide bombers

If you grew up in these circumstances [of Taliban influence], faced with these choices, would you choose to live in this world or in the glorious afterlife?” (Sharmeen Obaid-Chinoy)

Sekarang, saya ingin kalian melihat kepada anak-anak yang menjadi pelaku bom bunuh diri melalui lensa yang benar-benar berbeda. Pada tahun 2009, ada 500 bom meledak di seluruh Pakistan. Saya menghabiskan tahun itu bekerja bersama anak-anak yang dilatih untuk menjadi pelaku bom bunuh diri dan dengan perekrut dari Taliban, mencoba mengerti bagaimana Taliban mengubah anak-anak ini menjadi senjata hidup dan mengapa anak-anak ini secara aktif mendaftarkan diri ke dalam pergerakan mereka.

Saya ingin kalian menonton video singkat dari film dokumenter terbaru saya, “Children of the Taliban.”

Taliban menjalankan sekolah mereka sendiri sekarang. Sasaran mereka adalah keluarga miskin. Mereka meyakinkan para orang tua untuk mengirim anak-anak mereka. Sebagai gantinya, Taliban menyediakan makanan dan tempat berlindung gratis dan terkadang memberikan uang bulanan kepada keluarga itu. Kami mendapatkan video propaganda yang dibuat oleh Taliban. Para pria muda diajarkan dasar pembenaran dari serangan bunuh diri dan eksekusi para mata-mata.

Saya menghubungi seorang anak dari Swat yang belajar di dalam madrasah seperti ini. Hazrat Ali berasal dari sebuah keluarga petani miskin di Swat. Dia bergabung dengan Taliban setahun yang lalu, saat dia berusia 13 tahun.

Bagaimana Taliban di daerah anda mendapatkan orang untuk bergabung?

Hazrat Ali: Pertama mereka mengajak kami ke masjid dan mengajar kami. Lalu mereka membawa kami ke madrasah dan mengajar kami hal-hal dari Al Quran.

Sharmeen Obaid Chinoy: Dia memberitahu bahwa anak-anak itu akan diberikan latihan militer berbulan-bulan.

HA: Mereka mengajari kami menggunakan senapan mesin, Kalishnikov, peluncur roket, granat, bom. Mereka menyuruh kami untuk hanya menggunakannya melawan kaum kafir. Lalu mereka mengajarkan serangan bunuh diri.

SOC: Apakah anda ingin melakukan serangan bunuh diri?

HA: Jika Allah yang Maha Kuasa memberi saya kekuatan.

SOC: Saya, dalam penelitian ini melihat bahwa Taliban telah menyempurnakan cara mereka merekrut dan melatih anak-anak ini. Dan saya pikir pelatihan ini berlangsung dalam lima langkah. Langkah pertama, Taliban mencari korban dari keluarga yang besar dan miskin, yang tinggal di pedesaan. Mereka memisahkan orang tua dan anak-anaknya dengan berjanji untuk menyediakan makanan, pakaian, tempat berlindung bagi anak-anak ini. Mereka lalu mengirimkan mereka, ratusan mil jauhnya ke sekolah garis keras yang dijalankan sesuai dengan agenda Taliban.

Langkah kedua: Mereka mengajarkan Al-Quran, kitab tersuci bagi umat Islam, dalam Bahasa Arab, yang tidak dimengerti oleh anak-anak ini. Mereka juga tidak dapat berbicara Bahasa Arab. Mereka benar-benar tergantung pada para guru yang telah saya lihat sendiri mengubah pesan Al Quran kepada anak-anak ini agar sesuai dengan tujuan mereka. Anak-anak ini benar-benar dilarang untuk membaca koran, mendengarkan radio, membaca buku apa pun yang tidak dibolehkan oleh guru mereka. Jika ada anak-anak yang melanggar aturan ini, dia mendapatkan teguran keras. Secara efektif, Taliban menciptakan pemblokiran total dari sumber informasi lain bagi anak-anak ini.

Langkah ketiga: Taliban ingin anak-anak ini membenci dunia di mana mereka hidup. Sehingga mereka perlahan menghancurkan anak-anak ini. Saya telah melihatnya. Mereka memberikan anak-anak ini roti kering dan air dua kali sehari. Mereka jarang mengijinkan anak-anak ini bermain. Mereka menyuruh anak-anak ini, membaca Al-Quran selama delapan jam setiap kali. Anak-anak ini adalah tahanan virtual. Mereka tidak dapat pergi, tidak dapat pulang ke rumah. Orang tua mereka sangat miskin, mereka tidak punya apa-apa untuk mendapatkan anak-anak mereka kembali.

Langkah keempat: Anggota Taliban yang lebih tua, para pejuang, mulai berbicara kepada anak-anak muda ini tentang kejayaan martir. Mereka berbicara tentang bagaimana, saat mereka meninggal mereka akan memperoleh danau madu dan susu, akan ada 72 perawan yang menunggu mereka di surga, akan ada makanan yang tak terbatas dan bagaimana kejayaan ini akan membawa mereka menjadi pahlawan di lingkungan mereka. Secara efektif, proses pencucian otak ini telah dimulai

Langkah kelima: Saya percaya Taliban memiliki salah satu bentuk yang paling efektif dari propaganda. Video yang mereka gunakan berisi potongan-potongan gambar dari pria, wanita, dan anak-anak yang sekarat di Irak dan Afganistan dan di Pakistan. Dan pesan utamanya adalah kekuatan Barat tidak peduli dengan kematian para rakyat jelata, jadi orang-orang yang hidup dalam daerah dan dukungan dari pemerintah yang bekerja dengan kekuatan Barat adalah permainan adil. Itulah mengapa warga Pakistan, lebih dari 6.000 orang telah tewas dalam dua tahun terakhir adalah adil adanya. Sekarang anak-anak ini telah siap untuk menjadi pelaku bom bunuh diri. Mereka siap untuk pergi dan bertarung karena mereka telah diberitahu bahwa inilah satu-satunya cara mereka untuk memuliakan Islam.

Saya ingin anda melihat kutipan lain dari film ini.

Anak laki-laki ini bernama Zenola. Dia meledakkan dirinya sendiri, membunuh enam orang. Anak laki-laki ini bernama Sadik. Dia membunuh 22 orang. Anak laki-laki ini bernama Messoud. Dia membunuh 28 orang. Taliban menjalankan sekolah untuk belajar bunuh diri menyiapkan satu generasi dari pemuda-pemuda untuk melakukan kejahatan terhadap penduduk sipil.

Apakah anda ingin melakukan serangan bunuh diri?

Anak laki-laki: Tentu saja. Namun hanya jika saya mendapat ijin dari ayah saya. Saat saya melihat pelaku bom bunuh diri yang lebih muda dari saya, atau semuda saya. Saya terinspirasi oleh serangan mereka yang luar biasa.

SOC: Berkat apa yang akan anda dapatkan dengan melakukan serangan bunuh diri?

Anak laki-laki: Pada hari penghakiman, Allah akan bertanya “Mengapa anda melakukan hal itu?” Saya akan menjawab, “Allahku! Hanya untuk membuat-Mu gembira!” Saya telah menyerahkan hidup saya melawan para kafir. Lalu Allah yang Maha Kuasa akan melihat niat saya. Jika niat saya adalah memberantas kejahatan demi Islam, saya akan dihadiahi surga.

Nyanyian: ♫ Di hari penghakiman ♫ ♫ Allahku akan memanggilku ♫ ♫ Tubuhku akan disatukan kembali ♫ ♫ Dan Allah akan bertanya mengapa saya melakukan hal ini ♫

SOC: Saya akan meninggalkan anda dengan pemikiran ini: Jika kalian tumbuh dalam kondisi seperti ini berhadapan dengan pilihan ini, apakah anda akan memilih untuk hidup di dunia ini atau di kehidupan berikutnya yang penuh kemuliaan? Seperti seorang perekrut taliban yang memberitahu saya, “Akan selalu ada domba yang dikorbankan dalam perang ini.”

Terima kasih.

Richard St. John: “Success is a continuous journey”

Kenapa begitu banyak orang mencapai sukses dan setelah itu gagal? Salah satu alasan terbesar adalah karena kita berpikir sukses adalah sebuah jalan satu arah. Jadi kita melakukan semua hal yang mengarah kepada keberhasilan. Lalu kita sampai disana. Kita mengira kita telah mencapainya, kita menjadi lupa diri, dan kita berhenti melakukan semua hal yang telah membuat kita berhasil. Dan kemunduran tidak perlu waktu yang lama. Dan saya bisa menceritakan kepada anda bahwa hal ini terjadi. karena hal ini telah terjadi kepada saya.

Untuk mencapai sukses, saya bekerja keras, saya menforsir diri sendiri. Lalu saya berhenti, karena saya berpikir, “Oh, tahukah anda, saya telah sukses. Saya sekarang bisa duduk tenang dan santai.”

Untuk mencapai kesuksesan, saya selalu berusaha lebih baik dan melakukan pekerjaan dengan benar. Tetapi ketika saya berhenti karena saya berpikir, “Hei, saya sudah cukup baik. Saya tidak perlu berusaha untuk lebih baik lagi.”

Untuk mencapai kesuksesan, saya cukup tangkas untuk menghasilkan ide-ide cemerlang. Karena saya melakukan semua hal sederhana yang menghasilkan ide-ide. Tetapi kemudian saya berhenti. Karena saya berpikir saya adalah jagoan dan saya tidak perlu berusaha. Ide-ide baru akan datang dengan sendirinya. dan yang terjadi adalah, hanya sebuah dinding penghalang menuju inspirasi. Saya tidak bisa menghasilkan ide apapun.

Untuk mencapai kesuksesan, saya selalu fokus kepada klien dan projek, dan tidak menghiraukan uang. Lalu uang akan mulai datang dengan sendirinya. Dan saya tergoda oleh uang. Dan tanpa disadari, saya berbicara di telepon dengan makelar saham saya dan agen properti saya. ketika saya seharusnya berbicara dengan klien-klien saya.

Dan untuk mencapai kesuksesan, saya selalu melakukan apa yang saya sukai. Tetapi ketika saya harus melakukan hal-hal yang tidak saya sukai, misalnya manajemen. Saya adalah manajer terparah di seluruh dunia. Tetapi saya berpikir saya memang harus melakukannya. Karena saya, pada akhirnya, adalah pemimpin perusahaan.

Lalu, kabut gelap mulai terbentuk di atas kepala saya dan inilah saya, secara penampilan luar sangat sukses, tetapi didalamnya sangat tertekan. Tetapi saya adalah laki-laki, saya tahu bagaimana mengatasinya. Saya membeli mobil yang cepat. (sambil tertawa) tapi hal ini tidak membantu. Saya menjadi lebih cepat, tetapi tetap merasa lebih tertekan.

Lalu saya mencari dokter. Saya bertanya, “Dok, saya bisa membeli apapun yang saya inginkan. Tetapi saya tidak bahagia. Saya merasa tertekan. Ternyata betul apa yang mereka katakan, dan saya tidak percaya sampai hal itu terjadi kepada saya. Bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan.” Dokter berkata, “Betul. Tetapi uang bisa membeli Prozac (obat anti depresi).” Dan dia memberi saya obat anti depresi. Dan kabut gelap mulai hilang sedikit. Demikian juga dengan semua pekerjaan saya. Karena saya hanya mengawang-awang. Saya tidak peduli jika klien mencari saya.

Dan klien-klien tidak mencari saya.  Karena mereka melihat saya tidak lagi melayani mereka. Saya hanya melayani diri sendiri. Sehingga mereka mencabut uang dan projek mereka ke pihak lain yang dapat melayani mereka lebih baik.

Yah, tidak butuh waktu banyak untuk bisnis turun tajam. Saya dan partner saya, Thom, harus memecat semua karyawan kita. Dan yang tersisa hanyalah kita berdua, dan kita juga akan tenggelam. Dan kita merasa senang. Karena tanpa karyawan, tak ada orang yang harus saa atur.

Lalu saya kembali melakukan projek-projek yang saya sukai. Saya mendapatkan kesenangan kembali. Saya bekerja lebih keras. Dan untuk mempersingkat cerita: saya melakukan semua hal yang telah membawa saya kembali kepada kesuksesan. Tetapi itu bukanlah sebuah perjalanan singkat. Butuh tujuh tahun.

Tetapi pada akhirnya, bisnis berkembang pesat. Dan ketika saya kembali mengikuti delapan prinsip ini, kabut gelap yang menyelimuti kepala saya hilang serta merta. Dan suatu hari saya bangun dan berkata, “Saya tidak perlu Prozac lagi.” Dan saya buang obat itu dan tidak pernah memakainya lagi sejak saat itu.

Saya belajar bahwa kesuksesan bukanlah sebuah jalan satu arah. Kesuksesan bukanlah seperti ini. Kesuksesan lebih mirip seperti ini. Kesuksesan adalah sebuah perjalanan yang berkesinambungan. Dan jika kita hendak menghindari “sindrom kesuksesan menuju kegagalan.” Kita hanya perlu mengikuti delapan prinsip ini. Karena itu bukan hanya bagaimana kita mencapai kesuksesan, tetapi bagaimana kita memelihara kesuksesan. Dan ini untuk kesuksesan anda. Terima kasih banyak.

Richard St. John’s 8 secrets of success

The interesting thing is: if you do it for love, the money comes anyway.” (Richard St. John)

ini sebenarnya adalah presentasi sepanjang dua jam yang saya berikan kepada siswa sekolah menegah atas, yang disingkat menjadi tiga menit. dan semuanya dimulai sewaktu saya sedang di pesawat menuju TED, tujuh tahun yang lalu. dan di tempat duduk sebelah saya ada seorang siswa sekolah menengah atas, seorang remaja, dan dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. dan dia ingin melakukan sesuatu dalam kehidupannya, dan dia menanyakan sebuah pertanyaan yang sederhana. dia bertanya, “apa yang membawa kita menuju kesuksesan?” dan saya merasa tidak enak, karena saya tidak bisa memberikan jawaban yang baik. kemudian saya turun dari pesawat, dan datang ke TED. dan berpikir, ya tuhan, saya berada di tengah ruangan penuh akan orang orang yang sukses! jadi kenapa saya tidak menanyakan mereka apa yang membuat mereka sukses, dan menyampaikannya kepada anak anak? nah setelah jutuh tahun, 500 wawancara, dan saya akan menceritakan kepada kalian apa yang benar benar membawa ke kesuksesan dan membuat para TED-ster tertarik. hal yang pertama adalah gairah. Freeman Thomas mengatakan, “saya didorong oleh gairah saya” para TED-ster melakukannya karena cinta, mereka tidak melakukannya karena uang. Carol Coletta mengatakan, “saya akan membayar seseorang untuk melakukan apa yang saya lakukan.” dan hal yang menarik adalah, bila anda melakukannya karena cinta, uang bakal menyusul kemudian. Kerja! Rupert Murdoch mengatakan pada saya, ” intinya kerja keras. tidak ada yang datang dengan mudah. namun saya menikmatinya.” apa dia mengatakan kesenangan? Rupert? ya! para TED-ster memang senang bekerja. dan mereka bekerja sangat keras. saya bependapat, mereka tidak workaholics (gila kerja). mereka workafrolics (senang bekerja) Alex Garden mengatakan, “untuk menjadi lebih sukses dalami suatu hal dan jadilah lebih baik dalam hal tersebut.” tidak ada keajaiban, yang ada latihan, latihan, latihan. dan fokus. Norman Jewinson katakan kepada saya, “saya pikir semuanya berhubungan dengan memfokuskan diri anda pada satu hal” dan dorongan! David Gello mangatakan, ” dorong diri anda. secata fisik, mental, anda harus mdorong, terus, dan terus.” anda harus mendorong diri anda melalui rasa malu dan kurang percaya diri. Goldie Hawn mengatakan, “saya selalu kurang percaya diri. saya tidak cukup baik, saya tidak cukup pintar. saya pikir saya tidak akan mampu.” memang tidak selalu mudah mendorong diri anda, dan karena itulah mereka menciptakan para ibu.  Frank Gehry — Frank Gehry mengatakan kepada saya, ibu saya mendorong saya.” pelayanan! Sherwin Nuland mengatakan, “sebuah berkah untuk melayani sebagai seorang dokter.” sekarang banyak anak anak mengatakan bahwa mereka ingin menjadi jutawan. dan hal yang pertama yang saya katakan kepada mereka adalah “OK, kalian tidak dapat melayani dirikalian sendiri, kalian harus melayani orang lain sesuatu yang berharga. karena itulah caranya orang menjadi kaya.” Ide ide. TED-ster Bill Gates mengatakan, “saya punya ide — membangun perusahaan piranti lunak mikro komputer pertama.” menurut saya itu adalah ide yang cukup bagus. dan tidak ada keajaiban di kreativitas untuk menghasilkan ide ide, hanya melakukan hla hal yang sangat sederhana. dan saya memberikan banyak bukti. keuletan. Joe Kraus mengatakan, “keuletan adalah alasan nomor wahid atas kesuksesan kita.” anda harus gigih melalui kegagalan. anda harus gigih melalui hambatan! (humor: CRAP sebagai singkatan). yang tentu saja berarti “kritk, penolakan, brengsek dan tekanan.” jadi, jawaban besar dari pertayaan yang sederhana ini: bayar saja 4000 dolar dan datang ke TED.  atau gagal dalam hal tersebut, lakukan delapan hal tersebut — dan percayalah pada saya, ini adalah delapan hal besar yang akan membawa ke kesuksesan terimakasih para TED-ster untuk semua wawancara kalian!

John Wooden: the difference between winning and succeeding

You can lose when you outscore somebody in a game. And you can win when you’re outscored.” (John Wooden)

Saya menciptakan definisi saya tentang sukses pada tahun 1934, ketika mengajar di sebuah SMU di South Bend, Indiana, karena merasa sedikit kecewa dan terpedaya, mungkin terhadap cara orang tua dari anak-anak di kelas bahasa Inggris saya mengharapkan anak-anak mereka untuk mendapatkan A atau B. Mereka pikir C cocoknya untuk anak-anak tetangga, karena anak-anak tetangga kemampuannya rata-rata semua. Tapi mereka tidak puas ketika anak mereka sendiri — akan membuat guru merasa telah gagal, atau anak itu telah gagal. Dan itu tidak benar. Tuhan memiliki kebijaksanaan yang tak terbatas dengan menciptakan tingkatan kecerdasan yang berbeda-beda, sebagaimana kita diciptakan berbeda ukuran dan bentuk. Tidak semua orang bisa mendapatkan A atau B, dan saya tidak suka penilaian seperti itu.

Dan saya tahu bagaimana alumni berbagai sekolah pada tahun 30-an menilai pelatih dan tim atletik. Jika Anda memenangkan semua pertandingan, Anda dianggap cukup berhasil — tidak sepenuhnya. Karena saya menemukan — kami tidak pernah kalah pertandingan selama beberapa tahun di UCLA. Tapi sepertinya kami tidak memenangkan setiap permainan dengan margin yang diramalkan beberapa alumni kami dan saya cukup sering — (Tawa penonton) — saya cukup sering merasa bahwa mereka mendukung prediksi mereka dengan cara yang lebih materialistis. Tapi itu yang terjadi pada tahun 30an, jadi saya mengerti itu. Tapi saya tidak menyukainya. Dan saya tidak menyetujuinya. Dan saya ingin mengajarkan sesuatu yang bisa membuat saya menjadi guru yang lebih baik, dan memberikan kepada murid-murid di bawah pengawasan saya — baik itu dalam di kelas atletik atau kelas bahasa Inggris — sesuatu yang bisa menginspirasi, lebih dari sekedar nilai yang lebih tinggi dalam kelas atau poin yang lebih banyak di perlombaan atletik.

Saya cukup lama memikirkan hal itu, dan saya ingin menciptakan definisi saya sendiri. Saya pikir itu mungkin berguna. Dan saya tahu bagaimana Mr. Webster mendefinisikan itu: sebagai akumulasi harta benda atau pencapaian posisi kekuasaan atau prestise, atau yang sejenis itu — mungkin pencapaian yang hebat, tapi menurut saya tidak selalu menunjukkan keberhasilan. Jadi saya ingin menghasilkan sesuatu dari saya sendiri.

Dan saya ingat – saya dibesarkan di sebuah pertanian kecil di Southern Indiana dan Ayah saya mencoba mengajari saya dan saudara-saudara lelaki saya bahwa Anda tidak harus bersaing dengan orang lain. Saya yakin pada saat itu ia mengajarkannya, saya tidak — itu tidak — atau mungkin tersembunyi di suatu tempat dalam pikiran saya, lalu muncul beberapa tahun kemudian. Jangan pernah berusaha jadi lebih baik daripada orang lain, selalu belajar dari orang lain. Jangan pernah berhenti mencoba sebaik mungkin yang Anda bisa – selama itu di bawah kendali Anda. Jika Anda terlalu asyik dan terlibat dan peduli dengan hal yang tidak dapat Anda kendalikan, maka akan berpengaruh buruk pada hal-hal yang bisa Anda kendalikan. Lalu saya teringat kalimat sederhana yang mengatakan, “Pada tumpuan kaki Allah untuk mengaku, jiwa yang miskin berlutut, dan menundukkan kepalanya. “Saya gagal!” Dia menangis. Guru berkata, “Ketika kamu telah melakukan sebaik kemampuanmu, maka itulah yang namanya sukses.”

Dari hal ini, dan mungkin hal yang lain, Saya menciptakan definisi saya sendiri tentang sukses, yaitu: ketenangan pikiran yang diperoleh hanya melalui kepuasan diri sendiri ketika menyadari bahwa Anda telah berusaha sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan Anda. Saya percaya bahwa itu adalah benar. Jika kamu telah berusaha melakukan yang terbaik sesuai dengan kemampuanmu, untuk mencoba meningkatkan kondisi yang telah tersedia untuk Anda, Saya pikir itu adalah sukses. Dan Saya pikir orang lain tidak bisa menentukan itu. Saya pikir itu seperti karakter dan reputasi. Reputasi Anda adalah penilaian orang lain terhadap Anda; Karakter ada adalah diri Anda yang sebenarnya. Dan Saya kira karakter jauh lebih penting daripada penilaian orang lain. Anda berharap kedua hal tersebut bagus, tapi kedua hal tersebut tidak selalu sama. Itu ide yang saya coba sampaikan kepada para pemuda.

Saya mengerjakan hal lain. Saya suka mengajar dan hal itu telah disebutkan oleh pembicara sebelumnya bahwa saya menikmati puisi, dan saya mencoba-coba di dalamnya sedikit, dan menyukainya. Ada beberapa hal yang mungkin membantu saya menjadi lebih baik saya dari yang saya bayangkan. Saya tahu saya tidak menjadi apa yang semestinya, tidak menjadi apa yang seharusnya. Tapi sepertinya saya menjadi lebih baik dari yang saya bayangkan seandainya saya tidak melalui beberapa hal. Salah satunya adalah kalimat pendek yang menyebutkan,

“Tidak ada kata tertulis, tidak ada permohonan terucap yang dapat mengajarkan murid kita bagaimana mereka seharusnya menjadi. Tidak juga ada di buku di semua rak — mereka sendiri adalah para gurunya sendiri. ”

Yang membuat saya terkesan di tahun 1930. Dan saya mencoba menggunakan itu saat mengajar, apakah itu dalam kelas olah raga atau kelas bahasa inggris. Saya menyukai puisi dan entah bagaimana selalu memiliki ketertarikan padanya. Mungkin karena ayah saya dulu selalu membacakannya kepada kami setiap malam. Lampu arang dan minyak — kami tidak mempunyai listrik di rumah pertanian kami. Dan ayah saya membacakan kami puisi. Jadi saya selalu menyukainya. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan dengan penemuan bait tadi, saya menemukan bait lain. Seseorang bertanya kepada seorang guru perempuan mengapa dia mengajar. Dan dia — setelah beberapa waktu, berkata dia ingin memikirkan hal itu. Kemudian dia datang dan berkata,

“Mereka bertanya mengapa saya mengajar dan saya menjawab, “Di mana lagi saya dapat menemukan teman sebaik mereka?’ Di sana seorang negarawan berkuasa, kuat, adil, bijaksana; Seperti Daniel Webster, seorang negarawan yang persuasif. Seorang dokter duduk di sebelahnya, dengan tangannya yang tangkas dan kukuh mampu memperbaiki tulang, atau memantik aliran kehidupan. Di sana ada pembangun. Menjulang tinggi lengkung gereja yang ia bangun, dimana pendeta dapat menyampaikan firman Allah dan membimbing jiwa yang sesat kepada Kristus. Dan dimana-mana berkumpullah para guru, petani, pedagang, buruh: mereka yang bekerja dan memilih dan membangun dan merencanakan dan berdoa untuk hari esok yang baik. Dan saya mungkin akan bilang, saya mungkin tak melihat gereja, atau mendengar firman atau makan makanan yang mereka tumbuhkan. Tapi mungkin saja itu terjadi. Mungkin saya akan berkata, Saya pernah mengenalnya, dan ia lemah, atau kuat, atau berani atau bangga atau ceria. Saya pernah mengenalnya, tetapi saat ia masih kecil. Mereka bertanya mengapa saya mengajar dan saya menjawab, ‘Di mana lagi saya bisa menemukan teman sebaik mereka?’ ”

Dan saya percaya profesi sebagai guru — memang benar, Anda memiliki begitu banyak murid. Dan saya mengenang murid-murid saya di UCLA – 30 orang pengacara, 11 orang dokter gigi dan dokter, banyak, banyak guru dan profesi lainnya. Dan itu yang memberikan Anda banyak kebahagiaan, untuk melihat mereka maju. Saya selalu berusaha agar murid-murid saya merasa bahwa mereka di sana untuk mendapatkan pendidikan, paling utama. Basketbal yang kedua, karena itu yang membiayai pendidikan mereka, dan mereka memerlukan sedikit waktu untuk aktifitas sosial, tetapi begitu kegiatan sosial menjadi kegiatan utama maka perjalanan Anda tidak akan panjang. Jadi, itulah ide yang saya berusaha sampaikan pada murid-murid di bawah bimbingan saya.

Saya punya tiga aturan, kurang lebih, yang selalu saya praktekkan. Saya mempelajarinya sebelum masuk UCLA, dan saya memutuskan bahwa mereka sangat penting. Pertama — Jangan pernah telat. Jangan pernah telat. Kemudian saya mengatakan hal-hal tertentu — Saya mempunyai — pemain, jika kita mengunjungi suatu tempat, harus rapi dan bersih. Ada suatu masa ketika saya meminta mereka memakai jaket dan kemeja dan dasi. Lalu saya melihat kepala sekolah datang ke sekolah memakai celana jins dan kaus turtleneck, dan saya berpikir, tidak benar kalo saya tetap menyuruh pemain saya memakai pakaian tersebut. Jadi saya biarkan mereka berpakaian apa saja — yang penting mereka tetap rapi dan bersih Salah satu pemain terbaik saya mungkin pernah Anda dengar namanya, Bill Walton. Dia datang untuk naik bis; saat itu kami hendak pergi ke suatu tempat untuk bermain. Dan dia tidak bersih dan rapi, jadi saya tidak akan mengizinkannya ikut. Dia tidak boleh naik bus. Dia harus pulang ke rumah dan membersihkan diri sebelum pergi ke bandara. Jadi saya mengotot soal itu. Saya percaya itu. Saya percaya pada waktu — benar-benar penting. Saya percaya Anda harus tepat waktu. Tapi saya merasa saat latihan, misalnya, kami mulai tepat waktu, kami selesai tepat waktu. Murid-murid tidak perlu merasa bahwa kami terlalu berlebihan menjaga mereka

Ketika saya berbicara di konferensi pelatih, saya sering mengatakan pada para pelatih muda –di konferensi pelatih, biasanya yang akan mendapatkan sebagai pelatih adalah pelatih muda. Kebanyakan dari mereka masih muda dan mungkin baru menikah. Dan Saya katakan kepada mereka, “Jangan pernah mengadakan latihan terlambat.” Karena kamu akan balik ke rumah dengan perasaan yang tidak baik. Dan itu tidak bagus, untuk anak muda yang baru menikah pulang dengan perasaan yang tidak baik. Ketika Anda sudah tua, hal itu tidak menjadi masalah, “Tapi —

(Tawa penonton)

Saya percaya harus tepat waktu. Saya percaya harus mulai tepat waktu, dan saya percaya harus selesai tepat waktu. Dan peraturan saya yang lain adalah, tidak boleh ada ucapan kotor. Satu kata tidak pantas, Anda keluar saat itu juga. Jika saya melihatnya dalam pertandingan, Anda akan keluar dan duduk di bangku cadangan. Dan yang ketiga adalah, jangan pernah mengkritik teman satu tim. Saya tidak menginginkannya. Dulu saya sering mengatakan kepada mereka bahwa saya dibayar untuk melakukan itu. Itu pekerjaan saya. Saya dibayar untuk melakukannya. Bayaran yang menyedihkan, tapi saya dibayar untuk itu. Tidak seperti para pelatih sekarang, demi dianggap ramah, tidak. Ini sedikit perbedaan pada zaman saya. Ketiga peraturan itu yang selalu saya pegang kuat setiap saat. Dan itu sebenarnya berasal dari ayah saya. Yang dia ajarkan kepada saya dan saudara-saudara lelaki saya dulu.

Pada akhirnya saya menemukan piramida, tapi tak ada waktu untuk menjelaskannya. Tapi hal itu membantu saya, menjadi seorang guru yang lebih baik. Sesuatu seperti ini: Ada beberapa blok di piramida, dan dasarnya adalah kerajinan dan antusiasme, kerja keras dan menikmati apa yang Anda lakukan, menuju puncak menurut defenisi kesuksesan saya. Yang paling di atas adalah — iman dan kesabaran Dan saya katakan kepada Anda, apapun yang Anda lakukan, Anda harus bersabar. Anda harus memiliki kesabaran — kita ingin tujuan kita tercapai. Kita menganggap kaum muda sering tak sabar. Dan memang begitu. Meraka ingin merubah segalanya. Mereka pikir semua perubahan adalah kemajuan. Dan semakin dewasa — kita cenderung membiarkan apa adanya. Dan kita lupa bahwa tidak ada kemajuan tanpa perubahan. Jadi Anda harus bersabar. Saya percaya bahwa kita harus memiliki iman. Saya percaya bahwa kita harus percaya, benar-benar percaya. Tidak sekedar bicara saja; percaya bahwa segala sesuatu akan terjadi sebagaimana mestinya, asal kita melakukan apa yang mestinya kita lakukan. Saya pikir kita cenderung berharap bahwa dunia akan berubah sesuai yang kita mau pada umumnya. Tapi kita tidak melakukan hal-hal yang perlu agar keinginan kita menjadi kenyataan. Saya mempelajari ini selama 14 tahun, dan Saya pikir itu membantu saya menjadi seorang guru yang lebih baik. Tapi itu semua berkisar pada definisi awal dari kesuksesan.

Anda tahu beberapa tahun yang lalu, ada wasit Liga Basebal Besar bernama George Moriarty. Ia mengeja Moriarty hanya dengan satu ‘i’. Saya belum pernah menyadarinya sebelumnya, tapi dia sadar. Pemain liga besar basebal — mereka sangat peka tentang hal-hal itu, dan mereka menyadari bahwa dia hanya punya satu ‘i’ di namanya. Anda juga akan terkejut betapa banyak yang pernah bilang padanya bahwa ada lebih dari satu di pikirannya berkali-kali.

(Tawa penonton)

Tapi dia menulis puisi ketika saya tengah mengerjakan di piramida ini. Dia menyebutnya “The Road Ahead” or the Road Behind.” “Terkadang saya mengira Takdir harus menyeringai ketika kami cela mereka dan bersikeras bahwa satu-satunya alasan kita tidak bisa menang, adalah Takdir yang salah. Namun, ada kepercayaan lama yang berteguh: kita menang atau kalah dengan diri sendiri. Piala berkilau di rak tidak akan pernah memenangkan pertandingan kelak. Kita tahu selalu ada kesempatan untuk menang. Tapi saat kita tak berusaha sepenuhnya, kita gagal cobaan, dalam mengurah kemampuan sampai pertandingan benar-benar dimenangkan; gagal menunjukkan apa artinya tabah; dengan terus bermain saat orang telah menyerah; dengan terus bermain, menolak kalah. Pemenangnya adalah keteguhan. Pemenangnya adalah tujuan di depan; pemenangnya adalah harapan saat impian tenggelam; pemenangnya adalah doa saat harapan menghilang. Biarpun kalah, tidak takut jatuh, saat segala usaha telah dicoba. Karena tak akan ada yang menyalahkan pemain yang mengerahkan segala kemampuan. Melakukan sebaiknya, sepertinya, mirip dengan kemenangan. Maka Takdir jarang salah, bagaimanapun mereka memutar dan melintir. Kitalah yang menciptakan Takdir — Kitalah yang membuka atau menutup gerbang perjalanan ke depan atau ke belakang.”

Ini mengingatkan saya pada set trinitas lain yang diajarkan ayah saya. Jangan merengek. Jangan mengeluh. Jangan membuat alasan. Lakukan saja, dan apapun itu, lakukan sebaik Anda yang mampu. Dan tidak seorangpun dapat melakukan lebih dari itu. Saya mencoba mengajarkan hal itu juga, yang — apa yang lawan saya tak akan ceritakan — saya tak pernah menuntut kemenangan. Jangan pernah menuntut kemenangan. Idenya adalah Anda bisa tetap kalah meskipun menang angka skor. Dan Anda bisa tetap menang saat kalah angka skor. Saya merasakan itu pada beberapa kesempatan, beberapa kali. Dan saya hanya ingin mereka mampu menegakkan kepala mereka setelah sebuah pertandingan. Saya dulu sering bilang bahwa saat pertandingan selesai, dan bertemu seseorang yang tidak tahu hasilnya, Saya berharap mereka tidak dapat menebak dari sikap Anda apakah Anda menang atau kalau dalam perhitungan angka skor.

Karena itu paling penting: jika Anda berusaha melakukan yang terbaik secara rutin, hasilnya tidak akan jauh dari yang seharusnya. Tidak harus seperti yang Anda inginkan, tapi tidak jauh dari yang seharusnya, dan hanya Anda yang akan tahu batas kemampuan untuk itu. Dan itulah yang saya inginkan dari mereka lebih dari apapun. Dan seiring berlalunya waktu, dan saya belajar lebih banyak tentang hal-hal lain, Saya kira ini membantu sebatas perhitungan hasil. Tapi saya ingin skor pertandingan menjadi hasil sampingan dari hal-hal lain ini, bukannya sebagai tujuan akhir dari semuanya. Sepertinya — salah satu filsuf besar berkata — bukan, Cervantes. Cervantes yang bilang, “Perjalanan lebih baik daripada tujuan.” Dan saya menyukainya. Saya kira itu adalah — tentang perjalanan. Kadang ketika mencapai tujuan, terasa semacam kekecewaan. Tapi perjalanan ke sana yang membuatnya menyenangkan. Saya suka — sebagai pelatih basket di UCLA saya suka mengumpamakan latihan kita sebagai perjalanan, dan pertandingan adalah tujuan. Hasil akhir. Saya suka duduk di tribun dan menonton pertandingan, dan melihat apakah saya telah melakukan pekerjaan yang layak selama seminggu. Ada juga, membuat para pemain untuk merasakan kepuasan pada dirinya sendiri, dengan mengetahui bahwa mereka telah melakukan yang terbaik dari kemampuan mereka.

Kadang saya ditanya, siapakah pemain terbaik atau tim terbaik. Saya tidak pernah dapat menjawabnya, selama hal itu bersangkutan dengan individu. Saya pernah ditanya begitu sekali, dan mereka bilang, “Seandainya dapat menciptakan pemain yang sempurna, apa yang akan Anda inginkan?” Dan saya menjawab, “Saya ingin seseorang yang mengetahui kenapa dia berada di UCLA: untuk mengenyam pendidikan, seorang pelajar yang baik, mengetahui dengan pasti alasan keberadaannya di sana. Tapi saya juga ingin seseorang yang dapat bermain. Saya ingin seseorang yang menyadari bahwa pertahanan biasanya memenangkan kejuaraan, dan akan bekerja keras dalam pertahanan. Tapi saya ingin seseorang yang akan menyerang juga. Saya ingin dia tidak egois, dan berusaha mengoper bola dan tidak menembak terus-menerus. Dan saya ingin seseorang yang mampu dan ingin mengoper bola.

(Tawa penonton)

Saya pernah mempunyai beberapa pemain yang mampu tapi tak ingin mengoper, dan saya pernah mempunyai pemain yang ingin tapi tak mampu mengoper.

(Tawa penonton)

Saya ingin mereka mampu menembak dari luar. Saya ingin mereka mampu menembak dari dalam juga.

(Tawa penonton)

Saya juga ingin mereka dapat menangkap dengan baik bola yang memantul pada kedua sisi lapangan. Ambillah contoh Keith Wilkes dan pahami sendiri. Dia memiliki kualifikasi. Bukan hanya satu, tapi dia adalah salah satu yang saya gunakan dalam kategori tertentu, karena saya pikir dia telah berusaha menjadi yang terbaik.

Saya sebutkan dalam buku saya, “They Call Me Coach.” Dua pemain yang memberikan saya kepuasan besar; yang saya rasa telah berusaha mencapai batas maksimal potensi mereka: satu adalah Conrad Burke. Yang kedua Doug McIntosh. Ketika saya melihat mereka sebagai mahasiswa baru, dalam tim pemula kami — kami tidak punya — ketika saya mengajar, mahasiswa baru dlarang ikut regu universitas. Dan saya pikir, “Ampun, jika kedua pemain, atau salah satu dari mereka” — mereka berbeda tingkatan tapi saya memikirkan hal yang sama dengan keduanya — “Jika ia sampai masuk regu universitas, regu kami pasti cukup menyedihkan, jika dia cukup baik untuk itu.” Dan Anda mengenal satu dari mereka adalah seorang pemain pemula selama satu setengah musim. Yang satunya — tahun berikutnya, dia bermain selama 32 menit dalam pertandingan kejuaraan nasional, melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk kami. Tahun berikutnya, dia bermain sebagai pemain pemula dalam tim kejuaraan nasional. Dan di sini saya pikir dia tidak pernah bermain sebentar, ketika ia — sehingga mereka memberikan sukacita yang besar, dan satu kepuasan besar untuk ditonton. Tidak satu pun dari keduanya dapat menembak dengan baik. Tapi mereka memiliki persentase tembakan yang luar biasa, karena mereka tidak memaksakanny. Keduanya juga tak bisa melompat sangat baik, tetapi mereka — tetap menjaga posisi yang baik, sehingga mendapat banyak kesempatan untuk memainkan bola pantulan. Mereka mengingat bahwa setiap tembakan yang diambil, mereka anggap akan meleset. Kebanyakan pemain hanya berdiri di sekitar ring basket dan menunggu jika tembakannya meleset, lalu baru berusaha memantulkannya setelah terlambat. Orang lain sudah mendahului mereka. Kedua pemain tadi tidak terlalu cepat, tapi mereka menjaga posisi mereka dengan baik, menjaga keseimbangan mereka dengan baik. Jadi pertahanan mereka terjaga baik. Keduanya memiliki kualitas yang — nyaris — sedekat mungkin pada batas potensi maksimal mereka dari semua pemain yang pernah saya latih. Saya menganggap keduanya seberhasil Lewis Alcindor atau Bill Walton, atau seperti banyak pemain lain yang kita miliki. Beberapa yang luar biasa — beberapa pemain yang luar biasa.

Apakah saya telah cukup mengoceh ? Saya diberitahu bahwa saat Pembicara itu muncul, saya harus tutup mulut.