Richard St. John’s 8 secrets of success

The interesting thing is: if you do it for love, the money comes anyway.” (Richard St. John)

ini sebenarnya adalah presentasi sepanjang dua jam yang saya berikan kepada siswa sekolah menegah atas, yang disingkat menjadi tiga menit. dan semuanya dimulai sewaktu saya sedang di pesawat menuju TED, tujuh tahun yang lalu. dan di tempat duduk sebelah saya ada seorang siswa sekolah menengah atas, seorang remaja, dan dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. dan dia ingin melakukan sesuatu dalam kehidupannya, dan dia menanyakan sebuah pertanyaan yang sederhana. dia bertanya, “apa yang membawa kita menuju kesuksesan?” dan saya merasa tidak enak, karena saya tidak bisa memberikan jawaban yang baik. kemudian saya turun dari pesawat, dan datang ke TED. dan berpikir, ya tuhan, saya berada di tengah ruangan penuh akan orang orang yang sukses! jadi kenapa saya tidak menanyakan mereka apa yang membuat mereka sukses, dan menyampaikannya kepada anak anak? nah setelah jutuh tahun, 500 wawancara, dan saya akan menceritakan kepada kalian apa yang benar benar membawa ke kesuksesan dan membuat para TED-ster tertarik. hal yang pertama adalah gairah. Freeman Thomas mengatakan, “saya didorong oleh gairah saya” para TED-ster melakukannya karena cinta, mereka tidak melakukannya karena uang. Carol Coletta mengatakan, “saya akan membayar seseorang untuk melakukan apa yang saya lakukan.” dan hal yang menarik adalah, bila anda melakukannya karena cinta, uang bakal menyusul kemudian. Kerja! Rupert Murdoch mengatakan pada saya, ” intinya kerja keras. tidak ada yang datang dengan mudah. namun saya menikmatinya.” apa dia mengatakan kesenangan? Rupert? ya! para TED-ster memang senang bekerja. dan mereka bekerja sangat keras. saya bependapat, mereka tidak workaholics (gila kerja). mereka workafrolics (senang bekerja) Alex Garden mengatakan, “untuk menjadi lebih sukses dalami suatu hal dan jadilah lebih baik dalam hal tersebut.” tidak ada keajaiban, yang ada latihan, latihan, latihan. dan fokus. Norman Jewinson katakan kepada saya, “saya pikir semuanya berhubungan dengan memfokuskan diri anda pada satu hal” dan dorongan! David Gello mangatakan, ” dorong diri anda. secata fisik, mental, anda harus mdorong, terus, dan terus.” anda harus mendorong diri anda melalui rasa malu dan kurang percaya diri. Goldie Hawn mengatakan, “saya selalu kurang percaya diri. saya tidak cukup baik, saya tidak cukup pintar. saya pikir saya tidak akan mampu.” memang tidak selalu mudah mendorong diri anda, dan karena itulah mereka menciptakan para ibu.  Frank Gehry — Frank Gehry mengatakan kepada saya, ibu saya mendorong saya.” pelayanan! Sherwin Nuland mengatakan, “sebuah berkah untuk melayani sebagai seorang dokter.” sekarang banyak anak anak mengatakan bahwa mereka ingin menjadi jutawan. dan hal yang pertama yang saya katakan kepada mereka adalah “OK, kalian tidak dapat melayani dirikalian sendiri, kalian harus melayani orang lain sesuatu yang berharga. karena itulah caranya orang menjadi kaya.” Ide ide. TED-ster Bill Gates mengatakan, “saya punya ide — membangun perusahaan piranti lunak mikro komputer pertama.” menurut saya itu adalah ide yang cukup bagus. dan tidak ada keajaiban di kreativitas untuk menghasilkan ide ide, hanya melakukan hla hal yang sangat sederhana. dan saya memberikan banyak bukti. keuletan. Joe Kraus mengatakan, “keuletan adalah alasan nomor wahid atas kesuksesan kita.” anda harus gigih melalui kegagalan. anda harus gigih melalui hambatan! (humor: CRAP sebagai singkatan). yang tentu saja berarti “kritk, penolakan, brengsek dan tekanan.” jadi, jawaban besar dari pertayaan yang sederhana ini: bayar saja 4000 dolar dan datang ke TED.  atau gagal dalam hal tersebut, lakukan delapan hal tersebut — dan percayalah pada saya, ini adalah delapan hal besar yang akan membawa ke kesuksesan terimakasih para TED-ster untuk semua wawancara kalian!

Advertisements

John Wooden: the difference between winning and succeeding

You can lose when you outscore somebody in a game. And you can win when you’re outscored.” (John Wooden)

Saya menciptakan definisi saya tentang sukses pada tahun 1934, ketika mengajar di sebuah SMU di South Bend, Indiana, karena merasa sedikit kecewa dan terpedaya, mungkin terhadap cara orang tua dari anak-anak di kelas bahasa Inggris saya mengharapkan anak-anak mereka untuk mendapatkan A atau B. Mereka pikir C cocoknya untuk anak-anak tetangga, karena anak-anak tetangga kemampuannya rata-rata semua. Tapi mereka tidak puas ketika anak mereka sendiri — akan membuat guru merasa telah gagal, atau anak itu telah gagal. Dan itu tidak benar. Tuhan memiliki kebijaksanaan yang tak terbatas dengan menciptakan tingkatan kecerdasan yang berbeda-beda, sebagaimana kita diciptakan berbeda ukuran dan bentuk. Tidak semua orang bisa mendapatkan A atau B, dan saya tidak suka penilaian seperti itu.

Dan saya tahu bagaimana alumni berbagai sekolah pada tahun 30-an menilai pelatih dan tim atletik. Jika Anda memenangkan semua pertandingan, Anda dianggap cukup berhasil — tidak sepenuhnya. Karena saya menemukan — kami tidak pernah kalah pertandingan selama beberapa tahun di UCLA. Tapi sepertinya kami tidak memenangkan setiap permainan dengan margin yang diramalkan beberapa alumni kami dan saya cukup sering — (Tawa penonton) — saya cukup sering merasa bahwa mereka mendukung prediksi mereka dengan cara yang lebih materialistis. Tapi itu yang terjadi pada tahun 30an, jadi saya mengerti itu. Tapi saya tidak menyukainya. Dan saya tidak menyetujuinya. Dan saya ingin mengajarkan sesuatu yang bisa membuat saya menjadi guru yang lebih baik, dan memberikan kepada murid-murid di bawah pengawasan saya — baik itu dalam di kelas atletik atau kelas bahasa Inggris — sesuatu yang bisa menginspirasi, lebih dari sekedar nilai yang lebih tinggi dalam kelas atau poin yang lebih banyak di perlombaan atletik.

Saya cukup lama memikirkan hal itu, dan saya ingin menciptakan definisi saya sendiri. Saya pikir itu mungkin berguna. Dan saya tahu bagaimana Mr. Webster mendefinisikan itu: sebagai akumulasi harta benda atau pencapaian posisi kekuasaan atau prestise, atau yang sejenis itu — mungkin pencapaian yang hebat, tapi menurut saya tidak selalu menunjukkan keberhasilan. Jadi saya ingin menghasilkan sesuatu dari saya sendiri.

Dan saya ingat – saya dibesarkan di sebuah pertanian kecil di Southern Indiana dan Ayah saya mencoba mengajari saya dan saudara-saudara lelaki saya bahwa Anda tidak harus bersaing dengan orang lain. Saya yakin pada saat itu ia mengajarkannya, saya tidak — itu tidak — atau mungkin tersembunyi di suatu tempat dalam pikiran saya, lalu muncul beberapa tahun kemudian. Jangan pernah berusaha jadi lebih baik daripada orang lain, selalu belajar dari orang lain. Jangan pernah berhenti mencoba sebaik mungkin yang Anda bisa – selama itu di bawah kendali Anda. Jika Anda terlalu asyik dan terlibat dan peduli dengan hal yang tidak dapat Anda kendalikan, maka akan berpengaruh buruk pada hal-hal yang bisa Anda kendalikan. Lalu saya teringat kalimat sederhana yang mengatakan, “Pada tumpuan kaki Allah untuk mengaku, jiwa yang miskin berlutut, dan menundukkan kepalanya. “Saya gagal!” Dia menangis. Guru berkata, “Ketika kamu telah melakukan sebaik kemampuanmu, maka itulah yang namanya sukses.”

Dari hal ini, dan mungkin hal yang lain, Saya menciptakan definisi saya sendiri tentang sukses, yaitu: ketenangan pikiran yang diperoleh hanya melalui kepuasan diri sendiri ketika menyadari bahwa Anda telah berusaha sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan Anda. Saya percaya bahwa itu adalah benar. Jika kamu telah berusaha melakukan yang terbaik sesuai dengan kemampuanmu, untuk mencoba meningkatkan kondisi yang telah tersedia untuk Anda, Saya pikir itu adalah sukses. Dan Saya pikir orang lain tidak bisa menentukan itu. Saya pikir itu seperti karakter dan reputasi. Reputasi Anda adalah penilaian orang lain terhadap Anda; Karakter ada adalah diri Anda yang sebenarnya. Dan Saya kira karakter jauh lebih penting daripada penilaian orang lain. Anda berharap kedua hal tersebut bagus, tapi kedua hal tersebut tidak selalu sama. Itu ide yang saya coba sampaikan kepada para pemuda.

Saya mengerjakan hal lain. Saya suka mengajar dan hal itu telah disebutkan oleh pembicara sebelumnya bahwa saya menikmati puisi, dan saya mencoba-coba di dalamnya sedikit, dan menyukainya. Ada beberapa hal yang mungkin membantu saya menjadi lebih baik saya dari yang saya bayangkan. Saya tahu saya tidak menjadi apa yang semestinya, tidak menjadi apa yang seharusnya. Tapi sepertinya saya menjadi lebih baik dari yang saya bayangkan seandainya saya tidak melalui beberapa hal. Salah satunya adalah kalimat pendek yang menyebutkan,

“Tidak ada kata tertulis, tidak ada permohonan terucap yang dapat mengajarkan murid kita bagaimana mereka seharusnya menjadi. Tidak juga ada di buku di semua rak — mereka sendiri adalah para gurunya sendiri. ”

Yang membuat saya terkesan di tahun 1930. Dan saya mencoba menggunakan itu saat mengajar, apakah itu dalam kelas olah raga atau kelas bahasa inggris. Saya menyukai puisi dan entah bagaimana selalu memiliki ketertarikan padanya. Mungkin karena ayah saya dulu selalu membacakannya kepada kami setiap malam. Lampu arang dan minyak — kami tidak mempunyai listrik di rumah pertanian kami. Dan ayah saya membacakan kami puisi. Jadi saya selalu menyukainya. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan dengan penemuan bait tadi, saya menemukan bait lain. Seseorang bertanya kepada seorang guru perempuan mengapa dia mengajar. Dan dia — setelah beberapa waktu, berkata dia ingin memikirkan hal itu. Kemudian dia datang dan berkata,

“Mereka bertanya mengapa saya mengajar dan saya menjawab, “Di mana lagi saya dapat menemukan teman sebaik mereka?’ Di sana seorang negarawan berkuasa, kuat, adil, bijaksana; Seperti Daniel Webster, seorang negarawan yang persuasif. Seorang dokter duduk di sebelahnya, dengan tangannya yang tangkas dan kukuh mampu memperbaiki tulang, atau memantik aliran kehidupan. Di sana ada pembangun. Menjulang tinggi lengkung gereja yang ia bangun, dimana pendeta dapat menyampaikan firman Allah dan membimbing jiwa yang sesat kepada Kristus. Dan dimana-mana berkumpullah para guru, petani, pedagang, buruh: mereka yang bekerja dan memilih dan membangun dan merencanakan dan berdoa untuk hari esok yang baik. Dan saya mungkin akan bilang, saya mungkin tak melihat gereja, atau mendengar firman atau makan makanan yang mereka tumbuhkan. Tapi mungkin saja itu terjadi. Mungkin saya akan berkata, Saya pernah mengenalnya, dan ia lemah, atau kuat, atau berani atau bangga atau ceria. Saya pernah mengenalnya, tetapi saat ia masih kecil. Mereka bertanya mengapa saya mengajar dan saya menjawab, ‘Di mana lagi saya bisa menemukan teman sebaik mereka?’ ”

Dan saya percaya profesi sebagai guru — memang benar, Anda memiliki begitu banyak murid. Dan saya mengenang murid-murid saya di UCLA – 30 orang pengacara, 11 orang dokter gigi dan dokter, banyak, banyak guru dan profesi lainnya. Dan itu yang memberikan Anda banyak kebahagiaan, untuk melihat mereka maju. Saya selalu berusaha agar murid-murid saya merasa bahwa mereka di sana untuk mendapatkan pendidikan, paling utama. Basketbal yang kedua, karena itu yang membiayai pendidikan mereka, dan mereka memerlukan sedikit waktu untuk aktifitas sosial, tetapi begitu kegiatan sosial menjadi kegiatan utama maka perjalanan Anda tidak akan panjang. Jadi, itulah ide yang saya berusaha sampaikan pada murid-murid di bawah bimbingan saya.

Saya punya tiga aturan, kurang lebih, yang selalu saya praktekkan. Saya mempelajarinya sebelum masuk UCLA, dan saya memutuskan bahwa mereka sangat penting. Pertama — Jangan pernah telat. Jangan pernah telat. Kemudian saya mengatakan hal-hal tertentu — Saya mempunyai — pemain, jika kita mengunjungi suatu tempat, harus rapi dan bersih. Ada suatu masa ketika saya meminta mereka memakai jaket dan kemeja dan dasi. Lalu saya melihat kepala sekolah datang ke sekolah memakai celana jins dan kaus turtleneck, dan saya berpikir, tidak benar kalo saya tetap menyuruh pemain saya memakai pakaian tersebut. Jadi saya biarkan mereka berpakaian apa saja — yang penting mereka tetap rapi dan bersih Salah satu pemain terbaik saya mungkin pernah Anda dengar namanya, Bill Walton. Dia datang untuk naik bis; saat itu kami hendak pergi ke suatu tempat untuk bermain. Dan dia tidak bersih dan rapi, jadi saya tidak akan mengizinkannya ikut. Dia tidak boleh naik bus. Dia harus pulang ke rumah dan membersihkan diri sebelum pergi ke bandara. Jadi saya mengotot soal itu. Saya percaya itu. Saya percaya pada waktu — benar-benar penting. Saya percaya Anda harus tepat waktu. Tapi saya merasa saat latihan, misalnya, kami mulai tepat waktu, kami selesai tepat waktu. Murid-murid tidak perlu merasa bahwa kami terlalu berlebihan menjaga mereka

Ketika saya berbicara di konferensi pelatih, saya sering mengatakan pada para pelatih muda –di konferensi pelatih, biasanya yang akan mendapatkan sebagai pelatih adalah pelatih muda. Kebanyakan dari mereka masih muda dan mungkin baru menikah. Dan Saya katakan kepada mereka, “Jangan pernah mengadakan latihan terlambat.” Karena kamu akan balik ke rumah dengan perasaan yang tidak baik. Dan itu tidak bagus, untuk anak muda yang baru menikah pulang dengan perasaan yang tidak baik. Ketika Anda sudah tua, hal itu tidak menjadi masalah, “Tapi —

(Tawa penonton)

Saya percaya harus tepat waktu. Saya percaya harus mulai tepat waktu, dan saya percaya harus selesai tepat waktu. Dan peraturan saya yang lain adalah, tidak boleh ada ucapan kotor. Satu kata tidak pantas, Anda keluar saat itu juga. Jika saya melihatnya dalam pertandingan, Anda akan keluar dan duduk di bangku cadangan. Dan yang ketiga adalah, jangan pernah mengkritik teman satu tim. Saya tidak menginginkannya. Dulu saya sering mengatakan kepada mereka bahwa saya dibayar untuk melakukan itu. Itu pekerjaan saya. Saya dibayar untuk melakukannya. Bayaran yang menyedihkan, tapi saya dibayar untuk itu. Tidak seperti para pelatih sekarang, demi dianggap ramah, tidak. Ini sedikit perbedaan pada zaman saya. Ketiga peraturan itu yang selalu saya pegang kuat setiap saat. Dan itu sebenarnya berasal dari ayah saya. Yang dia ajarkan kepada saya dan saudara-saudara lelaki saya dulu.

Pada akhirnya saya menemukan piramida, tapi tak ada waktu untuk menjelaskannya. Tapi hal itu membantu saya, menjadi seorang guru yang lebih baik. Sesuatu seperti ini: Ada beberapa blok di piramida, dan dasarnya adalah kerajinan dan antusiasme, kerja keras dan menikmati apa yang Anda lakukan, menuju puncak menurut defenisi kesuksesan saya. Yang paling di atas adalah — iman dan kesabaran Dan saya katakan kepada Anda, apapun yang Anda lakukan, Anda harus bersabar. Anda harus memiliki kesabaran — kita ingin tujuan kita tercapai. Kita menganggap kaum muda sering tak sabar. Dan memang begitu. Meraka ingin merubah segalanya. Mereka pikir semua perubahan adalah kemajuan. Dan semakin dewasa — kita cenderung membiarkan apa adanya. Dan kita lupa bahwa tidak ada kemajuan tanpa perubahan. Jadi Anda harus bersabar. Saya percaya bahwa kita harus memiliki iman. Saya percaya bahwa kita harus percaya, benar-benar percaya. Tidak sekedar bicara saja; percaya bahwa segala sesuatu akan terjadi sebagaimana mestinya, asal kita melakukan apa yang mestinya kita lakukan. Saya pikir kita cenderung berharap bahwa dunia akan berubah sesuai yang kita mau pada umumnya. Tapi kita tidak melakukan hal-hal yang perlu agar keinginan kita menjadi kenyataan. Saya mempelajari ini selama 14 tahun, dan Saya pikir itu membantu saya menjadi seorang guru yang lebih baik. Tapi itu semua berkisar pada definisi awal dari kesuksesan.

Anda tahu beberapa tahun yang lalu, ada wasit Liga Basebal Besar bernama George Moriarty. Ia mengeja Moriarty hanya dengan satu ‘i’. Saya belum pernah menyadarinya sebelumnya, tapi dia sadar. Pemain liga besar basebal — mereka sangat peka tentang hal-hal itu, dan mereka menyadari bahwa dia hanya punya satu ‘i’ di namanya. Anda juga akan terkejut betapa banyak yang pernah bilang padanya bahwa ada lebih dari satu di pikirannya berkali-kali.

(Tawa penonton)

Tapi dia menulis puisi ketika saya tengah mengerjakan di piramida ini. Dia menyebutnya “The Road Ahead” or the Road Behind.” “Terkadang saya mengira Takdir harus menyeringai ketika kami cela mereka dan bersikeras bahwa satu-satunya alasan kita tidak bisa menang, adalah Takdir yang salah. Namun, ada kepercayaan lama yang berteguh: kita menang atau kalah dengan diri sendiri. Piala berkilau di rak tidak akan pernah memenangkan pertandingan kelak. Kita tahu selalu ada kesempatan untuk menang. Tapi saat kita tak berusaha sepenuhnya, kita gagal cobaan, dalam mengurah kemampuan sampai pertandingan benar-benar dimenangkan; gagal menunjukkan apa artinya tabah; dengan terus bermain saat orang telah menyerah; dengan terus bermain, menolak kalah. Pemenangnya adalah keteguhan. Pemenangnya adalah tujuan di depan; pemenangnya adalah harapan saat impian tenggelam; pemenangnya adalah doa saat harapan menghilang. Biarpun kalah, tidak takut jatuh, saat segala usaha telah dicoba. Karena tak akan ada yang menyalahkan pemain yang mengerahkan segala kemampuan. Melakukan sebaiknya, sepertinya, mirip dengan kemenangan. Maka Takdir jarang salah, bagaimanapun mereka memutar dan melintir. Kitalah yang menciptakan Takdir — Kitalah yang membuka atau menutup gerbang perjalanan ke depan atau ke belakang.”

Ini mengingatkan saya pada set trinitas lain yang diajarkan ayah saya. Jangan merengek. Jangan mengeluh. Jangan membuat alasan. Lakukan saja, dan apapun itu, lakukan sebaik Anda yang mampu. Dan tidak seorangpun dapat melakukan lebih dari itu. Saya mencoba mengajarkan hal itu juga, yang — apa yang lawan saya tak akan ceritakan — saya tak pernah menuntut kemenangan. Jangan pernah menuntut kemenangan. Idenya adalah Anda bisa tetap kalah meskipun menang angka skor. Dan Anda bisa tetap menang saat kalah angka skor. Saya merasakan itu pada beberapa kesempatan, beberapa kali. Dan saya hanya ingin mereka mampu menegakkan kepala mereka setelah sebuah pertandingan. Saya dulu sering bilang bahwa saat pertandingan selesai, dan bertemu seseorang yang tidak tahu hasilnya, Saya berharap mereka tidak dapat menebak dari sikap Anda apakah Anda menang atau kalau dalam perhitungan angka skor.

Karena itu paling penting: jika Anda berusaha melakukan yang terbaik secara rutin, hasilnya tidak akan jauh dari yang seharusnya. Tidak harus seperti yang Anda inginkan, tapi tidak jauh dari yang seharusnya, dan hanya Anda yang akan tahu batas kemampuan untuk itu. Dan itulah yang saya inginkan dari mereka lebih dari apapun. Dan seiring berlalunya waktu, dan saya belajar lebih banyak tentang hal-hal lain, Saya kira ini membantu sebatas perhitungan hasil. Tapi saya ingin skor pertandingan menjadi hasil sampingan dari hal-hal lain ini, bukannya sebagai tujuan akhir dari semuanya. Sepertinya — salah satu filsuf besar berkata — bukan, Cervantes. Cervantes yang bilang, “Perjalanan lebih baik daripada tujuan.” Dan saya menyukainya. Saya kira itu adalah — tentang perjalanan. Kadang ketika mencapai tujuan, terasa semacam kekecewaan. Tapi perjalanan ke sana yang membuatnya menyenangkan. Saya suka — sebagai pelatih basket di UCLA saya suka mengumpamakan latihan kita sebagai perjalanan, dan pertandingan adalah tujuan. Hasil akhir. Saya suka duduk di tribun dan menonton pertandingan, dan melihat apakah saya telah melakukan pekerjaan yang layak selama seminggu. Ada juga, membuat para pemain untuk merasakan kepuasan pada dirinya sendiri, dengan mengetahui bahwa mereka telah melakukan yang terbaik dari kemampuan mereka.

Kadang saya ditanya, siapakah pemain terbaik atau tim terbaik. Saya tidak pernah dapat menjawabnya, selama hal itu bersangkutan dengan individu. Saya pernah ditanya begitu sekali, dan mereka bilang, “Seandainya dapat menciptakan pemain yang sempurna, apa yang akan Anda inginkan?” Dan saya menjawab, “Saya ingin seseorang yang mengetahui kenapa dia berada di UCLA: untuk mengenyam pendidikan, seorang pelajar yang baik, mengetahui dengan pasti alasan keberadaannya di sana. Tapi saya juga ingin seseorang yang dapat bermain. Saya ingin seseorang yang menyadari bahwa pertahanan biasanya memenangkan kejuaraan, dan akan bekerja keras dalam pertahanan. Tapi saya ingin seseorang yang akan menyerang juga. Saya ingin dia tidak egois, dan berusaha mengoper bola dan tidak menembak terus-menerus. Dan saya ingin seseorang yang mampu dan ingin mengoper bola.

(Tawa penonton)

Saya pernah mempunyai beberapa pemain yang mampu tapi tak ingin mengoper, dan saya pernah mempunyai pemain yang ingin tapi tak mampu mengoper.

(Tawa penonton)

Saya ingin mereka mampu menembak dari luar. Saya ingin mereka mampu menembak dari dalam juga.

(Tawa penonton)

Saya juga ingin mereka dapat menangkap dengan baik bola yang memantul pada kedua sisi lapangan. Ambillah contoh Keith Wilkes dan pahami sendiri. Dia memiliki kualifikasi. Bukan hanya satu, tapi dia adalah salah satu yang saya gunakan dalam kategori tertentu, karena saya pikir dia telah berusaha menjadi yang terbaik.

Saya sebutkan dalam buku saya, “They Call Me Coach.” Dua pemain yang memberikan saya kepuasan besar; yang saya rasa telah berusaha mencapai batas maksimal potensi mereka: satu adalah Conrad Burke. Yang kedua Doug McIntosh. Ketika saya melihat mereka sebagai mahasiswa baru, dalam tim pemula kami — kami tidak punya — ketika saya mengajar, mahasiswa baru dlarang ikut regu universitas. Dan saya pikir, “Ampun, jika kedua pemain, atau salah satu dari mereka” — mereka berbeda tingkatan tapi saya memikirkan hal yang sama dengan keduanya — “Jika ia sampai masuk regu universitas, regu kami pasti cukup menyedihkan, jika dia cukup baik untuk itu.” Dan Anda mengenal satu dari mereka adalah seorang pemain pemula selama satu setengah musim. Yang satunya — tahun berikutnya, dia bermain selama 32 menit dalam pertandingan kejuaraan nasional, melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk kami. Tahun berikutnya, dia bermain sebagai pemain pemula dalam tim kejuaraan nasional. Dan di sini saya pikir dia tidak pernah bermain sebentar, ketika ia — sehingga mereka memberikan sukacita yang besar, dan satu kepuasan besar untuk ditonton. Tidak satu pun dari keduanya dapat menembak dengan baik. Tapi mereka memiliki persentase tembakan yang luar biasa, karena mereka tidak memaksakanny. Keduanya juga tak bisa melompat sangat baik, tetapi mereka — tetap menjaga posisi yang baik, sehingga mendapat banyak kesempatan untuk memainkan bola pantulan. Mereka mengingat bahwa setiap tembakan yang diambil, mereka anggap akan meleset. Kebanyakan pemain hanya berdiri di sekitar ring basket dan menunggu jika tembakannya meleset, lalu baru berusaha memantulkannya setelah terlambat. Orang lain sudah mendahului mereka. Kedua pemain tadi tidak terlalu cepat, tapi mereka menjaga posisi mereka dengan baik, menjaga keseimbangan mereka dengan baik. Jadi pertahanan mereka terjaga baik. Keduanya memiliki kualitas yang — nyaris — sedekat mungkin pada batas potensi maksimal mereka dari semua pemain yang pernah saya latih. Saya menganggap keduanya seberhasil Lewis Alcindor atau Bill Walton, atau seperti banyak pemain lain yang kita miliki. Beberapa yang luar biasa — beberapa pemain yang luar biasa.

Apakah saya telah cukup mengoceh ? Saya diberitahu bahwa saat Pembicara itu muncul, saya harus tutup mulut.

 

Simon Sinek: How great leaders inspire action

If you hire people just because they can do a job, they’ll work for your money. But if you hire people who believe what you believe, they’ll work for you with blood and sweat and tears.”  (Simon Sinek)

Bagaimana Anda menjelaskan saat hal-hal terjadi tidak seperti asumsi kita? Atau, bagaimana Anda menjelaskan saat orang lain bisa meraih sesuatu yang tampak bertentangan dengan semua asumsi? Sebagai contoh: Mengapa Apple sangat inovatif? Tahun demi tahun mereka selalu lebih inovatif daripada para pesaingnya. Padahal, mereka hanya sebuah perusahaan komputer. Mereka seperti perusahaan lainnya. Mereka memiliki akses yang sama untuk talenta yang sama, peragenan yang sama, konsultan yang sama, dan media yang sama. Lalu, mengapa mereka tampak memiliki sesuatu yang berbeda? Mengapa Martin Luther King memimpin Gerakan Hak-Hak Sipil? Dia bukan satu-satunya orang yang menderita sebelum hak-hak sipil ditegakkan di Amerika. Dan tentunya dia bukanlah satu-satunya orator hebat pada masanya. Mengapa dia? Dan mengapa Wright bersaudara yang mampu membuat penerbangan berawak yang bisa dikendalikan, di saat ada tim lainnya dengan kemampuan dan dana yang lebih baik tapi malah tidak berhasil membuatnya, mereka dikalahkan oleh Wright bersaudara. Ada suatu hal yang berperan di sini.

Sekitar 3,5 tahun yang lalu saya membuat sebuah penemuan, dan penemuan ini mengubah pandangan saya tentang bagaimana dunia bekerja. Bahkan hal ini mengubah cara saya dalam menjalani hidup. Ternyata, ada sebuah pola, yaitu bahwa semua pemimpin besar dan inspiratif dan organisasi-organisasi besar di dunia, baik itu Apple, atau Martin Luther King, atau Wright bersaudara, mereka semua berpikir, bertindak dan berkomunikasi dengan cara yang sama. Dan hal ini sama sekali bertolak belakang dengan orang-orang lainnya. Yang saya kerjakan adalah menyusunnya. Dan mungkin ini adalah ide paling sederhana di dunia. Saya menyebutnya lingkaran emas.

Mengapa? Bagaimana? Apa? Ide kecil ini menjelaskan mengapa beberapa organisasi dan pemimpin mampu menjadi inspiratif, sedangkan yang lain tidak. Saya akan menjelaskan secara singkat. Setiap orang, setiap organisasi di planet ini tahu apa yang mereka lakukan, 100 persen. Beberapa di antaranya tahu bagaimana mereka mengerjakannya, baik disebut dalil pembedaan nilai atau proses kepemilikan, atau nilai jual unik Anda. Namun, sangat sedikit sekali orang atau organisasi yang tahu mengapa mereka mengerjakan hal itu. “Mengapa” yang saya maksud bukanlah “untuk mendapat untung.” Itu adalah hasil. Selalu demikian. “Mengapa” yang saya maksud: Apa tujuan Anda? Apa alasan Anda? Apa keyakinan Anda? Mengapa organisasi Anda ada? Mengapa Anda bangun pagi? Dan mengapa orang lain sebaiknya peduli? Sebagai hasilnya, cara kita berpikir, bertindak, berkomunikasi adalah dari luar ke dalam. Ini nyata. Kita berjalan dari hal yang paling jelas ke yang paling tidak jelas. Namun, pemimpin yang inspiratif dan organisasi yang inspiratif, tanpa memperhatikan besar dan industri mereka semua berpikir, bertindak dan berkomunikasi dari dalam ke luar.

Saya akan memberikan sebuah contoh. Saya menggunakan Apple karena mudah dipahami dan semua orang mengerti. Jika Apple seperti yang lainnya, pesan pemasaran mereka mungkin akan seperti ini. “Kami membuat komputer hebat. Komputer ini didesain dengan indah, sederhana dan mudah digunakan. Anda mau membeli?” Tidak. Begitulah kebanyakan dari kita berkomunikasi. Begitulah kebanyakan pemasaran dan penjualan dilakukan. Dan juga kebanyakan dari kita saling berkomunikasi. Kita mengatakan apa yang kita lakukan, bagaimana kita berbeda atau lebih baik lalu kita berharap timbal balik, sebuah pembelian, hak pilih, dan sebagainya. Inilah firma hukum kami yang baru. Kami mempunyai pengacara terbaik dengan klien terbesar. Kami selalu memberikan yang terbaik bagi klien kami. Inilah mobil baru kami. Tidak boros, joknya terbuat dari kulit. Belilah mobil kami. Hal-hal itu tidak inspiratif.

Begini Apple sebenarnya berkomunikasi. “Semua yang kami lakukan, kami percaya dalam menentang status quo. Kami percaya dalam berpikir secara berbeda. Cara kami melawan status quo adalah kami mendisain produk kami dengan indah sederhana dan mudah digunakan. Kami baru saja membuat komputer yang hebat. Anda mau membeli?” Sangat berbeda kan? Anda siap membeli komputer dari saya. Yang saya lakukan adalah membalik urutan informasi. Hal ini membuktikan bahwa orang tidak membeli apa yang Anda kerjakan; orang-orang membeli alasan Anda mengerjakannya. Orang membeli mengapa Anda mengerjakannya, bukan apa yang Anda kerjakan.

Hal ini menjelaskan mengapa setiap orang di ruangan ini merasa nyaman membeli komputer dari Apple. Tapi kita juga nyaman dalam membeli MP3 player atau telepon dari Apple, atau DVR dari Apple. Padahal, Apple hanyalah perusahaan komputer. Tidak ada yang membedakan mereka secara struktural dari para pesaing mereka. Pesaing mereka juga mampu membuat produk-produk tersebut. Faktanya, mereka telah mencoba. Beberapa tahun yang lalu, Gateway muncul dengan TV layar datar. Mereka memiliki kemampuan yang lebih baik. Mereka telah membuat monitor layar datar selama bertahun-tahun. Tapi tidak ada yang membeli. Dell muncul dengan MP3 player dan PDA. Mereka membuat produk berkualitas tinggi. Mereka juga membuat produk yang desainnya bagus. Tapi tidak ada yang membeli. Faktanya, sekarang kita tidak bisa membayangkan membeli MP3 player dari Dell. Mengapa Anda membeli MP3 player dari perusahaan komputer? Namun kita melakukannya tiap hari. Orang membeli mengapa Anda mengerjakannya, bukan apa yang Anda kerjakan. Tujuannya bukanlah untuk berurusan dengan tiap orang yang butuh sesuatu yang Anda miliki. Tujuannya adalah berurusan dengan orang-orang yang percaya dengan apa yang Anda percayai. Inilah bagian terpentingnya.

Yang saya ceritakan bukanlah pendapat saya. Ini semua berdasarkan prinsip biologi. Bukan psikologi, tapi biologi. Jika Anda melihat belahan otak manusia, dari atas ke bawah, Otak manusia yang Anda lihat sebenarnya bisa dibagi menjadi 3 bagian utama yang berhubungan dengan lingkaran emas. Otak terbaru kita, otak dari homo sapien, di lapisan luarnya, mewakili tingkatan “apa”. Lapisan luar otak bertanggung jawab untuk segala pemikiran yang analitis dan rasional serta kemampuan bahasa. Dua bagian di tengah adalah sistem limbik otak. Limbik otak bertanggung jawab untuk perasaan kita, seperti kepercayaan dan kesetiaan. Limbik juga mengatur semua perilaku manusia, pengambilan keputusan, tidak ada hubungannya dengan bahasa.

Dengan kata lain, saat kita berkomunikasi dari luar ke dalam, ya, orang bisa mengerti banyak informasi yang sulit, seperti fitur, keuntungan, fakta dan angka. Tapi hal itu tidak menggerakkan perilaku. Saat kita berkomunikasi dari dalam ke luar, kita sedang berbicara secara langsung dengan bagian otak yang mengendalikan perilaku, lalu orang akan merasionalisasikannya dengan benda yang kita katakan dan melakukannya. Inilah asal keputusan yang berani. Anda tahu, terkadang Anda bisa memberikan semua fakta dan angka, dan mereka berkata, “Saya tahu semua fakta dan rincian tersebut, tapi terasa tidak cocok. Mengapa kita menggunakan kata “terasa” tidak cocok? Karena bagian otak yang mengendalikan pengambillan keputusan, tidak mengendalikan bahasa. Dan hal terbaik yang dapat kita pikirkan adalah, “Saya tidak tahu. Rasanya tidak cocok.” Atau terkadang Anda berkata bahwa Anda mengikuti kata hati. atau Anda mengikuti jiwa Anda. Sebenarnya, bukan bagian tubuh lainnya yang mengendalikan perilaku Anda. Semua terjadi di otak limbik Anda, bagian otak yang mengendalikan pengambilan keputusan, bukan bahasa.

Tapi jika Anda tidak tahu mengapa Anda mengerjakan yang Anda kerjakan. dan orang hanya akan merespon mengapa Anda mengerjakan yang Anda kerjakan maka bagaimana Anda bisa membuat orang lain memilih Anda, atau membeli sesuatu dari Anda, atau, yang lebih penting lagi, menjadi setia dan ingin menjadi bagian dari apa yang Anda kerjakan. Tujuannya bukan hanya menjual sesuatu yang Anda punyai ke orang yang memerlukan, tujuannya adalah menjual ke orang yang percaya apa yang Anda percayai. Tujuannya bukan hanya mempekerjakan orang yang membutuhkan pekerjaan; tapi untuk mempekerjakan orang yang percaya apa yang Anda percayai. Saya selalu berkata, jika Anda menggaji orang karena mereka mampu, mereka akan bekerja untuk uang Anda, tapi jika Anda menggaji orang yang percaya apa yang Anda percayai, mereka akan bekerja untuk Anda dengan darah, keringat dan air mata. Dan tidak ada contoh yang lebih bagus untuk ini selain Wright bersaudara.

Banyak orang tidak tahu tentang Samuel Pierpont Langley. Kembali ke awal abad ke-20, pemburuan pembuatan pesawat terbang seperti dot com pada hari ini. Semua orang mencobanya. Dan Samuel Pierpont Langley memiliki, apa yang kita asumsikan, resep kesuksesan. Maksud saya, bila sekarang, Anda bertanya kepada seseorang, “Mengapa produk dan perusahaan Anda gagal?” orang-orang akan menjawab Anda tiga hal dengan urutan yang berbeda, kurangnya modal, SDM yang tidak memadai, kondisi pasar yang buruk. Selalu tiga hal yang sama. Mari kita eksplorasi hal-hal itu. Samuel Pierpont Langley diberikan 50.000 dolar oleh Departemen Peperangan untuk menciptakan mesin terbang. Uang bukanlah masalah. Dia mempunyai jabatan di Harvard bekerja dan mempunyai koneksi yang baik di Smithsonian. Dia mengenal semua orang pintar pada masanya. Dia mempekerjakan orang-orang paling cerdas yang bisa dia bayar. Dan kondisi pasar pun fantastis. New York Times mengikutinya ke mana pun. Dan semua orang membicarakan Langley. Lalu, bagaimana bisa Anda tidak pernah mendengar tentang Langley?

Beberapa ratus mil jauhnya, di Dayton Ohio Orville dan Wilbur Wright. mereka tidak mempunyai apa yang kita anggap sebagai resep kesuksesan. Mereka tidak mempunyai uang. Mereka membiayai mimpi mereka dengan toko sepeda mereka. Tidak seorang pun dari tim Wright bersaudara yang mengenyam pendidikan perguruan tinggi, baik Orville juga Wilbur. New York Times juga tidak mengenal mereka. Perbedaannya adalah, Orville dan Wilbur digerakkan oleh suatu alasan, suatu tujuan, suatu keyakinan. Mereka percaya kalau mereka bisa menciptakan mesin terbang, hal itu akan mengubah dunia. Samuel Pierpont Langley berbeda. Dia ingin menjadi kaya dan terkenal. Dia mengejar hasil. Dia mengejar kekayaan. Dan lihatlah apa yang terjadi. Orang-orang yang percaya pada impian Wright bersaudara, bekerja bersama mereka dengan darah, keringat dan air mata. Yang lain hanya bekerja untuk bayaran saja. Orang-orang bercerita bahwa setiap kali Wright bersaudara pergi keluar, mereka harus membawa 5 set perlengkapan, karena itulah jumlah yang akan mereka rusakkan sebelum mereka pulang untuk makan malam.

Dan ternyata, pada 17 Desember 1903, Wright bersaudara pun bisa terbang, di mana tak seorang pun di sana untuk mencobanya. Kita mengetahuinya beberapa hari kemudian. Dan bukti lebih lanjut bahwa Langley termotivasi oleh hal yang salah adalah pada hari Wright bersaudara terbang, dia berhenti bekerja. Dia sebenarnya bisa berkata, “Itu penemuan yang luar biasa, aku akan meningkatkan teknologi Anda.” Tapi dia tidak mengatakannya. Dia bukan yang pertama, dia tidak menjadi kaya, dia tidak menjadi terkenal, maka dia berhenti.

Orang tidak membeli apa yang Anda kerjakan, tetapi mengapa Anda mengerjakannya. Dan jika Anda mengatakan apa yang Anda yakini, Anda akan menarik mereka yang percaya pada yang Anda yakini. Mengapa menarik orang yang percaya apa yang Anda yakini itu penting? Ini disebut hukum penyebaran inovasi. Jika Anda tidak tahu hukum tersebut, Anda pasti tahu maksudnya. 2½ % dari populasi kita adalah para inovator. 13½ % dari populasi kita adalah pengguna pertama. 34% berikutnya adalah mayoritas awal, mayoritas yang terlambat dan yang tertinggal. Alasan orang-orang ini membeli telepon yang dipencet karena Anda tidak bisa membeli telepon yang diputar lagi.

Kita semua ada di berbagai tempat di berbagai waktu pada skala ini, tapi yang dikatakan hukum penyebaran inovasi adalah jika Anda ingin sukses besar di pasar atau ide Anda diterima oleh pasar yang besar, Anda tidak bisa memilikinya sampai Anda mencapai titik tertentu antara 15-18% penetrasi pasar. Dan sistem akan menyinggungnya. Saya suka bertanya, “Bagaimana konversi Anda pada bisnis baru?” Mereka akan menjawabnya dengan bangga, “Oh, sekitar 10%.” Anda bisa mendapatkan 10% pelanggan. Kita mempunyai 10% yang hanya “ambil itu.” Begitulah kita menjelaskannya, benar. Itu seperti perasaan, “Oh, mereka membelinya.” Masalahnya: Bagaimana Anda menemukan orang yang seperti itu sebelum Anda berurusan dengan mereka? Jadi, di sini, di celah kecil ini, yang harus Anda harus tutup, seperti yang dikatakan oleh Jeffrey Moore, “melintasi jurang.” Karena, Anda lihat, mayoritas awal tidak akan mencoba sesuatu sampai seseorang pernah mencobanya terlebih dahulu. Dan orang-orang ini, inovator dan pengguna pertama, mereka nyaman dalam mengambil keputusan berani. Mereka nyaman mengambil keputusan yang intuitif yang digerakkan oleh apa yang mereka yakini tentang dunia dan bukan hanya produk apa yang tersedia.

Merekalah yang mengantri selama 6 jam untuk membeli iPhone saat pertama kali keluar, di mana Anda bisa hanya berjalan kaki ke sebuah toko minggu depannya dan membeli sebuah iPhone. Mereka adalah orang-orang yang menghabiskan 40.000 dolar untuk membeli TV layar datar ketika pertama kali dijual, meskipun teknologinya masih di bawah standar. Dan, mereka tidak melakukannya karena teknologinya hebat. Mereka melakukannya untuk diri mereka sendiri. Karena mereka ingin menjadi yang pertama. Orang-orang tidak membeli apa yang Anda kerjakan, tetapi mengapa Anda mengerjakannya. Dan apa yang Anda lakukan hanyalah membuktikan apa yang Anda yakini. Faktanya, orang-orang akan selalu melakukan hal-hal untuk membuktikan apa yang mereka yakini. Alasan orang membeli iPhone dalam 6 jam pertama, mengantri selama 6 jam, adalah karena apa yang mereka yakini tentang dunia, dan bagaimana mereka ingin dilihat oleh semua orang. Mereka yang pertama. Orang tidak membeli apa yang Anda kerjakan, tetapi mengapa Anda mengerjakannya.

Saya akan memberikan sebuah contoh yang terkenal, kegagalan dan kesuksesan yang terkenal dari hukum penyebaran inovasi. Pertama, kegagalan yang terkenal. Ini adalah contoh pemasaran. Seperti yang saya katakan sebelumnya, rahasia sukses adalah uang, SDM yang bagus, dan kondisi pasar yang baik. Ya. Anda seharusnya sukses. Lihatlah TiVo. Sejak TiVo muncul, sekitar 8 atau 9 tahun yang lalu, sampai hari ini, mereka adalah produk dengan kualitas terbaik di pasar, setuju, tidak dapat dibantah. Mereka mendapatkan pendanaan yang luar biasa. Kondisi pasar yang fantastis. Maksud saya, kita menggunakan TiVo sebagai kata kerja Saya men-“TiVo”-kan Time Warner DVR sepanjang waktu.

Namun, TiVo adalah sebuah kegagalan. Mereka tidak pernah menghasilkan uang. Saat mereka menawarkan saham perdana, saham mereka sekitar 30 atau 40 dolar lalu merosot, dan tidak pernah diperdagangkan lebih dari 10 dolar. Menurut saya malah tidak diperdagangkan di atas 6 dolar, kecuali saat ada beberapa fluktuasi kecil. Karena Anda perhatikan, saat TiVo meluncurkan produk mereka, mereka memaparkan apa yang mereka punyai. Mereka berkata, “Kami punya produk yang bisa menjeda TV, menghilangkan iklan, memutar ulang siaran TV dan mengingat kebiasaan menonton Anda bahkan tanpa Anda memintanya.” Dan mayoritas orang yang sinis berkata, “Kami tidak percaya pada Anda. Kami tidak membutuhkannya. Kami tidak menyukainya. Anda membuat kami takut.” Andai mereka bilang, “Jika Anda tipe orang yang suka memiliki kendali penuh atas setiap aspek hidup Anda, kami mempunyai produk untuk Anda. Ini bisa menjeda siaran TV, melewatkan iklan. mengingat kebiasaan menonton Anda, dan sebagainya.” Orang tidak membeli apa yang Anda kerjakan, tetapi mengapa Anda mengerjakannya. Dan apa yang Anda kerjakan akan menjadi bukti dari apa yang Anda yakini.

Saya akan memberikan sebuah contoh sukses dari hukum penyebaran inovasi. Pada musim panas 1963, 250.000 orang datang ke sebuah mall di Washington untuk mendengarkan Dr. King berbicara. Mereka tidak mengirim undangan, dan tidak ada website untuk mengecek tanggal. Bagaimana Anda melakukannya? Dr. King bukanlah satu-satunya orang di Amerika yang merupakan orator hebat. Dia bukanlah satu-satunya orang di Amerika yang menderita pada masa sebelum hak sipil ditegakkan di Amerika. Faktanya, beberapa idenya tidak bagus. Namun dia memiliki karunia. DIa tidak berkeliling memberi tahu orang-orang apa yang dibutuhkan untuk mengubah Amerika. Dia berkeliling memberitahukan orang-orang tentang apa yang ia yakini. “Saya percaya. Saya percaya. Saya percaya,” katanya ke orang-orang. Dan orang-orang yang percaya apa yang ia yakini mengambil perannya dan menceritakan ke orang-orang lainnya. Dan beberapa di antaranya membuat struktur untuk menyampaikan pesan ke lebih banyak orang lagi. Dan akhirnya, 250.000 orang tampil pada hari yang tepat, waktu yang tepat, untuk mendengarkannya berbicara.

Berapa orang yang datang untuk dia? Nol. Mereka datang untuk diri mereka sendiri. Itulah apa yang mereka yakini tentang Amerika yang membuat mereka naik bis selama 8 jam, berdiri di bawah matahari di Washington pada pertengahan Agustus. Ini tentang yang mereka yakini, dan bukanlah hitam lawan putih. 25% hadirin berkulit putih. Dr. King percaya bahwa ada 2 jenis hukum di dunia ini, yang dibuat oleh Yang Maha Kuasa dan yang dibuat oleh manusia. Dan sebelum semua hukum yang dibuat manusia konsisten dengan hukum yang dibuat oleh Yang Maha Kuasa, kita masih akan hanya ada di dunia. Lalu terjadilah Pergerakan Hak-Hak Sipil yang merupakan hal sempurna untuk menolong mewujudkan idenya. Kita mengikuti, bukan untuknya, tapi untuk diri kita sendiri. Dan dia menyampaikan pidato “Saya mempunyai mimpi” bukan pidato “Saya mempunyai rencana.”

Coba dengarkan politikus saat ini dengan 12 rencana komprehensfinya. Mereka tidak menginspirasi siapapun. Karena mereka pemimpin dan ada yang memimpin. Pemimpin memiliki kekuatan atau wewenang. Tetapi mereka yang memimpin akan menginspirasi kita. Individual atau organisasi, kita mengikuti mereka yang memimpin, bukan karena kita diharuskan, tapi karena kita menginginkannya. Kita mengikuti mereka yang memimpin, bukan untuk mereka, tetapi untuk diri kita sendiri. Dan mereka yang mulai dari “mengapa” lah yang memiliki kemampuan untuk menginspirasi orang-orang di sekitarnya atau menemukan orang-orang yang menginspirasinya.

Terima kasih banyak.

Sir Ken Robinson: Bring on the learning revolution!

“Very many people go through their whole lives having no real sense of what their talents may be, or if they have any to speak of.” (Ken Robinson)

Saya berada di sini empat tahun lalu, dan saya ingat, pada waktu itu, bahwa ceramah-ceramahnya tidak ditaruh online; saya rasa ceramah-ceramah itu diberikan kepada TEDsters dalam sebuah kotak, satu kotak set DVD, yang ditaruh di rak mereka, sampai sekarang.

Dan ternyata Chris menelepon saya satu minggu setelah saya memberikan ceramah dan dia berkata, “Kita akan memulai untuk menaruhnya online. Bisakah kita menaruh ceramah anda online?” Dan saya berkata, “Tentu saja.”

Dan empat tahun selanjutnya, seperti yang saya bilang, itu telah dilihat oleh empat… Er, itu sudah didownload empat juta kali. Jadi saya bisa menganggap bahwa itu bisa dikali 20 atau suatu angka untuk mendapatkan jumlah orang yang sudah menontonnya. Dan seperti yang Chris bilang, ada sebuah rasa lapar untuk video saya.

…. tidakkah anda merasa?

Jadi, semua kejadian ini hanyalah sekumpulan langkah-langkah terperinci untuk membuat saya melakukan ceramah sekali lagi, jadi inilah ceramahnya.

Al Gore berbicara di Konferensi TED yang saya hadiri empat tahun lalu dan membahas tentang krisis iklim. Dan saya merujuk kepada itu di akhir dari ceramah saya sebelumnya. Jadi saya ingin mulai dari sana karena saya hanya punya 18 menit, jujur saya. Jadi, sebagaimana yang saya katakan…

Anda tahu, dia benar. Maksud saya, ada sebuah krisis iklim yang sangat besar, tentu saja. Dan saya rasa jika orang tidak percaya, mereka harus keluar lebih sering. (Tawa) Tapi saya juga merasa bahwa ada satu krisis iklim lain, yang separah, yang punya asal-usul yang sama, dan yang harus kita tangani dengan urgensi yang sama. Dan yang saya maksudkan adalah — dan anda mungkin berkata, “Lihat, saya baik-baik saja. Saya punya satu krisis iklim; saya tidak benar-benar butuh yang kedua.” Tapi ini adalah krisis, bukan tentang sumber daya alam, walaupun saya juga percaya hal itu, tapi sebuah krisis sumber daya manusia.

Saya percaya, pada dasarnya, sebagaimana sudah dikatakan oleh banyak pembicara beberapa hari ini, bahwa kita tidak mendayagunakan dengan baik bakat dan talenta kita. Banyak orang melewati seluruh hidupnya tanpa mengetahui apakah bakat mereka sebenarnya, atau jika mereka bahkan punya bakat. Saya bertemu dengan berbagai macam orang yang tidak berpikir bahwa mereka ahli dalam satupun hal.

Sebenarnya, sekarang saya agak membagi dunia ke dalam dua kelompok. Jeremy Bentham, filsuf utilitarian yang termasyhur, suatu kali pernah mengungkapkan argumen ini. Dia berkata, “Ada dua tipe orang di dunia ini, mereka yang membagi dunia ke dalam dua tipe dan mereka yang tidak.” Ya, saya setuju.

Saya bertemu berbagai macam orang yang tidak menikmati apa yang mereka lakukan. Mereka hanyalah menjalani hidup mereka melewati hari demi hari. Mereka tidak memperoleh kepuasan besar dari apa yang mereka lakukan. Mereka bertahan dan tabah, bukannya menikmatinya, dan menunggu akhir minggu tiba. Tapi saya juga bertemu dengan orang-orang yang mencintai apa yang mereka kerjakan dan tidak dapat membayangkan melakukan hal lain. Jika anda berkata kepada mereka, “Jangan lakukan ini lagi,” mereka akan bertanya-tanya apa yang anda maksudkan. Karena itu bukanlah apa yang mereka kerjakan, itu jati diri mereka. Mereka bilang, “Tapi ini saya, kamu tahu. Sangatlah bodoh bagi saya untuk meninggalkan ini, karena ini menunjukkan diri saya yang paling otentik.” Dan ini tidaklah benar untuk orang kebanyakan. Faktanya, berlawanan dengan itu, saya rasa ini jelaslah hanya sekelompok kecil orang. Dan saya rasa ada banyak penjelasan yang mungkin untuk hal ini. Dan yang paling atas di antaranya adalah pendidikan, karena pendidikan, dapat dikatakan, menjerumuskan banyak sekali orang-orang dari bakat alami mereka. Dan sumber daya manusia adalah seperti sumber daya alam; mereka seringkali tertimbun dalam. Anda harus mencarinya. Dan mereka tidaklah berada di permukaan. Anda harus menciptakan situasi di mana mereka dapat mencuat dan muncul. Dan seperti yang anda dapat bayangkan pendidikan adalah caranya. Tapi seringkali tidak. Setiap sistem pendidikan di dunia sedang direformasi saat ini Dan ini tidaklah cukup. Reformasi tidak lagi berguna, karena itu hanya meningkatkan sebuah model yang rusak. Apa yang kita butuhkan — dan kata ini telah digunakan berkali-kali dalam beberapa hari belakangan — bukanlah evolusi, melainkan revolusi dalam bidang pendidikan. (Sistem pendidikan yang ada sekarang) haruslah ditransformasikan menjadi sesuatu yang lain.

Salah satu tantangan utamanya adalah berinovasi secara fundamental dalam pendidikan. Inovasi sangatlah sulit karena itu berarti melakukan sesuatu yang orang-orang kebanyakan tidak merasa gampang. Itu berarti mempertanyakan apa yang telah kita terima apa adanya, hal-hal yang kita anggap sudah jelas. Masalah terbesar dari reformasi atau transformasi adalah tirani dari penalaran awam, hal-hal yang orang-orang pikirkan, “Ya, itu tidak mungkin dilakukan dengan cara lain karena caranya biasanya begitu.”

Baru-baru ini saya menjumpai satu kutipan keren dari Abraham Lincoln, yang saya pikir akan membuat anda senang untuk dikutip saat ini.  Dia berkata begini pada Desember 1862 kepada rapat tahunan kedua Kongres. Saya harus menjelaskan bahwa saya tidak tahu apa yang terjadi pada saat itu. Kami tidak mengajarkan sejarah Amerika di Inggris. (Tawa) Kami menekannya. Anda tahu, memang kebijakannya begitu. Jadi, pastinya, sesuatu yang luar biasa sedang terjadi pada Desember 1862, yang mana orang-orang Amerika di antara kita pastilah tahu.

Tapi dia berkata begini: “Dogma-dogma dari masa lalu yang tentram tidaklah lagi memadai untuk masa sekarang yang berangin kencang. Situasi saat ini penuh dengan kesulitan, dan kita haruslah naik bersama-sama dengan situasi ini.” Saya suka sekali dengan itu. Bukan naik menuju, melainkan naik bersama-sama dengan. “Karena kasus (yang kita hadapi) adalah baru, maka haruslah kita berpikir dengan cara yang baru, dan bertindak dengan cara yang baru, Haruslah kita memerdekakan diri kita barulah kita dapat menyelamatkan negara kita.”

Saya suka kata itu, “disenthrall.” (memerdekakan) Tahukah anda apa artinya? Bahwa ada ide-ide yang menawan dan mempesona kita, yang dengan mudah kita asumsikan selalu benar sebagai bentuk alami, sebagaimana seharusnya. Dan banyak dari ide-ide kita telah dibentuk, bukan untuk memenuhi keadaan abad ini, tapi untuk mengatasi keadaan abad sebelumnya. Tapi pemikiran kita masih terhipnotis dengannya. Dan kita haruslah memerdekakan diri kita dari beberapa ide-ide tersebut. Sekarang, ini lebih mudah diomongkan dibanding dilaksanakan. Sangatlah sulit untuk mengetahui, apa yang anda asumsikan selalu benar. Dan alasannya adalah anda telah mengasumsikannya selalu benar.

Jadi coba saya tanyakan anda sesuatu yang mungkin telah anda asumsikan selalu benar. Siapakah di antara kalian ini yang usianya di atas 25 tahun? Saya percaya itu bukan sesuatu yang anda asumsikan. Saya percaya anda memang tahu faktanya. Apakah ada yang usianya di bawah 25 tahun? Bagus. Sekarang, kalian yang usianya di atas 25, dapatkah anda angkat tangan jika anda menggunakan jam tangan? Nah, banyak sekali dari kita, bukan? Tanyalah ruangan yang penuh dengan anak muda pertanyaan yang sama. Anak muda tidaklah memakai jam tangan. Saya tidak mengatakan bahwa mereka tidak dapat atau mereka tidak boleh, mereka seringkali hanyalah memilih untuk tidak. Dan alasannya, anda tahu, bahwa kita dibesarkan di budaya pre-digital, kita yang berusia 25 ke atas. Jadi untuk kita, jika anda ingin mengetahui waktu, anda haruslah memakai sesuatu untuk dapat mengetahuinya. Remaja sekarang tinggal di dunia yang telah terdigitisasi, dan waktu, bagi mereka, ada di mana-mana. Mereka tidak melihat alasan untuk melakukan hal ini. Dan, omong-omong, anda juga tidak harus melakukan ini juga; hanya saja anda selalu melakukannya, dan anda jadi keterusan. Anak perempuan saya tidak pernah menggunakan jam tangan, Kate, yang usianya 20. Dia tidak melihat gunanya. Seperti yang dia katakan, “Itu alat yang hanya punya satu fungsi.”  “Seperti, betapa konyolnya itu?” Dan saya berkata, “Tidak, tidak, ini menunjukkan tanggal juga.”  “Ada banyak fungsinya.”

Tapi anda lihat, ada hal-hal yang mempesona kita dalam pendidikan. Mari saya beri anda beberapa contoh. Salah satu di antaranya adalah ide mengenai linearitas, mulai dari sini, dan anda menempuh sebuah jalur, dan jika anda melakukan semuanya dengan benar, anda akan menjadi siap untuk seumur hidup anda. Semua orang yang telah berbicara di TED secara tidak langsung, atau bahkan kadang secara langsung, memberikan cerita yang berbeda, bahwa hidup ini tidaklah linear, tapi organik. Kita menciptakan hidup kita secara simbiotik seiring dengan eksplorasi bakat-bakat kita dalam kaitannya dengan situasi yang tercipta untuk kita (karena bakat-bakat kita). Tapi anda tahu, kita telah menjadi terobsesi dengan pemikiran tentang linearitas ini. Dan mungkin puncak tertinggi pendidikan adalah masuk ke perguruan tinggi. Saya rasa kita terobsesi dengan membuat orang masuk kuliah, masuk ke suatu jenis perguruan tinggi. Saya tidak bilang bahwa anda tidak usah kuliah, tapi tidak semua orang perlu pergi, dan tidak semua orang perlu pergi sekarang. Mungkin mereka pergi belakangan, tidak langsung.

Dan saya berada di San Fransisco beberapa waktu yang lalu menandatangani buku. Ada satu orang ini yang membeli satu buku, dan usianya sekitar 30an. Dan saya bertanya, “Apa pekerjaan anda?” Dan dia berkata, “Saya pemadam kebakaran.” Dan saya bertanya, “Berapa lama anda telah menjadi pemadam kebakaran?” Dia berkata, “Selalu, saya selalu menjadi pemadam kebakaran.” Dan saya bertanya lagi, “Oke, sejak kapan anda memutuskan hal itu?” Dia berkata, “Sejak kecil.” Dia berkata, “Sebetulnya, itu menjadi masalah untuk saya di sekolah, karena di sekolah, semua orang mau menjadi pemadam kebakaran.” Dia berkata, “Tapi saya benar-benar mau menjadi pemadam kebakaran.” Dan dia berkata, “Ketika saya hampir lulus, guru-guru saya tidak menganggap saya serius. Ada satu guru ini yang tidak menganggap saya serius. Dia bilang saya membuang hidup saya jika saya hanya memilih untuk menjadi pemadam kebakaran, bahwa saya harus kuliah, saya harus menjadi seorang profesional, bahwa saya punya potensi yang besar, dan saya membuang bakat saya jika saya menjadi pemadam kebakaran.” Dan dia berkata, “Itu sangatlah memalukan karena dia berkata itu di depan kelas, dan saya benar-benar merasa terpukul. Tapi itu adalah apa yang saya inginkan, dan begitu saya lulus sekolah, saya melamar menjadi pemadam kebakaran dan saya diterima.” Dan dia berkata, “Anda tahu, saya berpikir tentang guru saya itu barusan, beberapa menit yang lalu ketika anda sedang berbicara, mengenai guru ini,” dia berkata, “karena enam bulan yang lalu, saya menyelamatkan hidupnya.”  Dia berkata, “Dia mengalami kecelakaan mobil, dan saya menariknya keluar, memberikan pernapasan buatan, dan saya menyelamatkan nyawa istrinya juga.” Dia berkata, “Saya rasa dia lebih menganggap baik saya sekarang.”

Anda tahu, bagi saya, komunitas masyarakat tergantung kepada diversitas dari bakat, bukannya konsepsi tunggal dari kemampuan. Dan di tengah dari tantangan kita —  Dan di tengah tantangan kita adalah untuk menyusun kembali pandangan kita tentang kemampuan dan tentang kepandaian. Linearitas ini adalah sebuah masalah.

Ketika saya tiba di L.A. (Los Angeles) sekitar sembilan tahun yang lalu, Saya menjumpai sebuah kalimat di kebijakan yang niatnya baik, yang bertuliskan, “Kuliah dimulai di taman kanak-kanak (TK).” Tidaklah benar.  Sama sekali tidak benar. Kalau kita punya waktu, saya dapat menjelaskannya lebih dalam, tapi kita tidak punya waktu.  TK dimulai di TK.  Seorang teman saya pernah bilang, “Kamu tahu, seorang anak tiga tahun bukanlah separuh yang usianya enam tahun”  Mereka tiga tahun.

Tapi seperti yang kita baru saja dengan di sesi sebelumnya, ada kompetisi yang demikian sekarang ini untuk dapat masuk TK, untuk dapat masuk ke TK yang benar, bahwa orang-orang diwawancarai untuk itu pada usia tiga tahun. Anak-anak duduk di depan panel yang tidak terkesan, anda tahu, dengan resume mereka,  membolak-balik dan berkata, “Apa? Hanya ini saja?”  “Anda telah ada selama 36 bulan, dan hanya ini saja?”  “Anda tidak punya prestasi apa-apa. Yang saya bisa lihat, anda menghabiskan enam bulan pertama hanya menyusu.”  Lihat, sebagai konsep itu adalah sangat konyol, tapi orang-orang tertarik dengan itu.

Masalah besar lainnya adalah mengenai konformitas. Kita telah membangun sistem pendidikan kita dengan model makanan cepat saji. Ini juga adalah sesuatu yang Jamie Oliver bahas beberapa hari yang lalu. Anda tahu ada dua model untuk menjamin kualitas dalam katering. Satu adalah makanan cepat saji, di mana semuanya standar. Yang satunya lagi adalah seperti restoran-restoran Zagat dan Michelin. di mana semuanya tidak terstandardisasi, mereka disesuaikan dengan keadaan lokal. Dan kita telah menjual diri kita ke dalam model cepat saji pendidikan. Dan ini menghabiskan energi dan menguras semangat kita sama seperti makanan cepat saji menguras tubuh fisik kita.

Saya rasa kita harus menyadari beberapa hal di sini. Satu adalah bahwa bakat manusia sungguhlah sangat beragam. Orang-orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Saya baru tahu baru-baru ini bahwa saya diberikan gitar ketika saya masih kecil kurang lebih pada usia yang sama Eric Clapton mendapatkan gitar pertamanya. Anda tahu, Eric berhasil, hanya itu saja yang saya bisa katakan.  Bisa dibilang, saya tidak berhasil. Saya tidak dapat membuat benda ini untuk bekerja tidak peduli betapa sering dan betapa kuatnya saya meniupnya. Tidak bisa jalan.

Tapi bukan hanya tentang itu. Juga mengenai antusiasme. Seringkali, orang-orang mahir di bidang yang tidak mereka pedulikan. Itu mengenai antusiasme, dan yang merangsang semangat dan energi kita. Dan jika anda melakukan hal yang anda cintai, di bidang yang anda mahir, waktu akan berjalan dengan cara yang benar-benar berbeda. Istri saya baru saja selesai menulis sebuah novel, dan saya pikir itu adalah buku yang bagus, tapi dia menghilang selama berjam-jam. Anda tahu ini, jika anda melakukan sesuatu yang anda cintai, satu jam terasa seperti lima menit. Jika anda melakukan sesuatu yang tidak menggetarkan jiwa anda, lima menit akan terasa seperti satu jam. Dan alasan utama begitu banyak orang memilih keluar dari pendidikan adalah karena itu tidak memberikan mereka semangat, itu tidak memberikan energi dan antusiasme bagi mereka.

Jadi saya rasa kita harus mengubah metaforanya. Kita harus beranjak dari apa yang pada dasarnya sebuah model industri dari pendidikan, sebuah model manufaktur, yang didasari oleh linearitas dan konformitas dan mengelompokkan orang. Kita harus bergerak menuju sebuah model yang didasari lebih kepada prinsip-prinsip agrikultur. Kita harus menyadari bahwa perkembangan manusia bukanlah sebuah proses mekanik, melainkan proses organik. Dan kita tidak dapat memprediksi hasil dari perkembangan manusia; yang dapat kita lakukan hanyalah, layaknya petani, menciptakan kondisi di mana mereka dapat berkembang.

Jadi ketika kita melihat reformasi pendidikan dan transformasinya, itu bukanlah seperti menggandakan sistem. Ada banyak yang bagus seperti KIPP, itu adalah sistem yang hebat. Ada banyak sekali model yang hebat. Ini adalah tentang menyesuaikan dengan keadaan anda, dan mempersonalisasikan pendidikan kepada orang-orang yang anda ajari. Dan hal ini, saya rasa adalah jawaban untuk masa depan karena ini bukanlah mengenai membuat sebuah solusi baru; namun menciptakan sebuah gerakan dalam pendidikan di mana orang-orang dapat mengembangkan solusi-solusi mereka sendiri, namun dengan bantuan dari luar yang didasari oleh kurikulum yang terpersonalisasi.

Sekarang, di ruangan ini, ada orang-orang yang mewakili sumber daya yang luar biasa di bidang bisnis, di multimedia, di internet. Teknologi-teknologi ini, digabungkan dengan bakat luar biasa dari guru-guru, menyediakan kesempatan untuk merevolusikan pendidikan. Dan saya mengajak anda untuk terlibat di dalamnya karena ini sangat penting, bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk masa depan anak-anak kita. Namun kita harus berpindah dari model industri ke model agrikultur, di mana tiap sekolah dapat berkembang besok. Di sanalah anak-anak mengalami hidup. Atau di rumah, jika di sanalah mereka memilih untuk belajar dengan keluarga atau teman-temannya.

Sudah ada banyak ceramah tentang impian selama beberapa hari ini. Dan saya ingin dengan cepat — Saya sangat terkesan dengan lagu Natalie Merchant semalam, menemukan puisi lama. Saya ingin membacakan anda sepotong pendek puisi dari W.B. Yeats, yang beberapa di antara kalian mungkin kenal. Dia menulis ini untuk kekasihnya, Maud Gonne, dan dia meratapi kenyataan bahwa dia tidak dapat memberikan kekasihnya apa yang dia pikir kekasihnya inginkan. Jadi dia berkata, “Saya punya sesuatu yang lain, tapi mungkin itu bukan tidak cocok buatmu.”

Dia berkata begini: Jikalau aku mempuyai kain sulaman surgawi, yang ditenun dari emas dan cahaya keperakan, Birunya dan remangnya dan kain gelap layaknya malam, dan terang, dan setengah terang, aku kan menebarkan kain-kain itu di bawah kakimu; Tapi aku, seorang miskin, hanya punya mimpiku; Maka aku menebarkan mimpi-mimpiku di bawah kakimu; Tapaklah dengan lembut karena engkau menapaki mimpi-mimpiku.” Dan setiap hari, di mana saja, anak-anak kita menebar mimpi-mimpi mereka di bawah kaki kita. Dan kita haruslah menapak dengan lembut.

Terima kasih.

Sugata Mitra shows how kids teach themselves

Saya mempunyai pekerjaan yang sulit. Tahukah Anda, ketika saya melihat profil para penonton di sini, dengan berbagai macam latar belakang, dan dengan begitu banyak orang yang bekerja di bidang kolaborasi dan jaringan, dan sebagainya, saya ingin berkata kepada Anda, saya ingin membangun sebuah argumen tentang pendidikan dasar dalam konteks yang sangat spesifik. Untuk melakukannya dalam 20 menit, saya harus menjelaskan empat ide — ini seperti empat potong teka-teki. Dan jika saya sukses melakukan itu, mungkin Anda akan kembali dengan pikiran bahwa Anda dapat lakukan dan mungkin menolong saya dalam melakukan pekerjaan saya

Potongan teka – teki yang pertama adalah keterpencilan dan kualitas pendidikan. Nah, keterpencilan yang saya maksud memiliki dua atau tiga arti yang berbeda. Tentu saja, keterpencilan dalam arti yang biasa, artinya adalah ketika Anda pergi semakin jauh dari daerah pusat kota, Anda sampai ke daerah yang lebih terpencil. Apa yang terjadi dengan pendidikan? Arti keterpencilan yang kedua atau yang lain adalah di dalam daerah metropolitan di seluruh dunia, ada kantung – kantung, seperti daerah kumuh atau daerah yang miskin, yang terpencil secara sosial dan ekonomi bila dibandingkan daerah sekitarnya, berbeda dari sekitarnya. Apa yang terjadi dengan pendidikan dalam konteks itu? Jadi mari kita pegang kedua definisi tentang keterpencilan itu.

Kami membuat sebuah tebakan. Tebakan bahwa sekolah – sekolah di daerah yang terpencil tidak memiliki guru – guru yang bagus. Walaupun mereka memiliki guru, mereka tidak dapat mempertahankan guru – guru itu; mereka tidak memiliki prasarana yang cukup bagus. Dan kalaupun mereka memilikinya, mereka mengalami kesulitan untuk merawatnya. Tetapi saya ingin menguji apakan ini benar. Jadi apa yang saya lakukan tahun lalu adalah kami menyewa sebuah mobil, dengan bantuan Google, menemukan sebuah rute ke India utara dari New Delhi yang tidak melewati kota – kota besar, atau kota – kota metropolitan. Mengemudi sekitar 300 kilometer, dan dimanapun kami menemukan sebuah sekolah, kami melakukan sebuah tes standar, dan kemudian mengambil hasil tes dan memplotnya dalam sebuah grafik. Grafik itu menarik, meskipun Anda perlu mempertimbangkannya dengan hati – hati. Maksud saya, ini adalah sampel yang sangat kecil; Anda sebaiknya tidak menyamaratakannya. Tetapi sangatlah jelas bahwa pada rute yang telah saya lewati, makin terpencil sebuah sekolah, semakin jelek hasilnya. Ini kelihatan sangat memberatkan, dan saya mencoba menghubungkannya dengan hal seperti infrastruktur, atau dengan ketersediaan listrik dan hal lainnya.

Saya terkejut ketika hal itu tidak berhubungan. Hasilnya tidak berhubungan dengan ukuran kelas. Tidak berhubungan dengan kualitas infrastruktur. Tidak berhubungan dengan tingkat kemiskinan. Tidak berhubungan. Tetapi apa yang terjadi ketika saya menyebarkan sebuah daftar pertanyaan kepada tiap sekolah ini, dengan satu pertanyaan kepada guru – guru, yaitu, maukan kamu pindah ke daerah kota? 69 persen dari mereka mengatakan iya, dan seperti yang bisa kamu lihat, mereka yang berada sedikit di luar Delhi berkata iya, dan mereka yang ada di daerah kaya di pinggiran kota Delhi berkata tidak — karena daerah sana relatif lebih baik. Lalu mulai dari 200 kilometer dari Delhi, jawabannya adalah iya secara konsisten. Saya membayangkan bahwa seorang guru yang datang atau masuk ke dalam kelas setiap hari berpikir, saya harap saya ada di sekolah lain, mungkin memiliki dampak yang dalam pada apa yang terjadi kepada hasil tes ini. Jadi kelihatannya motivasi guru dan perpindahan guru berhubungan erat dengan apa yang terjadi di sekolah – sekolah dasar, berlawanan dengan apakah anak – anak cukup makan, atau apakah mereka berjejalan di dalam ruangan, atau hal – hal seperti itu.

Ketika Anda berbicara tentang pendidikan dan teknologi, saya menemukan di literatur bahwa hal – hal seperti situs, lingkungan yang kolaboratif — yang telah Anda dengar pagi hari tadi — selalu diujicoba pertama kali di sekolah – sekolah terbaik, sekolah – sekolah terbaik di kota, dan menurut saya, hasilnya berat sebelah. Literatur – khususnya, literatur ilmu pengetahuan, secara konsisten menyalahkan teknologi edukasi (TE) yang terlalu dilebih-lebihkan dan memiliki tingkat keberhasilan yang rendah Para guru selalu bilang, “Wah, teknologinya bagus, tapi terlalu mahal.” karena TE selalu diujicoba di sekolah dimana para muridnya telah mendapatkan katakanlah, 80 persen dari apa yang dapat mereka lakukan. Anda aplikasikan teknologi terbaru, dan katakanlah sekarang mereka mendapat 83 persen. Jadi kepala sekolah melihat hasilnya dan berkata, 300,000 dollar untuk 3 persen? Lupakan saja. Kalau Anda menggunakan teknologi yang sama dan diujicobakan di salah satu dari sekolah terpencil, dimana nilainya hanya 30, dan katakanlah, meningkat menjadi 40, akan menjadi hal yang sama sekali berbeda. Jadi perubahan secara relatif yang dapat dilkukan TE akan lebih besar pada bagian bawah piramid daripada bagian atas, tapi kita kelihatannya melakukannya secara terbalik.

Jadi saya sampai pada kesimpulan bahwa TE harus menjangkau mereka yang kekurangan terlebih dahulu, bukan sebaliknya. Dan akhirnya kita sampai pada pertanyaan, bagaimana mengatasi persepsi guru? Kapanpun Anda pergi ke seorang guru dan menunjukkan sebuah teknologi reaksi pertama seorang guru adalah, Anda tidak bisa menggantikan seorang guru dengan mesin — itu mustahil. Saya tidak tahu mengapa hal itu mustahil, tapi, walau untuk sesaat, jika Anda memang beranggapan bahwa itu mustahil — saya mempunyai kutipan dari Sir Arthur C. Clarke, seorang penulis fiksi ilmiah yang saya temui di Kolombo, dan dia mengatakan sesuatu yang akan menyelesaikan masalah ini. Dia berkata seorang guru yang bisa digantikan oleh mesin harus digantikan oleh mesin. Ini meletakkan guru pada posisi yang sukar. Jadi saya mengajukan proposal bahwa sebuah pendidikan dasar alternatif, alternatif apapun yang Anda inginkan, diperlukan di mana tidak ada sekolah. di mana sekolah tidak cukup baik, di mana tidak ada guru atau di mana guru – gurunya tidak cukup baik, apapun alasannya. Jika Anda kebetulan hidup di daerah di mana semua hal ini tidak berlaku, maka Anda tidak perlu pendidikan alternatif. Sejauh ini saya belum menemukan daerah seperti itu, kecuali pada satu kasus. Saya tidak akan menyebutkan tempatnya, tetapi di suatu tempat dimana orang – orang berkata, ” Kami tidak punya masalah seperti itu, karena kami memiliki guru dan sekolah yang sempurna.” Ada daerah seperti itu, tetapi – saya tidak pernah mendengarnya di tempat lain.

Saya akan berbicara tentang anak – anak dan swa organisasi, dan ada satu percobaan yang mengarah kepada ide ini tentang seperti apa kemungkinannya bentuk pendidikan alternatif itu. Sesuatu yang disebut eksperimen lubang di dinding. Saya harus menjelaskannya secara cepat. Ini adalah serangkaian eksperimen. Yang pertama dilakukan di New Delhi tahun 1999. Dan apa yang kami lakukan di sana cukup sederhana. Kantor saya pada waktu itu berbatasan dengan sebuah daerah kumuh, jadi ada sebuah dinding pemisah antara kantor kami dengan daerah kumuh itu. Mereka membuat lubang pada dinding itu — sehingga nama proyek ini ” Lubang di Dinding” — dan meletakkan sebuah komputer yang cukup canggih pada lubang itu, terpasang pada dinding, sehingga monitornya menghadap belahan dinding yang lain, sebuah touchpad juga dipasang pada dinding, lalu dihubungkan pada internet yang cepat, dengan Internet Eksplorer disana, lalu membuka Altavista.com – dan membiarkannya..

Dan ini yang kami lihat. Itu kantor saya. Inilah lubang di dinding. Dan sekitar delapan jam kemudian kami menemukan anak ini. Di sebelah kanan ada anak berumur 8 tahun dan di sebelah kirinya ada anak perempuan berumur enam tahun yang tidak begitu tinggi Dan apa yang dilakukan anak laki – laki itu adalah mengajar si anak perempuan untuk menjelajah Jadi ini memunculkan pertanyaan lebih daripada menjawab pertanyaan. Apakah ini benar? Apakah bahasa penting, karena dia seharusnya tidak dapat berbahasa Inggris? Apakah komputer itu akan bertahan, atau akankah mereka menghancurkannya dan mencurinya, — dan apakah ada orang yang mengajari mereka? Pertanyaan terakhir adalah apa yang dikatakan semua orang, “Mereka pasti pergi ke balik dinding dan bertanya kepada orang – orang di kantor Anda.” “Bisakah Anda tunjukkan kepadaku bagaimana caranya?”, dan lalu seseorang mengajarkannya kepada mereka

Lalu saya membawa eksperimen itu keluar dari Delhi dan mengulanginya, Kali ini di sebuah kota yang disebut Chifpuri, di tengah India, dimana saya yakin tidak ada orang yang pernah mengajarkan kepada siapapun tentang apapun (Suara tawa) Hari itu hari yang hangat, dan “Lubang di Dinding” ada di dinding yang tua itu. Inilah anak pertama yang datang ke sini. ternyata dia adalah seorang anak putus sekolah yang berumur 13 tahun. Dia datang ke sini dan mulai mengutak-atik dengan touchpad Dengan cepat dia mengetahui bahwa ketika dia menggerakkan jarinya pada touchpad sesuatu bergerak di layar — dia kemudian berkata kepada saya, “Saya tidak pernah melihat televisi di mana Anda dapat melakukan sesuatu.” Jadi dia memahaminya. Dia membutuhkan waktu dua menit untuk memahami bahwa dia sedang melakukan sesuatu dengan televisinya. Lalu, ketika dia sedang melakukan itu, dengan tidak sengaja mengklik dengan menekan touchpad — Anda akan melihat dia melakukan itu. Dia menekannya, dan Internet Explorer berganti laman. Delapan menit kemudian, dia melihat dari tangannya ke layar, dan dia sedang menjelajah kesana kemari Ketika hal itu terjadi, dia mulai memanggil anak – anak di sekitar daerah itu mereka kemudian datang dan melihat apa yang terjadi di sana. Dan pada sore hari itu, 70 anak – anak semuanya menjelajah. Jadi delapan menit dan sebuah komputer yang terpasang sepertinya hanya itulah yang kita butuhkan.

Jadi kami pikir inilah yang terjadi bahwa anak – anak di dalam kelompok dapat saling mengajarkan kepada mereka sendiri cara menggunakan sebuah komputer dan internet. Tetapi dalam kondisi apa? Dan kali ini pertanyaannya adalah tentang bahasa Inggris. Orang bilang, Anda harus menggunakan bahasa India lalu aku berkata, haruskah saya menerjemahkan internet ke dalam bahasa India? Itu tidak mungkin. Jadi itu harus sebaliknya. Lalu kita lihat, bagaimana anak – anak itu mengatasi bahasa Inggris Saya mengadakan eksperimen ini di timur laut India, ke sebuah desa bernama Madantusi dimana, untuk beberapa sebab, tidak ada guru bahasa Inggris, jadi anak – anak sama sekali tidak belajar bahasa Inggris. Dan saya membangun lubang di dinding yang sama. Satu perbedaan besar antara desa dan kota adalah ada lebih banyak anak perempuan daripada anak laki – laki yang datang ke kios. Di kota, anak – anak perempuan cenderung menjauh. Saya meninggalkan komputer dengan banyak CD – saya tidak mempunyai koneksi internet – dan kembali tiga bulan kemudian. Ketika saya kembali ke sana, saya menemukan dua anak, 8 dan 12 tahun, sedang bermain game di komputer. Dan begitu mereka melihat saya mereka berkata, kami butuh prosesor yang lebih cepat dan petikus yang lebih canggih. (Suara tawa) Saya benar – benar terkejut. Bagaimana cara mereka mengetahui semua ini? Dan mereka berkata, ” Kami mempelajarinya dari CD” Lalu saya berkata, “Tetapi bagaimana caranya kamu isinya?” Kata mereka, ” Anda meninggalkan mesin ini yang hanya berbicara dalam bahasa Inggris, jadi kami harus belajar bahasa Inggris. Lalu saya menghitung, mereka menggunakan 200 kosa kata Inggris satu sama lain — salah eja, tapi penggunaannya benar — kata – kata seperti ‘exit’, ‘stop’, ‘find’, ‘save’, dan sejenisnya, tidak hanya berhubungan dengan komputer tetapi juga percakapan sehari – hari mereka. Jadi Madantusi kelihatannya menunjukkan bahwa bahasa bukanlah halangan, pada kenyatannya mereka mampu belajar bahasa itu sendiri jika mereka benar – benar mau.

Akhirnya, saya mendapat dana untuk mencoba eksperimen ini untuk melihat apakah hasilnya dapat diulangi, apakah hal ini terjadi dimana saja. India adalah tempat yang bagus untuk melakukan percobaan ini karena kita memiliki beragam etnik, beragam genetik, beragam ras, dan juga beragam kondisi sosial ekonomi. Jadi saya dapat memilih sampel yang cukup untuk mewakili seluruh dunia. Jadi saya melakukan ini selama hampir 5 tahun, dan eksperimen ini benar – benar membawa kami menjelajahi India. Ini adalah Himalaya. Tinggi di utara, sangat dingin. Saya juga harus menguji atau menemukan teknik rekayasa agar dapat bertahan di luar ruangan, dan saya menggunakan komputer yang biasa jadi karena memiliki iklim yang berbeda, India juga bagus. Karena kita memiliki tempat yang sangat dingin, sangat panas, dan sebagainya. Ini adalah gurun di daerah barat, dekat dengan perbatasan Pakistan. Dan kamu bisa lihat di sini, sebuah klip pendek – salah satu dari desa ini – hal pertama yang dilakukan anak – anak ini adalah menemukan sebuah situs untuk mengajari mereka huruf Inggris.

Dan ke bagian tengah India — sangat hangat, lembab, desa – desa nelayan dimana kelembaban adalah ancaman utama barang elektronik. Jadi kami harus memecahkan semua masalah yang kita hadapi tanpa pendingin ruangan dan dengan listrik yang sangat kecil, biasanya solusinya adalah menggunakan hembusan udara kami meletakkan pada tempat yang tepat agar mesinnya tetap berjalan. Singkat cerita, kami melakukan ini berulang kali. Hal ini juga menarik. Ini adalah seorang anak kecil, enam tahun, sedang mengajari kakak tertuanya apa yang harus dilakukan. Dan ini sangat sering terjadi pada komputer – komputer ini, anak – anak yang lebih muda mengajar anak – anak yang lebih tua.

Apa yang kita temukan? Kita menemukan bahwa anak umur 6 – 13 dapat belajar sendiri di lingkungan yang terhubung, tanpa memandang apapun yang dapat kita ukur. Jadi jika mereka memiliki akses ke komputer, mereka akan mengajari diri mereka sendiri, termasuk kepintaran. Saya tidak dapat menemukan hubungan dengan apapun, tapi hal ini harus dilakukan dalam kelompok. Dan itu mungkin berhubungan erat dengan kepentingan kelompok ini. karena kalian semua berbicara tentang kelompok. Jadi ini adalah kekuatan dari apa yang sekelompok anak kecil dapat lakukan kalau tidak ada campur tangan orang dewasa.

Sedikit gambaran tentang pengukuran. Kami menggunakan teknik statistik standar, jadi saya tidak akan berbicara tentang itu. Tetapi kami mendapat kurva pembelajaran yang bersih, hampir sama persis dengan apa yang akan Anda dapatkan di sekolah. Saya akan berhenti di sini karena hal ini sudah mengatakan semuanya, bukan? Apa yang dapat mereka pelajari? Fungsi dasar Windows, menjelajah, melukis, berchatting ria dan mengirim email, permainan dan materi edukasi, mengunduh musik, memutar video. Singkatnya, apa yang kita semua lakukan. Dan lebih dari 300 anak akan menjadi melek komputer dan dapat melakukan semua hal ini dalam 6 bulan dengan satu komputer.

Jadi bagaimana cara mereka melakukannya? Jika Anda menghitung waktu akses yang sebenarnya dari tiap anak, hasilnya beberapa menit dalam sehari, jadi bukan itu yang terjadi. Yang terjadi sebenarnya adalah seorang anak mengoperasikan komputer. Dan dikelilingi oleh 3 anak lainnya yang mengarahkan dia tentang apa yang seharusnya mereka lakukan. Jika Anda menguji mereka, keempat anak itu akan mendapatkan nilai yang sama dalam semua tes. Di sekeliling empat anak ini biasanya sekelompok anak yang berjumlah kira – kira 16 orang yang juga menunjukkan, biasanya salah, tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam komputer. Dan semuanya juga akan lulus dari tes yang diberikan pada topik yang bersangkutan. Jadi mereka belajar dengan mengamati sebanyak apa yang mereka pelajari dengan praktek. Ini sepertinya berlawanan dengan cara belajar orang dewasa, tetapi ingat, anak umur delapan tahun hidup dalam masyarakat dimana sebagian besar waktu mereka diberitahu, ” jangan lakukan ini” “Jangan sentuh botol wiski!” Jadi apa yang dilakukan anak berumur delapan tahun itu? Mengamati dengan sangat hati – hati bagaimana sebuah botol whiski seharusnya disentuh. Dan jika Anda menguji dia, dia akan menjawab dengan benar setiap pertanyaan tentang topik itu. Jadi sepertinya mereka belajar dengan sangat cepat.

Jadi apa kesimpulan dari hasil pekerjaan selama enam tahun? Bahwa pendidikan dasar dapat berlangsung sendiri, atau sebagian dari pendidikan dasar dapat berlangsung sendiri. Tidak harus diterapkan dari atas ke bawah. Mungkin dapat menjadi sistem swaorganisasi dan potongan kedua yang saya ingin katakan pada Anda, bahwa anak – anak bisa mengatur dirinya sendiri dan memperoleh sebuah tujuan pendidikan.

Potongan ketiga adalah mengenai nilai – nilai, dan sekali lagi, secara singkat, saya melakukan sebuah tes kepada 500 anak – anak di seluruh India. dan bertanya kepada mereka – saya memberikan kepada mereka 68 pertanyaan berbeda mengenai nilai – nilai dan meminta pendapat mereka. Hasilnya adalah segala bentuk pendapat.Iya, tidak, atau saya tidak tahu. Saya ambil pertanyaan – pertanyaan yang hasilnya 50 persen iya dan 50 persen tidak. Saya berhasil memperoleh 16 pernyataan seperti itu. Ini adalah area dimana anak – anak benar bingung, karena setengah bilang iya dan setengah tidak. Salah satu contohnya adalah, ” kadang – kadang bohong itu perlu” Mereka tidak memiliki cara untuk menentukan cara menjawabnya; mungkin tidak satu pun dari kita yang tahu. Jadi saya akan meninggalkan Anda dengan pertanyaan ketiga. Dapatkah teknologi mengubah cara menerima nilai-nilai? Akhirnya, sistem swa organisasi, yang sekali lagi saya tidak akan berkata terlalu banyak karena kalian telah mendengarnya. Semua sistem alami bersifat swaorganisasi: galaksi, molekul, sel, makhluk hidup, masyarakat — kecuali debat tentang sang pencipta yang cerdas. Tetapi pada saat ini, selama berhubungan dengan ilmu pengetahuan, sifatnya swaorganisasi. Contoh lain adalah kemacetan, pasar saham, masyarakat dan pemulihan bencana, aksi teror, dan pemberontakan. Dan Anda tahu tentang sistem swaorganisasi berbasis internet.

Jadi ini adalah empat kalimat saya. Keterpencilan mempengaruhi kualitas pendidikan. Teknologi edukasi harus terlebih dahulu diperkenalkan pada daerah yang terpencil dan kemudian daerah yang lain. Nilai-nilai diperoleh; doktrin dan dogma ditanamkan — keduanya memiliki mekanisme yang berlawanan. Dan proses belajar paling mungkin adalah sistem swaorganisasi. Jika jika kita menggabungkannya maka hasilnya — menurut saya — memberikan kita sebuah tujuan, visi, untuk teknologi edukasi. Sebuah teknologi edukasi dan pengajaran yang digital, otomatis, tidak terpengaruh kesalahan, tidak invasif, tersambung dan swaorganisasi. Sebagai seorang ahli pendidikan, kita tidak pernah meminta teknologi; kita terus meminjamnya. PowerPoint seharusnya dipertimbangkan sebagai teknologi edukasi yang hebat, tetapi itu tidak dibuat untuk edukasi, itu dibuat untuk membuat presentasi saat rapat. Kita meminjamnya. Konferensi dengan video. Komputer pribadi. Saya pikir ini saatnya ahli pendidikan membuat spesifikasi mereka sendiri, dan saya memiliki seperangkat spesifikasi. Ini singkatnya. Spesifikasi ini harus menghasilkan teknologi yang memperhatikan masalah keterpencilan, nilai – nilai, dan kekerasan. Jadi saya pikir saya harus memberikannya nama — bagaimana kalau kita sebut sebagai ” out-doctrination” (doktrinasi keluar) Dan dapatkah ini menjadi tujuan dari teknologi edukasi di masa depan saya ingin membiarkan Anda memikirkan pertanyaan ini.

Terima kasih.

Sugata Mitra: The child-driven education

“Education is a self-organizing system, where learning is an emergent phenomenon.” (Sugata Mitra)

Pernyataan di atas itu sepertinya sangat jelas Saya memulainya dengan pernyataan itu 12 tahun yang lalu dan saya memulainya dalam konteks negara berkembang tapi, anda yang sekarang ada disini, berasal dari berbagai penjuru dunia Jadi, jika anda melihat peta negara anda, saya pikir anda akan menyadari bahwa pada tiap negara di bumi ini, anda dapat membuat lingkaran-lingkaran kecil dan berkata, “Inilah tempat-tempat dimana tidak terdapat guru-guru yang bagus” Di atas itu semua, dari tempat-tempat itulah berbagai masalah muncul. Jadi, kita memiliki masalah yang ironis. Guru-guru yang bagus tidak mau mengajar di tempat-tempat dimana keberadaan mereka sangat dibutuhkan.

Saya memulainya pada tahun 1999 untuk mencoba memecahkan masalah tersebut dengan sebuah eksperimen yang sangat sederhana di New Delhi. Yakni, saya hanya menempatkan sebuah komputer pada dinding sebuah daerah kumuh di New Delhi. Anak-anak disitu tidak bersekolah. Mereka tidak mengerti sedikit pun Bahasa Inggris. Mereka tidak pernah melihat komputer sebelumnya, dan mereka tidak tahu internet. Saya menyambungkan komputer tersebut dengan internet berkecepatan tinggi — dipasang kira-kira setinggi 1 meter dari tanah — dan saya menyalakannya dan meninggalkannya disitu. Setelah itu, kami menemukan beberapa hal yang menarik yang akan anda lihat. Saya melakukan eksperimen seperti ini lagi di berbagai daerah di India dan kemudian hingga ke belahan dunia lain dan menemukan bahwa anak-anak akan belajar melakukan apa yang ingin mereka pelajari untuk dilakukan.

Ini adalah eksperimen pertama saya — anak lelaki berusia delapan tahun, yang di sebelah kanan itu sedang mengajarkan siswanya, seorang anak perempuan berusia enam tahun, dia sedang mengajarkan bagaimana melakukan browsing. Anak lelaki ini tinggal di India bagian tengah — yakni di Rajashtan Village, dimana anak-anak belajar merekam musik mereka sendiri dan memainkannya berulang-ulang satu sama lain, dan dalam proses ini, mereka mampu menghibur diri mereka sendiri. Mereka melakukan semua itu dalam waktu empat jam sejak mereka melihat komputer untuk pertama kalinya. Di sebuah desa lain di selatan India, anak-anak ini memasang sebuah kamera video dan mencoba mengambil photo seekor lebah. Mereka mengunduhnya dari Disney.com atau situs-situs lainnya, 14 hari setelah komputer tersebut dipasang di kampung mereka. Jadi, setelah eksperimen tersebut, kami menyimpulkan bahwa kelompok anak-anak dapat belajar menggunakan komputer dan internet dengan sendirinya, siapapun atau dimanapun mereka berada

Saat itu, saya menjadi semakin ambisius dan kemudian ingin mencari tahu apalagi yang dapat anak-anak lakukan dengan komputer. Kami memulai sebuah eksperimen di Hyderabad, India, dimana saya memberikan komputer pada sekelompok anak — mereka berbicara Bahasa Inggris dengan aksen Telugu yang sangat kental. Saya memberikan mereka sebuah komputer yang memiliki kemampuan untuk memunculkan teks dari ucapan yang dapat anda peroleh dengan gratis di Windows, dan saya meminta mereka berbicara pada komputer itu. Lalu, ketika mereka berbicara pada komputer tersebut, komputer itu akan otomatis mengetik kata yang mereka ucapkan namun melantur dan mereka berkata, “Komputer itu tidak mengerti apapun yang kami ucapkan.” Lalu saya katakan, “Yah, saya akan meninggalkan komputer ini selama dua bulan disini. Belajarlah bagaimana caranya komputer itu memahami ucapan kalian.” Anak-anak itu berkata, “Bagaimana kami melakukannya.” Dan saya bilang, “Sebenarnya, saya juga tidak tahu bagaimana caranya.” (Ketawa) Lalu saya pergi (Ketawa) Dua bulan kemudian– dan eksperimen ini dimuat di jurnal “Information Technology for International Development” — aksen anak-anak tersebut telah berubah dan mereka dengan sangat luar biasa mampu berbicara Bhs. Inggris murni dengan aksen Inggris dimana saya melatih untuk menyelaraskan ucapan dengan teks pada komputer. Dengan kata lain, mereka kini berbicara mirip seperti James Tooley. (Ketawa) Jadi, mereka mampu melakukan pembelajaran itu dengan sendirinya. Setelah itu, saya mulai melakukan eksperimen dengan berbagai hal lain dimana mereka bisa belajar dengan mandiri.

Saya mendapat panggilan telepon dari Kolombo, dari almarhum Arthur C. Clarke, yang berkata, “Saya ingin tahu apa yang terjadi.” Karena dia tidak bisa bepergian, maka saya yang menghampirinya kesana Dia menyampaikan dua hal yang menarik, “Kalau ada guru yang bisa digantikan perannya oleh mesin, maka gantikanlah.” (Ketawa) Yang kedua, dia berkata bahwa, “Jika anak-anak memiliki minat, maka pendidikan akan berjalan.” Dan saya melakukan hal tersebut langsung di lapangan, jadi setiap kali saya melakukannya dan saya mengingat dia.

Arthur C. Clarke: “Dan mesin-mesin itu benar-benar mampu menolong orang, sebab anak-anak dapat dengan cepat belajar untuk menavigasi dan mencari berbagai hal yang menarik buat mereka. Dan jika kamu memiliki minat, maka kamu memiliki pendidikan.”

Saya kemudian melakukan eksperimen tersebut di Afrika Selatan. Anak lelaki ini berusia 15 tahun.

“….. Saya bermain games ….. … seperti hewan-hewan, … .. dan mendengarkan musik…”

Saya bertanya, “Apakah kamu mengirim email?” Dia menjawab, “Ya, dan email-email itu mampu melewat samudera.” Dan ini di Kamboja, daerah pedesaan di Kamboja — sebuah permainan artimatika yang konyol, yang tak seorangpun anak mau memainkannya di kelas atau di rumah. Yah anda tahu, mereka mungkin akan melemparkan permainan itu pada anda. Dan berkata, “Permainan ini membosankan.” Namun jika anda membiarkan permainan tersebut di jalanan, dan setelah tidak ada orang dewasa disitu, maka mereka akan saling menunjukan satu sama lain kemampuan mereka dalam bermain games tersebut. Inilah yang mereka lakukan Sepertinya mereka sedang bermain perkalian. Dan di berbagai wilayah di India, setelah berjalan dua tahun, anak-anak mulai menggunakan Google untuk mengerjakan PR. Hasilnya, guru-guru melaporkan adanya peningkatan yang luar biasa pada Bahasa Inggris anak-anak itu — (Ketawa) peningkatan yang cepat dalam berbagai hal. Guru-guru berkata, “Anak-anak telah menjadi pemikir yang hebat, dan sebagainya.” (Ketawa) Dan memang seperti itu adanya. Maksud saya, jika banyak hal kita bisa temukan di Google, kenapa harus memasukan banyak hal itu ke kepala kita? Lalu, pada akhir empat tahun berikutnya, Saya menemukan bahwa anak-anak tersebut mampu melakukan navigasi internet guna mencapai tujuan pendidikan mereka sendiri.

Saat itu, saya mendapat bantuan dana yang sangat besar dari Universitas Newcastle yang ditujukan untuk membangun pendidikaan di India. Newcastle menghubungi saya. Saya bilang, “Saya akan melakukannya di Delhi.” Mereka menjawab, “Tidak mungkin kamu menggunakan jutaan Pounds uang Universitas hanya dengan berdiam di Delhi.” Lalu pada tahun 2006, Saya membeli jaket yang sangat tebal dan pergi ke Newcastle Saya ingin menguji limit dari sistem ini. Eksperimen pertama yang saya lakukan di luar Newcastle, yang sebenarnya saya lakukan di India. Saya menetapkan target baru yang sangat mustahil: dapatkah anak-anak Tamil berusia 12 tahun di sebuah kampung di selatan India belajar biotechnology dalam Bahasa Inggris dengan sendirinya? Dan saya akan menguji mereka. Dan nilai mereka, nol. Saya berikan mereka bahan pengajaran. Dan kembali saya menguji mereka. Hasilnya kembali, nol. Saya kembali dan berkata, “Yah, dalam hal tertentu, guru memang dibutuhkan.”

Saya memanggil 26 anak Mereka datang dan saya katakan ke mereka bahwa terdapat beberapa hal yang sangat sulit pada komputer ini. Saya tidak akan kaget jika kalian tidak memahami apapun. Semuanya dalam Bahasa Inggris, .. lalu saya pergi. (Ketawa) Saya tinggalkan mereka dengan komputer itu. Saya kembali dua bulan kemudian dan 26 anak itupun berbaris sambil membisu. Saya katakan, “Apakah kalian menemukan sesuatu dari komputer itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami menemukannya.” “Apakah kalian memahaminya?”. “Tidak, tak satupun.” Lalu saya berkata, “Berapa lama kalian mempelajari komputer itu sebelum kalian memutuskan bahwa kalian tak mampu memahami apapun?” Mereka menjawab, “Kami memperhatikannya setiap hari.” Saya tanya lagi, “Selama dua bulan, kalian memperhatikan komputer itu dan tak memahami apapun?” Lalu seorang anak gadis berusia 12 tahun mengangkat tangan dan berkata, dengan serius, “Selain fakta bahwa replikasi molekul DNA yang tak sesuai dapat menyebabkan penyakit genetik, kami tak memahami apapun selain itu.”

Butuh waktu tiga tahun bagi saya untuk menerbitkannya Eksperimen itu diterbitkan pada “British Journal of Educational Technology”. Salah seorang juri pada jurnal tersebut dan juga juri bagi makalah saya tersebut, berkata, “Terlalu menakjubkan untuk dapat dipercaya,” yang artinya sangat tidak baik. Salah seorang anak gadis mengajarkan dirinya sendiri untuk menjadi guru. Anak yang ini. Ingat, mereka tidak belajar Bahasa Inggris. Saya menyunting sedikit bagian akhirnya dan bertanya, “Apakah nueron itu?” dan dia berkata, “Neuron? Neuron?” Dan dia bertingkah seperti ini. Apapun ekspresinya, hal itu sangat tidak baik.

Nilai mereka meningkat dari Nol hingga 30 persen, angka yang sebenarnya mustahil mengingat kondisi pendidikan seperti itu. Tapi nilai 30 persen tetap tidak membuat mereka lulus. Dan saya melihat mereka memiliki seorang teman seorang gadis yang bekerja sebagai akuntan lokal, dan mereka sering bermain bola bersama. Saya tanyakan pada gadis itu, “Apakah kamu mau mengajarkan mereka biotekhnologi, cukup supaya mereka lulus saja?” Dia menjawab, “Bagaimana melakukannya? Saya tidak paham pelajaran itu.” Saya bilang, “Kamu cukup gunakan metode seorang nenek.” Dia bertanya, “Seperti apa itu?” Saya bilang, “Yang harus kamu lakukan hanyalah berdiri di belakang anak-anak itu dan puji mereka setiap saat. Katakan saja, ‘Wah, hebat. Bagus sekali. Apakah itu? Kamu bisa mengulanginya? Tunjukan lagi kepada saya seperti apa?”‘ Dan dia melakukan itu selama dua bulan. Dan nilai anak-anak pun meningkat jadi 50, nilai yang sama seperti yang diraih oleh anak-anak sekolah mewah di Delhi yang diajar oleh guru biotekhnologi terlatih.

Lalu saya kembali ke Newcastle, dengan hasil seperti itu, dan menyimpulkan bahwa ada sesuatu terjadi disini yang menjadi sangat serius. Dan setelah melakukan berbagai eksperimen di berbagai tempat terpencil, Saya tiba pada sebuah tempat paling terpencil yang pernah saya tahu. (Ketawa) Jaraknya sekitar 5.000 mil dari Delhi yakni kota kecil bernama Gateshead. Di Gateshead, saya mengambil 32 anak, dan mulai menjalankan metode eksperimen tersebut. Saya mengelompokkan mereka menjadi 4 siswa per kelompok Saya katakan, “Silahkan kalian buat kelompok masing-masing empat orang. Tiap kelompok dapat menggunakan satu komputer, bukan empat komputer.” Ingat, satu komputer seperti yang saya pasang di dinding daerah kumuh itu. “Kalian dapat bertukar kelompok. Kalian dapat berpindah ke kelompok lain jika kalian tidak suka kelompok kalian, dan sebagainya. Kalian boleh pergi ke kelompok lain, intip pekerjaan mereka, perhatikan apa yang mereka lakukan, lalu kembali ke kelompok kalian dan akui bahwa pekerjaan itu hasil kerja kelompok kalian.” Saya jelaskan pada mereka, bahwa banyak riset ilmiah dijalankan dengan metode ini.

Anak-anak itu nampak senang sekali dan berkata, “Apa yang harus kami lakukan?” Saya berikan mereka pertanyaan GCSE (Soal ujian untuk anak usia 14-16 tahun di Inggris) Kelompok pertama, kelompok yang terbaik, mampu menjawab pertanyaan dalam waktu 20 menit. Dan kelompok terjelek mampu menjawab dalam waktu 45 menit. Mereka menggunakan semua media yang mereka tahu — newsgroup, Google, Wikipedia, “Ask Jeeves”, dan lain-lain. Guru mereka bertanya, “Apakah ini pembelajaran yang mendalam?” Saya jawab, “Ya mari kita coba.” Saya kembali lagi setelah dua bulan Saya berikan mereka ujian tulis — tanpa komputer, tanpa kerjasama satu sama lain, dsb.” Rata-rata skor mereka ketika mengerjakan tes dengan komputer dan berkelompok adalah 76 persen. Ketika saya melakukan eksperimen ini, ketika saya melakukan tes ini, setelah dua bulan, skor mereka tetap … 76 persen. Ada semacam penghafalan pada anak-anak tersebut, saya mencurigai demikian karena mereka saling berbicara satu sama lain. Seorang anak yang bekerja di depan sebuah komputer tidak akan melakukan hafalan Saya menemukan hasil lanjutan yang hampir sulit untuk dipercaya, dimana skor mereka naik setiap waktu. Karena guru mereka berkata bahwa setelah sesi belajar selesai, anak-anak tetap menggunakan Google.

Disini, di Inggris, saya menelepon para nenek, setelah eksperimen Kuppam. Dan anda tahu, nenek-nenek di Inggris itu sangat penuh semangat 200 orang dari mereka kemudian mau jadi sukarelawan. (Ketawa) Perjanjiananya adalah bahwa mereka harus mencurahkan waktu satu jam duduk di rumah masing-masing sehari dalam sepekan. Dan mereka melakukannya, Dan selama dua tahun terakhir, lebih dari 600 pengajaran terjadi melalui Skype, menggunakan apa yang siswa saya sebut dengan “Granny Cloud” (Nenek yang mengajar) . Para “Granny Cloud” tersebut duduk di seberang sana. Saya dapat menyambungkan mereka ke sekolah manapun yang saya mau.

Guru: You can’t catch me (kamu tidak bisa menangkap saya). Katakan. You can’t catch me

Anak-anak: You can’t catch me

Guru: I’m the gingerbread man (saya adalah lelaki kue jahe).

Anak-anak: I’m the gingerbread man.

Guru: Bagus sekali…

Kembali ke Gateshead, seorang anak gadis berusia 10 tahun berbicara tentang inti agama Hindu selama 15 menit. Hal-hal tentang Hindu yang sebenarnya saya juga tidak paham. Dua anak ini menonton video-video di TEDTalk. Awalnya mereka ingin menjadi pemain sepakbola. Setelah menonton 8 video TEDTalks, dia ingin menjadi Leonardo da Vinci.

Sangat sederhana.

Inilah yang saya bangun saat ini. Mereka menyebutnya SOLEs: Self Organized Learning Environments (Lingkungan Belajar yang Mandiri). Furniture ini dirancang supaya anak-anak dapat duduk di depan layar yang besar, dengan koneksi internet berkecepatan tinggi, namun mereka harus berkelompok. Jika mereka mau, mereka dapat menghubungi Granny Cloud. Ini adalah SOLE di Newcastle. Mediatornya dari India.

Seberapa jauh yang bisa kami capai? Saya akan bahan satu hal lagi sebelum saya menghentikan percakapan ini. Saya pergi ke Torino di bulan Mei. Saya meminta semua guru menjauhi siswa saya, sekelompok siswa berusia 10 tahun. Saya hanya berbicara dalam Bahasa Inggris, sementara mereka hanya bisa berbicara Bahasa Italia, artinya kami tidak bisa saling berkomunikasi. Saya memulai pelajaran dengan menuliskan sebuah pertanyaan dalam Bahasa Inggris di papan tulis Anak-anak itu melihatnya dan berkata, “Apakah itu?” Saya jawab, “Kerjakan saja.” Dan anak-anak tersebut mengetik pertanyaan itu di Google dan menerjemahkannya ke Bahasa Italia kembali ke Google dalam Bahasa Italia. 15 menit kemudian … Pertanyaannya adalah: Where is Calcutta? Untuk menjawab pertanyaan ini, mereka hanya butuh waktu 10 menit. Saya mencoba pertanyaan yang lebih sulit. Siapa Pitagoras dan apa yang dia temukan? Anak-anak itu terdiam sesaat, dan lalu berkata,”Anda salah menuliskan namanya. seharusnya Pitagora.” Lalu, dalam waktu 20 menit, gambar segitiga muncul di layar. Hal ini membuat bulu roma saya berdiri. Mereka adalah anak-anak berusia 10 tahun. Dalam waktu 30 menit, mereka mampu menemukan Teori Relatifitas. Lalu?

Anda tahu apa yang sebenarnya terjadi? Saya pikir kita baru saja melewati sebuah sistem yang otonom. Sistem yang otonom adalah sistem dimana sebuah struktur muncul tanpa intervensi eksplisit dari luar. Sistem yang otonom juga selalu muncul dengan cara dimana sistem tersebut mulai melakukan banyak hal, yang sebenarnya tidak dirancang untuk menjadi seperti itu. Itu sebabnya kenapa anda berekasi seperti ini, karena hal itu tampak mustahil. Saya pikir kita bisa menebak sekarang. Pendidikan adalah sebuah sistem yang otonom, dimana pembelajaran merupakan sebuah fenomena yang muncul. Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk membuktikannya, melalui eksperimen, tapi saya akan mencobanya. Namun sementara ini, terdapat sebuah metode tersedia. Satu juta anak, kita butuh 100 juta mediator — ada lebih banyak lagi dari itu di planet ini — 10 juta SOLE, 180 miliar Dollar dalam waktu 10 tahun. Kita mampu merubah segala hal.

Terima kasih

David Kelley: How to build your creative confidence

“That opting out [of creativity] that happens in childhood … moves in and becomes more ingrained by the time you get to adult life.”(David Kelley)

Hari ini saya ingin berbicara tentang kepercayaan diri kreatif. Saya akan mulai dari kisah saat saya kelas 3 SD di Sekolah Oakdale di Barberton, Ohio.

Saya ingat suatu hari sahabat saya Brian mengerjakan proyek. Dia membuat kuda dari tanah liat yang ditaruh di bawah wastafel oleh guru kami. Dan suatu ketika, seorang siswi yang duduk di mejanya melihat apa yang dia lakukan, dia bersandar dan berkata, “Jelek sekali. Sama sekali tidak terlihat seperti kuda.” Bahu Brian langsung terbenam. Dia meremas kuda tanah liat itu dan melemparnya ke tempat sampah. Saya tidak pernah melihat Brian mengerjakan proyek seperti itu lagi.

Saya penasaran seberapa sering hal itu terjadi. Tampaknya saat saya menceritakan kisah Brian ini pada siswa saya, banyak orang akan datang setelah kelas selesai dan mengatakan pengalaman mereka yang serupa, bagaimana ada guru mematikan rasa percaya diri mereka atau bagaimana ada siswa yang sangat kejam pada mereka. Beberapa memilih untuk menganggap diri mereka tidaklah kreatif sejak saat itu. Dan saya melihat pilihan yang diambil pada masa anak-anak, masuk dan menjadi semakin tertanam bahkan hingga Anda dewasa.

Kita banyak melihat hal ini. Saat saya mengadakan lokakarya atau saat ada pelanggan yang bekerja berdampingan dengan kita pada akhirnya kita sampai pada saat yang tidak jelas atau tidak biasa. Dan akhirnya para eksekutif besar itu mengeluarkan Blackberry mereka dan berkata mereka harus menelepon karena ada hal penting, dan mereka melangkah keluar. Dan mereka menjadi begitu tidak nyaman. Saat kami melacak mereka dan menanyakan apa yang terjadi, mereka berkata, “Saya bukan orang yang kreatif.” Namun kita tahu itu tidak benar. Jika mereka tetap meneruskannya, pada akhirnya mereka akan melakukan hal yang hebat yang mengejutkan diri mereka sendiri betapa inovatifnya mereka dan tim mereka.

Saya telah mempelajari ketakutan akan penilaian orang dalam diri kita. Bahwa Anda tidak melakukan hal karena takut Anda akan dinilai buruk. Jika Anda tidak mengatakan hal kreatif yang tepat, Anda akan dinilai buruk. Saya mendapat terobosan besar saat bertemu dengan psikolog Albert Bandura,

saya tidak tahu apa Anda kenal Albert Bandura. Jika anda mencari di Wikipedia, dikatakan dialah psikolog terpenting nomor 4 dalam sejarah — seperti Freud, Skinner, entah siapa, dan Bandura. Bandura berusia 86 tahun dan masih bekerja di Stanford. Dia pria yang sangat menyenangkan.

Saya menemuinya karena dia sudah lama bekerja pada fobia, bidang yang bagi saya menarik. Dia telah mengembangkan cara, metodologi, yang akhirnya dapat menyembuhkan orang dalam waktu singkat. Dia banyak menyembuhkan orang dengan fobia dalam 4 jam. Kita berbicara tentang ular. namun kita berbicara tentang ular dan fobia akan ular.

Dan hal itu sangat menyenangkan, sangat menarik. Dia mengatakan bahwa dia mengundang orang itu dan berkata, “Anda tahu, ada ular di ruangan sebelah dan kita akan pergi ke sana.” Di mana dia melaporkan, sebagian besar menjawab, “Tidak. Sudah pasti saya tidak akan ke sana kalau ada ular di sana.”

Namun Bandura memiliki langkah-langkah yang sangat sukses. Dia mengajak orang-orang ini menuju cermin dua arah untuk melihat ruangan di mana ular itu berada, dan dia membuat orang-orang itu merasa nyaman. Lalu dengan beberapa langkah, mereka pindah dan mereka berdiri di jalan dengan pintu terbuka dan mereka melihat ke dalam. Dan dia membuat orang-orang itu merasa nyaman. Lalu beberapa langkah kecil berikutnya, mereka ada di dalam ruangan itu dengan sarung tangan kulit seperti milik tukang las, dan akhirnya mereka menyentuh ular itu. Saat mereka menyentuh ular itu, sebenarnya, semuanya lebih baik lagi. Orang-orang ini yang seumur hidupnya takut pada ular mengatakan hal-hal seperti, “Betapa cantiknya ular itu.” Dan mereka memeluknya di pangkuan mereka.

Bandura menyebut proses ini, “penguasaan yang dipandu.” Saya suka kutipan itu: penguasaan yang dipandu. Dan ada hal lain yang terjadi, orang-orang yang mengikuti proses ini dan menyentuh ular itu akhirnya menjadi kurang takut akan hal-hal lainnya dalam hidup mereka. Mereka mencoba lebih keras dan lebih tekun dan mereka lebih tabah dalam menghadapi kegagalan. Mereka mendapat kepercayaan diri yang baru. Dan Bandura menyebutnya “kepercayaan akan kemahiran diri sendiri” — perasaan bahwa Anda dapat mengubah dunia dan dapat meraih apa yang Anda harus lakukan.

Pertemuan dengan Bandura benar-benar membebaskan saya karena saya menyadari ilmuwan terkenal ini telah mendokumentasikan dan mengesahkan secara ilmiah sesuatu yang kita lihat bersama selama 30 tahun terakhir. Bahwa kita dapat mengajak orang yang takut dirinya tidak kreatif dan membawa mereka melalui serangkaian langkah, semacam rangkaian kesuksesan kecil, dan mereka mengubah ketakutan menjadi keakraban, lalu mengejutkan diri mereka sendiri. Perubahan ini sungguh luar biasa.

Kita melihatnya di d.school setiap saat. Orang-orang dari berbagai disiplin ilmu, mereka berpikir diri mereka hanyalah analitis. Mereka datang dan menjalani proses ini, proses kami, mereka membangun kepercayaan diri dan kini mereka melihat diri mereka secara berbeda. Mereka benar-benar puas secara emosional akan kenyataan dan anggapan bahwa diri mereka adalah orang yang kreatif.

Jadi, saya pikir salah satu yang akan saya lakukan hari ini adalah membawa Anda dan menunjukkan seperti apa perjalanan ini. Bagi saya, perjalanan ini seperti Doug Dietz. Doug Dietz adalah teknisi. Dia merancang alat pemindaian medis, alat pemindaian medis yang besar. Dia bekerja di GE dan memiliki karir yang hebat. Namun pada suatu ketika dia menghadapi krisis.

Dia berada di rumah sakit dan melihat salah satu mesin MRInya digunakan saat dia melihat keluarga muda. Ada seorang gadis kecil, yang menangis dan takut. Dan Doug sangat kecewa saat mengetahui bahwa hampir 80 persen pasien anak-anak di rumah sakit ini harus dibius untuk dimasukkan ke dalam mesin MRInya. Hal ini sangat mengecewakan bagi Doug, karena sebelumnya dia merasa bangga akan apa yang telah dia lakukan. Dia menyelamatkan banyak nyawa dengan mesin ini. Namun benar-benar menyakitkan baginya melihat anak-anak yang ketakutan karena mesin ini.

Saat itu dia sedang kuliah di d.school di Stanford. Dia belajar tentang proses kami tentang perancangan berpikir, empati, dan prototip iteratif. Dan dia ingin mengambil pengetahuan baru ini dan melakukan sesuatu yang cukup luar biasa. Dia akan merancang ulang seluruh pengalaman dari pemindaian. Dan inilah yang dia buat.

Dia mengubahnya menjadi petualangan bagi anak-anak. Dia menggambar dinding dan mesinnya, dan dia meminta para operatornya dilatih oleh orang yang paham akan anak-anak seperti orang-orang di museum anak-anak. Kini saat anak-anak itu datang, ini menjadi sebuah pengalaman. Mereka mengatakan tentang kebisingan dan gerakan kapal. Dan saat anak-anak datang, mereka berkata, “Baiklah, kau akan naik ke kapal bajak laut namun diamlah karena kita tidak mau kau ditemukan oleh bajak laut.”

Dan hasilnya sangat luar biasa. Dari 80 persen anak-anak yang harus dibius, menjadi sekitar 10 persen yang masih harus dibius. Rumah sakit dan GE juga gembira. Karena Anda tidak harus memanggil ahli bius setiap saat, ada lebih banyak anak yang bisa masuk ke mesin itu setiap harinya. Jadi hasil kuantitatifnya bagus. Namun hasil kerja Doug yang paling dia pedulikan jauh lebih bersifat kualitatif. Dia bersama salah satu para ibu yang menunggui anaknya yang sedang dipindai. Dan saat si gadis kecil itu keluar dia berlari ke ibunya dan berkata, “Ibu, bisa kita kembali lagi besok?”

Saya mendengar Doug bercerita tentang perubahan pribadinya berkali-kali dan terobosan dari rancangan sebagai hasil dari hal itu, namun saya tidak pernah melihatnya bercerita tentang gadis kecil itu tanpa mengeluarkan air mata.

Kisah Doug terjadi di rumah sakit. Saya tahu beberapa hal mengenai rumah sakit. Beberapa tahun lalu saya merasakan benjolan di pinggir leher saya dan itulah giliran saya menggunakan mesin MRI. Ternyata itu adalah kanker yang jahat. Saya diberitahu peluang untuk bertahan hidupnya 40 persen.

Saat Anda duduk dengan para pasien lainnya dengan memakai piyama dan semua orang tampak kurus dan pucat, dan Anda menunggu giliran untuk rontgen, Anda berpikir tentang banyak hal. Pikiran yang paling banyak adalah, “Apakah saya akan sembuh?” Dan saya banyak berpikir tentang bagaimana kehidupan putri saya kelak tanpa saya? Namun Anda juga berpikir tentang hal-hal lainnya. Saya banyak berpikir tentang, apa yang harus saya lakukan bagi dunia? Apa panggilan saya? Apa yang harus saya lakukan? Dan saya beruntung karena memiliki banyak pilihan. Kami telah bekerja dalam kesehatan dan kebugaran pendidikan dari TK hingga SMA, dan di negara berkembang. Jadi ada banyak proyek yang dapat saya kerjakan. Namun saat ini saya memutuskan untuk berkomitmen pada hal yang paling ingin saya lakukan — yaitu menolong orang sebanyak mungkin, mendapat kembali kepercayaan diri kreatif mereka yang hilang di jalan. Dan jika saya bisa sembuh, itulah yang ingin saya lakukan. Sebagai informasi, saya sembuh.

Saya sungguh percaya bahwa saat orang mendapatkan kepercayaan diri — dan kami melihatnya setiap saat di d.school dan IDEO — mereka mulai bekerja pada hal-hal yang sangat penting dalam hidup mereka. Kami melihat orang-orang berhenti melakukan sesuatu dan menuju ke arah yang baru. Kami melihat mereka menemukan ide yang lebih menarik dan lebih banyak sehingga mereka dapat memilih ide yang lebih baik. Dan mereka membuat keputusan yang lebih baik.

Saya tahu di TED Anda harus memiliki hal yang mengubah dunia. Setiap orang memiliki hal yang mengubah dunia. Jika saya memiliki satu, inilah dia. Untuk membantu hal ini terjadi. Jadi saya harap Anda bergabung dalam perjalanan saya — Anda sebagai pemimpin pikiran. Sangat luar biasa jika Anda tidak membiarkan orang-orang membagi dunia antara Yang Kreatif dan Yang Tidak Kreatif, seakan itu anugerah Tuhan, dan membuat orang-orang menyadari bahwa mereka pada dasarnya kreatif. Dan orang-orang ini harus membiarkan ide mereka melambung. Mereka harus meraih apa yang disebut Bandara kemahiran diri sendiri. bahwa Anda dapat melakukan apa yang harus Anda lakukan, dan Anda dapat mencapai kepercayaan diri kreatif dan menyentuh ular itu.

Terima kasih.